Rencana yang disusun oleh Stevan berjalan sangat mulus. Dengan wajah dingin dan sikap tegas, ia menyampaikan kepada khalayak bahwa Rimba telah dikirim keluar negeri sebagai bentuk hukuman akibat perbuatannya yang menyebabkan “keributan” dalam keluarga. Pernyataan itu disampaikan dengan sangat meyakinkan hingga semua pihak percaya, termasuk ketiga sahabat Rimba yaitu Bagas, Guan, dan Yuda.
Ketiganya tampak kecewa namun tak berani membantah keputusan Stevan. Mereka hanya bisa saling menyemangati dan berkata akan menunggu Rimba pulang nanti, tanpa tahu bahwa sahabat mereka sebenarnya masih berada tak jauh dari rumah di sebuah apartemen nyaman yang dijaga ketat.
Sementara itu, Stevan bermain peran dengan sempurna. Di depan Adeline dan keluarga Marcus, ia menjadi ayah yang “kecewa berat” dan bertindak “tegas”. Bahkan ia sengaja menolak menyebut nama Rimba dalam percakapan keluarga besar, seolah benar-benar membuang anak keduanya itu.
Adeline tampak puas. Wajahnya kembali cerah, merasa kemenangannya hampir di depan mata. Bryan yang masih penuh amarah juga merasa tindakannya divalidasi oleh sikap Stevan. Namun yang mereka tidak tahu adalah bahwa Stevan tengah menyusun peta balas dendam yang lebih besar.
Di ruang bawah tanah kediamannya, Stevan tengah duduk di depan layar besar yang menampilkan data-data penting yaitu dokumen transaksi rahasia, rekaman penyadapan, dan catatan keuangan yang menghubungkan Darrell seorang pebisnis korup yang juga diam-diam menjadi donatur besar kejahatan Adeline.
Stevan mengatupkan tangan, menatap tajam ke layar. “Sudah cukup aku biarkan kalian bermain di wilayahku. Sudah cukup kalian permainkan anakku,” gumamnya pelan namun penuh tekanan.
Rimba, yang malam itu sedang duduk bersandar di sofa apartemen sambil makan keripik dengan Fano, tiba-tiba menerima pesan teks dari sang ayah. “Persiapkan dirimu. Waktunya balas dendam elegan. Jangan muncul dulu. Biarkan mereka yakin kamu sudah lenyap.”
Rimba tersenyum tipis sambil menunjukkan pesan itu kepada Fano. “Tuh kan, Papa mulai gerak.”
Fano hanya menyeringai, lalu menanggapi dengan santai. “Yah, tinggal nungguin tante Adeline ketar-ketir deh. Aku sih percaya Papa pasti menang.”
Dan mereka memang benar. Stevan tak pernah melangkah tanpa strategi. Kini, Adeline dan Darrell berada dalam bidikannya. Tinggal menunggu waktu… sampai semua topeng itu lepas satu per satu, dan kebenaran membungkam kebohongan dengan sangat menyakitkan.
Malam harinya, Stevan memanggil Reiner secara khusus ke ruang kerjanya yang tersembunyi di lantai bawah tanah. Reiner datang dengan wajah penuh tanya, tapi tetap tenang seperti biasa. Setelah memastikan bahwa tempat itu benar-benar aman dari penyadapan, barulah Stevan mulai membuka percakapan serius.
“Aku ingin kau bantu aku dalam hal ini, Reiner,” ujar Stevan sembari menyodorkan secangkir teh hangat kepada remaja yang kini dianggapnya seperti anak sendiri.
“Aku siap, selama itu untuk kebaikan Rimba,” jawab Reiner lugas.
Stevan mengangguk pelan, kemudian berkata, “Aku ingin kau pura-pura percaya dengan ucapan Adeline, bahwa Rimba bukan anakku. Sekarang dia sangat yakin dengan kebohongan itu dan sedang merasa menang. Tapi kenyataannya, hanya kita yang tahu kebenarannya.”
Reiner menatap mata Stevan dalam-dalam. “Aku mengerti. Ini untuk keselamatan Rimba, bukan?”
“Ya,” jawab Stevan singkat namun penuh makna. “Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Adeline selanjutnya. Jika dia mulai curiga Rimba masih hidup, nyawa anakku bisa benar-benar terancam. Jadi, selama semua orang percaya Rimba diasingkan dan aku tak mengakuinya sebagai anak, dia akan tetap aman.”
Reiner mengangguk mantap. “Baiklah, aku akan memainkan peran itu. Aku akan pura-pura percaya omongan Tante Adeline, seolah-olah Rimba memang bukan anakmu.”
Sementara itu, pengobatan Rimba dilakukan dengan sangat diam-diam. Stevan tidak ingin Rimba ke luar rumah, apalagi ke rumah sakit, yang bisa saja dimanfaatkan musuh untuk melacak keberadaannya. Maka ia menggunakan jalur pribadi: mendatangkan dokter ke apartemen secara rutin, tentu dengan tingkat keamanan tinggi dan biaya yang sangat mahal.
