57 (ambang?)

1K 115 36
                                        

Tak ada satu pun siswa di sekolah itu yang tak pernah meremehkan Rimba. Di mata mereka, Rimba bukan siapa-siapa hanya remaja kurus penyakitan yang tak pernah menonjol dalam pelajaran.

“Eh, si Rimba! Nggak pingsan kan cuma jalan lima meter?”

“Haha, jangan-jangan napasnya aja harus minjem sama abang dan adiknya!”

“Kasihan banget Argo dan Fano punya saudara sebodoh dia. Buat malu sih, fix!”

Hinaan itu seperti belati, menusuk tanpa ampun. Beberapa bahkan sengaja mengucapkannya dengan suara keras saat Rimba lewat di lorong sekolah.

“Kalau aku jadi Argo atau Fano, udah pasti ngaku gak punya kayak Rimba!”

“Dia hidup cuma buat jadi bayangan murahan dua anak hebat. Nggak pantas pake nama keluarga yang sama.”

Rimba menggenggam erat tali tasnya. Jemarinya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang ia paksa untuk tetap terkunci rapat di dadanya. Matanya menatap lurus, menolak membalas tatapan sinis yang sengaja dilontarkan padanya.

Namun, manusia ada batasnya. Dan batas Rimba sudah terlampaui.

Salah satu siswa menyenggolnya keras sambil berbisik, “Eh, jangan deket-deket. Gue takut kebodohannya nular.” Disusul tawa segerombolan orang di belakangnya.

Rimba menghela napas panjang, mencoba menahan amarahnya. Ia sebenarnya sudah terbiasa dengan hinaan seperti itu, tapi kali ini mereka kelewatan. Menyebutnya penyakitan dan bodoh saja sudah cukup membuatnya kesal, tapi menyeret nama Argo dan Fano ke dalamnya? Itu batasnya.

Tanpa banyak berpikir, Rimba langsung melayangkan tinju ke salah satu siswa yang berdiri paling dekat dengannya. Pukulan itu telak mengenai rahang lawannya, membuat siswa itu terhuyung ke belakang sambil meringis kesakitan.

“Kurang ajar, ya!” salah satu siswa lainnya mendekat dengan niat membalas serangan Rimba. Namun, Rimba sigap. Ia menangkis serangan itu, lalu dengan gesit menjegal kaki lawannya hingga jatuh tersungkur ke tanah.

Sialnya, jumlah mereka lebih banyak. Beberapa siswa lain mulai menyerangnya dari berbagai arah. Rimba memang tangguh dan cukup terlatih dalam bertarung, tapi tubuhnya tidak dalam kondisi terbaik. Napasnya mulai memburu, tubuhnya terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Tapi, ia tidak peduli.

“Kenapa diam saja?! Mau buktikan kalau omongan kami benar?” salah satu siswa mengejeknya sambil mendorong Rimba ke dinding.

Rimba menyeringai meskipun darah mulai mengalir dari sudut bibirnya. “Omongan kalian nggak ada artinya buatku. Tapi kalau kalian memang mau cari masalah, aku layani!”

Ia kembali melancarkan serangan, membuat beberapa dari mereka mundur. Tapi di saat itu, sebuah suara lantang terdengar dari kejauhan. “HEI! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”

Semua orang langsung menoleh. Di sana, berdiri seorang pemuda dengan ekspresi geram merupakan ketua osis.

Rimba terdiam sesaat. “Sial, ketahuan...” gumamnya dalam hati.

Karena ketahuan, Rimba beserta para siswa yang terlibat dalam perkelahian langsung dibawa ke ruang BK oleh ketua OSIS. Rimba berusaha menahan napasnya yang mulai terasa sesak akibat infeksi paru-parunya. Ia tetap duduk diam di kursinya, menahan rasa sakit yang perlahan makin menusuk dadanya.

Di dalam ruangan, guru BK mulai memanggil semua wali murid dari siswa yang terlibat. Rimba hanya bisa menunggu kedatangan Stevan, sang ayah. Namun, tubuhnya semakin sulit diajak bekerja sama. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya, pandangannya sedikit buram, dan napasnya semakin pendek.

Ketika akhirnya tubuhnya hampir tumbang, seseorang dengan sigap menahan dan langsung menggendongnya. Rimba tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang melakukannya. Ada aroma khas yang selalu membuatnya merasa aman.

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang