Sore harinya, saat Rimba baru saja tiba di rumah, ia langsung mendapat jeweran telinga dari Stevan, sang papa. Namun, alih-alih panik, Rimba malah nyengir lebar melihat wajah kesal ayahnya.
“Kamu bilang mau sekolah, tapi kenapa wali kelasmu bilang kamu nggak masuk hari ini, Rimba?!” tegur Stevan dengan nada tegas.
“Aku... terlambat masuk,” jawab Rimba santai.
Stevan menyipitkan mata. “Kamu berangkat jam setengah tujuh pagi, dan sekolah masuk jam setengah delapan.”
“Kan Rimba makan bubur dulu, Pa,” elak Rimba sambil menggaruk tengkuk.
“Kamu itu sudah sarapan sebelum berangkat sekolah!” balas Stevan, kini suara nadanya naik satu oktaf.
Rimba langsung mencoba kabur demi menyelamatkan diri, tapi belum sempat berlari jauh, kerah bajunya sudah ditarik paksa oleh sang ayah.
“Ehehe… peace, Pa?” ujar Rimba dengan senyum cengengesan, sementara Stevan menghela napas panjang, mencoba menahan emosi dan tawa kecil yang mulai menggelitik karena tingkah putranya yang memang selalu sulit ditebak.
“Kamu ikut Papa ke ruangan Papa!” tegas Stevan sambil menarik kerah baju Rimba.
Rimba hanya bisa pasrah, wajahnya meringis, namun tak bisa berbuat apa-apa. Pemandangan Rimba yang diseret oleh sang ayah itu menjadi hiburan tersendiri bagi Fano, adik bungsunya yang berusia sembilan tahun. Bocah itu tertawa terpingkal-pingkal, merasa puas karena kakak keduanya yang selalu jahil padanya akhirnya mendapat ganjaran.
Di sudut ruang tamu, Argo sang abang yang tengah serius mengerjakan tugas kuliahnya tak kuasa menahan tawa juga. Melihat adik super jahilnya akhirnya diseret masuk ke ruang kerja sang Papa, Stevan memang momen langka yang terlalu lucu untuk dilewatkan.
“Sudah kuduga, dia pasti ngelakuin sesuatu lagi,” gumam Argo sambil menggeleng pelan, senyum geli masih menghiasi wajahnya.
Di dalam ruang kerja, Stevan tiba-tiba memeluk erat tubuh Rimba. Remaja lima belas tahun itu terkejut bukan main.
“Papa?” seru Rimba, bingung sekaligus heran dengan tindakan sang ayah.
“Dasar anak nakal!” tegur Stevan, masih memeluknya. “Papa sudah bilang, urusan Adeline biar Papa yang tangani. Tapi kamu malah bertindak sendiri... bahkan melibatkan ketiga sahabatmu!”
Rimba menggigit bibir bawahnya, lalu menjawab lirih, “Tapi kalau Rimba bergerak lambat, Adeline bisa saja lebih dulu mengincar nyawa Adek... atau Abang...”
Stevan menghela napas panjang, lalu mengelus rambut Rimba dengan lembut. “Nak, kamu lupa kondisi kesehatanmu?”
“Rimba ingat kok, Papa. Tapi Rimba bukan lumpuh. Rimba cuma butuh pengobatan rutin, bukan berarti harus diam saja. Lagi pula, saat menyamar Rimba pakai topeng wajah buatan Guan, aman kok. Mereka enggak akan tahu.” jawab Rimba.
Pelukan itu perlahan dilepaskan. Stevan menatap wajah putra keduanya dalam-dalam. Tangan besarnya menyentuh pipi Rimba yang kini tampak sedikit lebih berisi pertanda bahwa anaknya mulai pulih.
“Kamu dapat informasi lain?” tanya Stevan serius.
“Iya. Katanya ada seseorang bernama Darrell. Dia dari luar negeri. Dan katanya dia datang ke sini buat menghabisi seluruh keturunan Mama…” jawab Rimba, nada suaranya turun.
Stevan memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat. “Darrell… Papa pernah dengar nama itu. Tapi agak samar. Seingat Papa, nama itu muncul waktu Abang kamu Argo masih tiga tahun, dan kamu masih dalam kandungan Mama.”
“Jadi… Abang tahu?” tanya Rimba cepat.
“Ya, kemungkinan besar. Tapi siap-siap, Abang pasti bakal marah besar kalau tahu kamu nekat begini,” sahut Stevan, separuh cemas, separuh pasrah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
