88 (di luar rencana)

499 55 10
                                        

Dua hari kemudian, Rimba yang memang tidak bisa tinggal diam memilih menjalankan rencana lain. Diam-diam, ia menghubungi ketiga sahabatnya yaitu Bagas, Guan, dan Yuda sahabat setianya.

Ketiganya sedang duduk santai di ruang tengah rumah sewaan mereka, tempat mereka tinggal bersama karena sama-sama malas tinggal di rumah masing-masing. Tiba-tiba, layar ponsel Guan menyala video call dari Rimba.

“Eh, ini Rimba!” seru Guan sambil menunjuk layar ke arah dua temannya.

Begitu panggilan tersambung, wajah Rimba yang tersenyum muncul di layar.

“Woi! Hidup lu gimana di pengasingan?” canda Bagas sambil mengangkat alis.

“Lu beneran di negara lain, diasingin gitu sama Om Stevan?” tanya Guan penasaran.

“Kaget banget gua waktu denger Om Stevan ngirim lu ke luar negeri,” tambah Bagas.

“Tapi yang gua heran, kenapa Om Stevan gampang banget percaya sama omongan Adeline?” Yuda menyipitkan mata, curiga.

Rimba terkekeh pelan lalu menundukkan wajah mendekat ke kamera dan berbisik, “Sebenernya... gua masih di Indonesia.”

“APA?!!” ketiganya berseru bersamaan dengan ekspresi terkejut.

“Serius lu?! Jangan becanda!” ujar Yuda menatap layar dengan mata membesar.

“Iya, gua masih di sini. Di apartemen, ngumpet. Semua ini bagian dari rencana Papa,” jelas Rimba lebih pelan, nada suaranya serius.

Ketiganya terdiam sesaat sebelum akhirnya Bagas tertawa.

“Lu bener-bener ya. Masih kayak dulu, suka bikin kejutan,” ujar Bagas geleng-geleng kepala.

“Ya udah, sekarang kita bantu apa?” tanya Guan sambil merapat ke arah kamera.

“Gua bakal jelasin semuanya. Tapi gua butuh kalian buat bantu cari info soal Darrell. Kita main rapi, jangan bikin Papa tambah repot,” ujar Rimba mantap.

Tiga sahabatnya mengangguk penuh semangat, menyadari bahwa mereka kembali terlibat dalam misi yang jauh lebih serius dari sebelumnya demi sahabat mereka, Rimba Dan Jovetic.

“Gua punya rencana untuk menyusup ke sana lagi, tapi kali ini bukan gua yang turun,” ujar Rimba serius sambil menatap layar. “Kalian bertiga aja. Usahakan hati-hati. Atau mungkin cukup satu orang aja yang masuk, dua lainnya tetap di luar buat pantauan. Yang pasti, kalian harus bisa berbaur… pura-pura nggak setuju sama tindakan papa gua, atau seolah-olah kalian berkhianat.”

Ketiganya terdiam sesaat sebelum Bagas mengerutkan kening dan menjawab, “Malas gua kalau harus pura-pura berkhianat. Geli banget dengernya.”

“Iya, gua juga. Mending nyusup langsung deh. Lebih menantang,” sahut Yuda sambil tersenyum lebar.

“Tepat banget,” timpal Guan yang duduk santai sambil memutar lehernya. “Udah lama gua gak olahraga.”

Rimba sempat bingung sebelum akhirnya tertawa terbahak, paham maksud ‘olahraga’ yang dimaksud Guan.

“Olahraga apaan? Maksud lu gelut, kan?” tanya Rimba sambil masih tertawa.

Guan hanya menyeringai dan mengangkat bahu, tak menyangkal.

“Dasar,” ujar Rimba sambil geleng-geleng kepala.

“Tapi tenang aja, kita tahu gimana caranya nyusup tanpa ketahuan. Kayak dulu waktu kita nyelundup ke gudang tua di belakang sekolah,” ujar Yuda sambil menyenggol bahu Bagas.

“Kali ini lebih berbahaya. Tapi gua percaya sama kalian,” ujar Rimba dengan nada lembut, lebih tenang.

Ketiganya saling bertatapan lalu mengangguk bersamaan.

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang