91 (racun satu musnah)

553 54 10
                                        

Di bawah markas Darrell, medan pertempuran masih berlangsung panas. Suara tembakan, ledakan kecil, dan teriakan menjadi latar belakang yang brutal dari pergerakan tiga bersaudara. Argo, sang sulung, terus mengayunkan pedangnya dengan presisi. Setiap musuh yang mendekat ditebas tanpa ampun. Namun entah mengapa, langkahnya mulai melambat. Dahinya berkerut, matanya tidak lagi sekadar mencari lawan ia sedang mencari sesuatu... atau lebih tepatnya, merasakan sesuatu.

Satu musuh tiba-tiba muncul dari balik reruntuhan, mengangkat senapan ke arah Argo. Tapi sebelum pelatuk bisa ditarik—

DOR!

Tembakan telak menghantam kepala musuh itu. Mayatnya terjatuh tak bernyawa. Rimba, adik tengah, menurunkan senjatanya, sedikit kesal. “Bang, fokus!” tegurnya sambil menoleh tajam.

Argo menghela napas, mencoba mengatur ulang pikirannya. Tapi firasat buruk itu tidak mau pergi. Seolah ada sesuatu yang mengendap, menunggu waktu untuk meledak.

“Abang rasa... sesuatu yang buruk akan terjadi,” gumam Argo, setengah kepada dirinya sendiri.

Rimba tertawa kecil sambil menembakkan peluru ke arah dua musuh di kejauhan. “Abang terlalu paranoid. Kita ini sedang menghabisi om jelek yang jadi penyakit dunia bawah,” jawabnya santai.

“Iya, Bang! Ayolah, ini baru seru!” celetuk Fano dari arah kiri. Anak bungsu itu tampak sedang mengecoh tiga musuh dengan gerakan cepat dan lelucon sarkastiknya. “Mereka pikir bisa mengalahkan anak kecil kayak aku? Halah, ini kayak main game!”

Argo menatap kedua adiknya yang tampak terlalu menikmati pertempuran, lalu mengangguk pelan. “Baiklah… kita bersenang-senang dulu,” ujarnya, walau suara hatinya masih terasa berat.

Argo kembali menebas musuh yang datang, kali ini dengan lebih agresif. Darah berceceran, denting logam beradu, dan suara langkah kaki menggema di seluruh lorong bawah tanah itu. Rimba bergerak seperti bayangan, menghabisi musuh satu demi satu dengan tembakan presisi. Sementara Fano bermain-main seperti rubah kecil licik menggoda, mengejek, lalu menembak dengan senyum puas di wajahnya.

Namun jauh dari mereka…

Di lokasi lain, Edward sedang berdiri di depan sebuah mobil hitam. Ia tengah berbicara melalui alat komunikasi sambil menatap ponsel yang memantau pergerakan GPS.

“Marcus, dengar aku baik-baik,” ujar Edward cepat namun tegas.

Suara dari seberang terdengar panik, “Ada apa, Ed? Kau terdengar tergesa.”

“Aku tidak bisa menjelaskan panjang. Yang penting sekarang kau harus keluar dari rumah. Bawa keempat putramu. Alasan apapun, liburan, makan malam, ke toko mainan apa saja. Segera!” tegas Edward.

“Tunggu kenapa? Apa ini soal Darrell?” tanya Marcus.

“Bukan hanya Darrell. Ada pergerakan lain. Aku ditugaskan untuk mengurus Adeline, sementara Stevan dan ketiga putranya sedang menggempur markas Darrell. Ini bisa berubah jadi pertempuran besar. Aku tidak ingin kalian ikut terseret.” jawab Edward.

Marcus terdiam sesaat di ujung sana. “Oke… aku percaya padamu, Ed. Kami akan segera pergi. Jaga dirimu,” jawabnya akhirnya.

Edward mengangguk walau lawan bicaranya tak bisa melihat. “Aku akan pastikan Adeline tidak keluar hidup-hidup. Jaga keluargamu, Marcus.”

Komunikasi terputus.

Edward memasukkan alat komunikasinya ke dalam jaket, lalu menatap langit malam yang mulai mendung. Hujan kemungkinan besar akan turun sebentar lagi. “Stevan... semoga kau dan anak-anakmu bisa keluar hidup-hidup dari sana,” bisiknya, sebelum ia melangkah menuju kendaraan dan memacu mobilnya menuju tempat tinggal Adeline musuh dalam selimut yang tak kalah berbahaya dari Darrell.

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang