58 (sisi jahat!)

1K 95 6
                                        

Berbeda dengan suasana di rumah sakit tempat Stevan dan keluarganya diliputi kecemasan, di suatu tempat, beberapa orang justru tertawa puas melihat kondisi Rimba yang semakin memburuk. Mereka sama sekali tidak merasa iba sebaliknya, mereka menganggap ini sebagai hiburan.

Bagi mereka, Rimba tidak seharusnya ada. Kehadirannya hanya membawa beban dan aib. Mereka telah lama membenci pemuda itu, dan sekarang, dengan kondisinya yang berada di ambang kematian, mereka melihat ini sebagai kesempatan emas. Namun, jika pihak rumah sakit berhasil menyelamatkan Rimba, mereka tidak akan tinggal diam.

“Apa perlu kita turun tangan?” salah satu dari mereka berbisik, nada suaranya penuh dengan kebencian.

Yang lain mengangguk setuju. “Kalau dia masih hidup, kita sendiri yang akan memastikan dia tidak akan lama berada di dunia ini.”

Orang-orang dewasa itu yang seharusnya memiliki pemikiran lebih bijak justru berpikir bahwa keberadaan Rimba adalah sesuatu yang harus dimusnahkan. Dan bagi mereka, tidak ada keraguan untuk menyingkirkan pemuda itu dengan cara apa pun.

Mereka sama sekali tidak gentar meskipun harus berhadapan dengan Stevan. Bagaimanapun, kali ini mereka tidak sendirian. Mereka telah menjalin kerja sama dengan kelompok mafia yang merupakan musuh bebuyutan bagi Stevan kelompok yang seharusnya masih dipimpin oleh seseorang yang justru mati di tangan Rimba.

Itu adalah awal dari kebencian mereka terhadap pemuda itu. Saat Rimba masih anak kecil berusia sepuluh tahun, ia menjalankan misi pertamanya atas perintah Stevan, dan dalam misi itu, ia berhasil menghabisi pemimpin kelompok tersebut. Keberhasilan Rimba yang seharusnya menjadi kebanggaan justru menjadi pemicu dendam yang tidak akan pernah padam.

Kini, mereka bukan hanya ingin melihat Rimba mati karena penyakitnya, tapi mereka ingin memastikan pemuda itu benar-benar lenyap dengan tangan mereka sendiri. Bahkan, mereka telah mendapatkan sekutu dari dalam seseorang dari keluarga Jovetic sendiri yang diam-diam menjadi mata-mata bagi musuh.

“Kita sudah terlalu lama menunggu,” suara salah satu dari mereka terdengar dingin. “Kalau rumah sakit berhasil menyelamatkannya, kita pastikan dia tidak akan hidup lebih lama lagi.”

Yang lain mengangguk. “Dan jika Stevan ikut campur, kita juga tidak akan mundur. Kali ini, semuanya harus berakhir.”

Mereka telah menyiapkan rencana besar, dan kali ini, tidak ada ruang untuk kegagalan.

Di sisi rumah sakit, akhirnya Rimba berhasil selamat. Setelah melalui perjuangan panjang antara hidup dan mati, pemuda itu membuka matanya perlahan. Cahaya lampu kamar rawat menyilaukan pandangannya, tapi yang lebih menyebalkan adalah kenyataan bahwa ia masih hidup.

Rimba mengerang pelan, lalu mengerucutkan bibirnya kesal. “Duh, aku tuh udah hampir ketemu Mama! Kenapa sih harus dihalangi?! Aku udah lari kenceng loh!”

Mendengar ucapan Rimba, Argo yang duduk di kursi langsung mendecak, “Kamu ini ya! Bukannya bersyukur masih hidup malah ngedumel!”

Fano, yang duduk di sisi lain tempat tidur, juga ikut menimpali, “Iya! Kakak, tuh bikin kita semua panik setengah mati! Kalau kayak gini lagi, aku nggak bakal maafin Kakak!”

Rimba hanya nyengir melihat kedua saudaranya mengomelinya seperti orang tua. Ia menatap wajah mereka satu per satu, lalu melirik ke arah Stevan yang berdiri di dekatnya. Berbeda dengan Argo dan Fano yang tampak benar-benar kesal, sang ayah malah terkekeh geli melihat pemandangan ini.

“Sudahlah, kalian berdua,” ujar Stevan sambil menepuk pundak Argo. “Anak ini baru saja sadar, biarin aja dia ngomel. Yang penting sekarang dia selamat.”

Argo mendesah panjang, sementara Fano masih cemberut. Namun, melihat wajah lelah tapi tetap jahil dari Rimba, keduanya hanya bisa menggelengkan kepala.

“Pokoknya,” kata Argo, “Jangan pernah lagi bikin kami khawatir kayak tadi, ngerti?”

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang