Beberapa hari kemudian, suasana sekolah kembali seperti biasa. Namun bagi Rimba, biasa bukan berarti tenang. Hari ini, ia kembali membuat heboh satu sekolah.
“Rimba Dan Jovetic, berdiri di depan kelas!” tegur sang guru dengan nada jengkel.
Rimba berjalan santai ke depan kelas dengan wajah datar. “Baik, Pak. Saya salah karena tidur di kelas, saya siap menerima hukuman,” ujarnya, lalu… tiba-tiba membuka jaket dan menarik rambutnya ke belakang.
“Karena saya sudah di depan, sekalian cosplay model catwalk ya,” ujar Rimba lantang sambil memasang pose ala runway.
Sontak satu kelas meledak dalam tawa. Bahkan beberapa teman cewek langsung berseru, “Woy Rimba ganteng juga kalo niat!”
“Fix dia bukan manusia biasa!”
Guru yang tadinya kesal hanya bisa mengelus dada. “Anak ini… kalau bukan karena anak donatur sekolah, sudah saya keluarkan dari tadi.”
Rimba tersenyum santai. “Tenang, Pak. Saya nanti kasihtahu papa buat tambah uangnya.”
Tawa semakin menjadi-jadi. Teman sebangkunya bahkan sudah jatuh dari kursi menahan geli.
Rimba sendiri? Ia berdiri gagah di depan kelas, memasang pose tangan di pinggang dan satu kaki menyilang, seolah dunia adalah panggungnya.
Namun dalam senyumnya yang santai, pikirannya masih tertuju pada ancaman yang belum berakhir.
Setelah sukses menggegerkan kelas dengan cosplay model dadakan, ternyata aksi jahil Rimba belum berhenti sampai di situ.
Saat jam istirahat, Rimba duduk santai di lantai atas sambil mengamati lapangan. Pandangannya langsung tertuju pada guru olahraga muda yang sedang mengajar kelas lain.
Dengan suara lantang, Rimba berteriak. “Woy cewek-cewek! Pak guru itu duda loh! Gajinya besar, badannya kekar, hatinya kosong!”
Spontan para siswi langsung bersorak,
“Seriusan, Rimba?”
“Wah, jadi pengen diajarin push-up tiap hari!”
Si guru olahraga yang mendengar hanya bisa memutar bola mata, wajahnya merah campur malu dan bingung harus ngomel atau ketawa.
Setelah bel masuk, Rimba dipanggil ke ruang guru.
“Rimba Dan Jovetic. Karena ulahmu bikin lapangan jadi ajang fanmeeting, kamu saya tugaskan bersihkan gudang olahraga!”
“Dengan senang hati, Pak. Saya akan bersihkan sampai kinclong,” kata Rimba sok semangat sambil hormat, lalu… lima menit kemudian dia menghilang entah ke mana.
Beberapa jam kemudian terdengar suara dari speaker sekolah,
“Mohon perhatian, bagi siapa pun yang melihat Rimba Dan Jovetic, harap membawanya ke ruang guru. Dia kabur dari hukuman.”
Teman-temannya yang mendengar hanya bisa ngakak.
“Sumpah si Rimba tuh bener-bener bakat jadi artis kabur!”
“Gurunya dikerjain, gudangnya ditinggal, eh dia malah tidur di kantin!”
Dan benar saja, Rimba ditemukan… sedang selonjoran makan es krim di kantin sekolah dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Rimba yang tengah menikmati es krim dengan penuh kenikmatan di kantin, tiba-tiba membeku saat mendengar suara khas seseorang memanggil namanya.
“Rimba Jovetic!” suara tegas itu menggema dan benar saja, yang berdiri di depan meja kantin adalah Bu Ratna, guru BK yang paling ditakuti seluruh sekolah.
Tatapan tajam sang guru membuat teman-teman Rimba otomatis minggir, membuka jalan seperti menyaksikan adegan film laga.
Namun alih-alih panik, Rimba hanya menoleh pelan sambil tetap menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya. Dengan mulut penuh es krim dan suara sengau dia berkata,
“Bu Ratna, saya ini korban… korban sistem.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
