73 (es krim dan berkelahi)

632 64 26
                                        

Suatu hari, Rimba mengajak Stevan turun ke ruang bawah tanah. Di sana, Dery orang yang dulu berniat menghabisinya masih hidup. Wajah Dery tampak kusut dan pasrah, matanya kosong setelah menyerahkan seluruh informasi yang ia miliki kepada Rimba. Di sisi lain, Rimba berdiri tenang, matanya dingin tapi penuh perhitungan.

“Papa,” ucap Rimba lirih, suaranya hampir tak terdengar, “aku tahu sekarang... alasan kuat kenapa Tante Adeline mengincarku.”

Stevan menoleh, matanya menyipit. Rimba menatap lurus ke depan, tidak ke ayahnya, tidak juga ke Dery. Pandangannya menggantung di udara, seperti menatap satu titik yang tak bisa dilihat orang lain.

“Dia ingin agar Mas Bryan bisa mendampingi Abang memimpin mafia. Karena di matanya... aku tidak pantas. Dia pikir aku lemah, bodoh, dan terlalu labil untuk memikul beban keluarga ini.” ujar Rimba, dengan nada berat

Rimba menarik napas berat. “Alasan semua orang menganggap aku bodoh... itu cuma alibi. Citra. Selama ini aku bermain dengan persepsi, karena instingku lebih tajam dibanding Abang atau bahkan... papa sendiri.”

Stevan tak menjawab, tapi ia mulai menajamkan pendengarannya.

Rimba melanjutkan. “Musuh besar yang sekarang mengincarku... adalah orang yang dulu hampir menghabisi Abang. Tapi saat itu, gantinya adalah nyawa mama.”

Nada suara Rimba mulai bergetar. “Jadi jika aku mati... maka langkah selanjutnya dari Adeline dan musuh-musuh itu adalah Abang. Atau mungkin... papa.”

Rimba akhirnya menoleh ke arah Stevan. “Tante Adeline mengincarku lebih dulu karena dia tahu aku satu-satunya yang bisa mencium bau darah, sebelum darah itu mengalir.”

Stevan terdiam, matanya perlahan menunduk menatap lantai ruang bawah tanah. Ada perasaan bersalah... juga ketakutan yang ia sembunyikan selama ini, kini mulai muncul ke permukaan.

"Setidaknya... walaupun aku mati dalam perang ini," lirih Rimba, suaranya nyaris patah di ujung, "maka papa, abang, atau adik bisa pergi dari negara ini... dan memulai hidup baru."

Kata-kata itu menusuk hati Stevan. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menarik tubuh putra keduanya ke dalam pelukannya. Erat. Tak peduli lagi pada dinginnya ruang bawah tanah, atau pada tatapan kosong Dery yang masih terikat di sudut ruangan.

“Jangan bicara seperti itu, Rimba...” suara Stevan dalam dan bergetar, nyaris seperti bisikan seorang ayah yang terlalu takut kehilangan.

Sebagai kepala keluarga sekaligus ketua organisasi besar, Stevan terbiasa menghadapi tekanan, kehilangan, dan kematian. Tapi memikirkan putranya sendiri harus menjadi korban permainan licik... oleh adik iparnya sendiri, Adeline... membuat darahnya mendidih.

"Papa tidak akan membiarkan kamu jadi korban dalam semua ini," ucap Stevan pelan namun tegas. "Kamu anak papa. Bukan bidak catur yang bisa dikorbankan.”

Rimba diam dalam pelukan itu. Dadanya terasa sesak, tapi juga hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama... ia merasa seperti anak-anak kembali.

Dan di dalam pelukan itu, tanpa mereka sadari, langkah baru telah dimulai. Bukan hanya tentang membalas Adeline. Tapi tentang melindungi satu-satunya hal yang tersisa yaitu keluarga.

“Rimba lebih sayang keluarga ini... daripada nyawaku sendiri, Pa,” suara Rimba terdengar tenang, tapi matanya tajam. “Tante Adeline, sejak dulu, memang ingin mas Bryan dan abang saling bekerjasama. Tapi lalu... malah aku lahir. Dan dia mulai iri. Itulah yang kudapatkan selama beberapa hari menyelidiki motif dia mengincar nyawaku.”

Stevan menatap dalam ke mata putranya, lalu mendesah panjang. Kata-kata Rimba, meskipun menyakitkan, terdengar sangat masuk akal baginya.

“Bryan telah mendapatkan sebuah perusahaan,” ujar Stevan perlahan, matanya menerawang. “Bersama ketiga adiknya. Mereka sudah punya jalur yang aman dan legal. Sementara... mafia bukan bisnis biasa, Rimba. Ini bukan warisan yang bisa begitu saja diserahkan ke siapa pun.”

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang