35 (menikmati waktu)

1.1K 69 11
                                        

Rimba tengah tiduran dengan santai. Masa skorsing masih berlaku, dan ia juga belum menemukan ide untuk menjahili anggota keluarganya yang lain.

Oreo yang ia siapkan sebelumnya sudah dibersihkan oleh Stevan. Tidak dibuang, hanya saja krimnya dikeluarkan, dan biskuitnya diberikan kepada anak buahnya di markas.

Sekarang, Rimba memilih mengangkat kakinya ke atas, mencoba memikirkan ide lain untuk menjahili anggota keluarganya. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar, tapi pikirannya penuh dengan rencana-rencana iseng yang masih belum terwujud.

Tak lama, terdengar suara pintu terbuka. Saat Rimba melirik, ternyata para sahabatnya sudah berdiri di ambang pintu dengan seragam sekolah yang rapi. Mereka tampak segar, siap menjalani hari, sementara Rimba hanya diam, tetap fokus mencari ide.

"Mengenai pengkhianat itu, ada beberapa informasi tambahan," ujar Bagas, salah satu sahabat Rimba.

"Share di grup saja. Aku lagi mikir dulu," sahut Rimba tanpa minat.

"Bilang aja, lu malas dengerin," sindir Guan sambil tertawa kecil.

"Begitulah. Lebih baik kalian sekolah saja," balas Rimba santai, tanpa menoleh.

"Tega banget lu, Rim, ngusir sahabat sendiri," ujar Yuda dengan nada pura-pura sedih.

"Alay! Gue cuma malas dengerin, bukan berarti nggak mau tahu," jawab Rimba tajam tapi tetap santai.

"Mikir ide buat jahilin orang rumah, ya?" tanya Bagas dengan seringai jahil.

"Iya, gue bosen di rumah. Semua orang di sini kayak batu, pada kaku semua. Kalau ada gue, suasana pasti jadi ceria seketika," sahut Rimba dengan nada percaya diri.

Mereka tertawa mendengar ucapan Rimba. Memang, di mana pun Rimba berada, dia selalu menciptakan kegaduhan dengan tingkah jahilnya. Bagi sahabat-sahabatnya, kehadiran Rimba selalu berhasil menghidupkan suasana.

Setelah sahabat-sahabatnya pergi, Rimba kembali merenung. Dia tahu bahwa kejahilan adalah caranya untuk mengusir kebosanan, apalagi selama masa skorsing ini. Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya ide baru muncul di kepalanya. “Ah, ini pasti seru,” gumam Rimba sambil tersenyum jahil.

Rimba langsung menuju gudang, mengambil beberapa bahan yang dibutuhkan. Ada selotip transparan, plastik bening, dan seember penuh air. Ide kali ini adalah jebakan klasik tapi selalu efektif: jebakan ember air di pintu.

Dia memulai dengan memasang ember yang diisi air di atas salah satu pintu di rumah. Rimba memilih pintu ruang tamu karena itu adalah jalur favorit keluarganya. Setelah memastikan posisi embernya stabil, dia memasang plastik bening di sepanjang pintu masuk sebagai jebakan tambahan. Plastik itu hampir tak terlihat dan akan menghalangi siapa pun yang berjalan masuk.

“Perfect! Ini pasti sukses,” gumam Rimba puas sambil tersenyum licik.

Tak lama setelah selesai memasang jebakan, Rimba mendengar langkah kaki mendekat. Ternyata, Fano yang pertama kali menuju ruang tamu. Adik bungsunya itu sedang mencari sesuatu sambil mengunyah camilan.

“Kakak, kamu lihat mainanku nggak?” tanya Fano sambil membuka pintu.

Byurrrr! Ember penuh air langsung tumpah membasahi kepala dan badan Fano. Bocah sembilan tahun itu terkejut dan menjerit. “Aaaahhh! Kakak jahil banget sih!”

Tapi jebakan belum selesai. Ketika Fano melangkah masuk, plastik bening di pintu mengenai wajahnya, membuatnya hampir terjatuh. “Aduh, apaan lagi ini?!” keluh Fano kesal sambil mencoba melepaskan plastik itu.

Rimba tertawa terbahak-bahak melihat adiknya basah kuyup dan kebingungan. “Hahaha! Gimana, Adek? Seru, kan?” goda Rimba.

“Kakak nggak lucu!” protes Fano sambil berlari mencari Stevan untuk melapor.

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang