Rimba berlari masuk. Di belakangnya, banyak orang mengawasi. Ia baru saja pulang sekolah dan langsung berlari menuju ruangan sang ayah berada.
"Papa, aku mau bunuh orang," kata Rimba, berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap.
Stevan mengangkat alisnya, menatap putranya dengan ekspresi tak terkejut, tapi juga tak menunjukkan persetujuan. Dengan tenang, pria itu menutup berkas di tangannya dan menghela napas panjang. "Kamu baru pulang sekolah, Rimba. Bisa nggak sih, nggak bikin Papa sakit kepala?"
Rimba mendekat, duduk di sofa dengan kaki disilangkan. Matanya menyipit, bibirnya sedikit mengerucut. "Papa nggak penasaran siapa yang mau aku bunuh?"
Stevan menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap anaknya dengan ekspresi lelah. "Biar kutebak... koruptor?"
Rimba mengangguk cepat. "Iya! Aku udah mikirin ini dari tadi di kelas. Kalau negara ini mau maju, orang-orang busuk itu harus dihilangkan! Aku bisa jadi sniper, Pa. Aku tinggal bidik, tembak, beres. Negara lebih baik, Papa juga pasti bangga sama aku."
Stevan terkekeh pelan, lalu menatap putranya dengan tatapan tajam. "Rimba, kamu tahu Papa nggak akan melarangmu membunuh orang yang pantas mati."
Mata Rimba berbinar. "Jadi aku boleh?"
"Nanti," jawab Stevan.
Rimba mengernyit. "Nanti?"
Stevan mengangguk. "Sekarang kondisi kesehatanmu belum stabil. Kamu baru keluar dari rumah sakit, tubuhmu belum cukup kuat. Apa gunanya seorang sniper kalau malah ambruk sebelum menembak?"
Rimba membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Wajahnya menunjukkan bahwa ia ingin membantah, tapi tak bisa menemukan argumen yang tepat.
Stevan tersenyum tipis melihat ekspresi putranya yang kesal. "Jadi, sembuh dulu. Kuatkan tubuhmu. Setelah itu... kita bisa bicara soal siapa yang pantas mati di tanganmu."
Rimba mendecak kesal, menyandarkan kepalanya di sofa dengan ekspresi frustrasi. "Ih, Papa bikin kesal. Kenapa harus nunggu?"
Stevan mengusap kepala anaknya, tertawa kecil. "Karena anak Papa yang satu ini terlalu berharga untuk mati konyol di misi yang belum siap. Ngerti?"
Rimba mendengus, tapi sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. "Baiklah... kalau gitu, aku bakal sembuh secepat mungkin."
Stevan mengangguk puas. "Itu baru anakku."
Rimba menggerutu sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. "Kenapa sih harus nunggu aku sembuh? Jadi sniper itu gampang, tinggal 'dor' aja, selesai."
Stevan tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Ya ampun, Nak. Kalau sesederhana itu, semua orang juga bisa jadi sniper."
Rimba melipat tangan di dada, cemberut. "Tapi aku udah belajar cara nembak, Papa yang ajarin sendiri, kan? Jarak tembakku juga udah lumayan jauh."
"Iya, iya, aku tahu kemampuanmu. Tapi tetap saja, kamu nggak bisa membidik dengan akurat kalau tanganmu masih lemas. Apa kamu mau kena recoil terus malah jatuh pingsan?" Stevan menatap anaknya dengan ekspresi datar, tapi ada nada meledek di suaranya.
Rimba memutar bola matanya. "Nggak mungkin lah, Pa. Aku kan bukan selemah itu."
"Yakin?" Stevan menaikkan sebelah alisnya. "Coba sini, angkat kursi itu."
Rimba melirik kursi kayu di sampingnya, lalu berdiri dan mencoba mengangkatnya. Dalam hitungan detik, ia mengerang pelan, meletakkan kursi itu kembali dengan wajah sedikit kesal. "Oke, oke, aku ngerti maksud Papa."
Stevan tersenyum puas. "Bagus. Jadi, sabar. Sembuh dulu, kuatkan tubuhmu. Kalau sudah benar-benar siap, baru kita bicara soal 'dor-dor'-an kamu itu."
Rimba mendengus, lalu menjatuhkan dirinya kembali ke sofa. "Ih, sebel. Kenapa aku harus nunggu? Kan seru kalau langsung action."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