Dokter yang dipanggil adalah seorang spesialis kepercayaan Stevan, yang sudah sering menangani kasus medis dalam lingkup rahasia. Ia datang dengan menyamar, tidak pernah menggunakan nama asli atau identitas medis yang bisa dilacak, dan semua biaya ditransfer melalui sistem keuangan lapis tiga milik perusahaan Stevan.
Fano juga ikut menjaga apartemen dengan ketat. Ia bahkan hafal jadwal kedatangan dokter dan akan selalu memastikan tidak ada siapa pun di lorong atau lift ketika dokter datang.
Stevan tahu semua ini rumit dan penuh risiko, tapi ia tidak pernah bermain setengah-setengah untuk melindungi anak-anaknya. Jika musuh ingin bermain licik, maka ia akan menunjukkan betapa bahayanya berurusan dengan seekor serigala tua yang masih punya taring tajam.
Suatu hari, tepat ketika suasana di rumah Marcus mulai tenang setelah kepulangan Adeline dari rumah sakit, Stevan datang dengan rencana baru yang telah disusunnya matang-matang. Ia tidak datang sendiri di sampingnya berdiri Reiner, yang kini tampak lebih tenang dan dewasa, mengenakan kemeja putih sederhana, rapi dan bersih.
Marcus yang membuka pintu langsung terdiam ketika melihat tamunya. “Abang?” gumamnya, sedikit heran.
“Aku ingin bicara dengan Adeline,” jawab Stevan langsung. “Dan aku membawa seseorang yang penting.”
Marcus mengangguk pelan dan mempersilakan masuk. Tak lama kemudian, Adeline muncul dari ruang tengah, masih dalam kondisi pemulihan, namun tatapannya tetap tajam seperti biasa. Ketika melihat Reiner berdiri di samping Stevan, ekspresinya langsung berubah menjadi penuh tanya.
“Apa maksudmu datang kemari membawa anak orang lain?” tanya Adeline dengan nada curiga.
Stevan menatap Adeline lama sebelum akhirnya berbicara pelan namun jelas, “Aku datang untuk mengakui satu hal penting… setelah mempertimbangkan semua kemungkinan dan hasil DNA ulang, aku yakin Rimba... bukan anakku.”
Adeline nyaris tersenyum untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu. “Akhirnya kau sadar juga.”
“Terlambat, tapi lebih baik begitu,” ucap Stevan lagi. “Dan setelah kutelusuri… sepertinya anak yang sebenarnya, yang lahir di waktu bersamaan, adalah dia.” Ia menepuk bahu Reiner dengan lembut. “Namanya Reiner.”
Adeline langsung menatap Reiner dari ujung kepala sampai kaki. Wajahnya tampak puas, “Nah, itu baru masuk akal. Wajahnya lebih pantas sebagai anakmu dibandingkan Rimba. Pintar juga akhirnya kamu pakai otak, Stevan.”
Stevan mengangguk pelan, padahal di dalam hatinya mendidih melihat kelicikan wanita di depannya. Ia tahu Adeline telah menabur kebencian yang dalam di antara keluarganya dan sekarang ia mulai menuai hasilnya. Tapi permainan ini belum selesai. Dia akan menguliti semuanya dengan elegan.
Sementara itu, Reiner memainkan perannya dengan mulus. Ia tersenyum kecil dan berkata, “Saya tidak tahu harus bagaimana, tapi kalau memang saya anak kandung dari Tuan Stevan, saya bersedia belajar menjadi bagian dari keluarga itu.”
“Bagus!” Adeline bersemangat. “Kau anak yang sopan. Tidak seperti Rimba yang bodoh dan pembangkang.”
Stevan hanya menatap Adeline datar. “Aku akan mengenalkannya perlahan ke lingkungan keluarga. Tapi untuk saat ini, tolong rahasiakan dulu soal ini, Adeline. Kau tentu tahu, berita seperti ini bisa mengguncang posisi keluarga kami.”
Adeline mengangguk setuju. “Tentu saja. Aku bisa menjaga rahasia. Asal kau juga jaga sikap dengan anak bodoh itu, Rimba. Jangan sampai dia muncul lagi.”
Stevan menahan diri agar tidak menyeringai. Dalam hati ia mencatat semuanya. Semakin Adeline merasa menang, semakin besar pula keruntuhannya nanti.
Di dalam mobil saat pulang, Stevan menoleh pada Reiner dan tersenyum tipis. “Kau hebat. Tapi ini baru permulaan. Kita akan lihat bagaimana dia akan remuk perlahan-lahan.”
Reiner hanya membalas dengan anggukan ringan. “Aku akan tetap di barisan Rimba. Dia saudaraku… dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.”
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Selasa 24 Juni 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
