Selama berpikir cukup lama, Rimba mendapatkan ide yang sangat nekat mendekati musuhnya sendiri. Ia tahu risikonya besar, namun jika hanya diam, itu sama saja dengan menunggu ajal datang tanpa perlawanan.
Saat ini, Rimba tengah mondar-mandir di dalam kamarnya, wajahnya serius memikirkan rencana itu. Ia sedang menjalani hukuman dari sang ayah, Stevan, lantaran melemparkan ponsel milik sang ayah ke dalam kolam renang.
Pintu kamar perlahan terbuka, membuat Rimba menoleh. Ternyata, Stevan muncul sambil membawa nampan berisi makanan.
“Rimba, makan dulu. Nanti minum obatmu,” ucap Stevan tenang, meski masih ada nada lelah dalam suaranya.
Rimba mengangguk pelan. Ia mendekat, duduk di tepi tempat tidur, dan membiarkan sang ayah menyuapinya. Bahkan saat diberikan obat, ia menelannya tanpa protes.
Stevan lalu mengelus rambut putranya dengan penuh kasih, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat Rimba sedang sulit ditebak. “Kamu kenapa sih bisa-bisanya lempar HP Papa ke kolam?”
Rimba mengangkat bahu santai. “Papa ngejar aku sih, jadi ya… daripada ketangkep, mending aku lempar aja HP-nya biar Papa berhenti.”
Stevan mendesah panjang, menahan senyum yang hampir muncul. “Kamu ini ya... selalu aja bikin Papa bingung antara marah atau ketawa.”
Rimba hanya cengengesan, tapi dalam hatinya, rencana gilanya sudah mulai ia susun meskipun itu berarti ia harus melangkah ke tengah bahaya.
“Malam ini kita jalan-jalan saja,” ujar Stevan, mencoba mencairkan suasana setelah hari-hari yang cukup tegang.
“Ke taman bermain ya,” sahut Rimba cepat, matanya langsung berbinar.
“Mau main sama hantu kamu?” tanya Stevan, menaikkan alis dengan senyum menggoda.
"Cuma hantu saja yang gak mungkin nyakitin aku," jawab Rimba santai tapi jujur, membuat Stevan sejenak terdiam sebelum menghela napas panjang.
“Abang sama adikmu ikut juga. Kita udah lama nggak keluar bareng, iya kan?” sambung Stevan, mengalihkan topik.
“Abang sibuk kuliah, aku sibuk berobat, dan adek… dia mah sering main sama aku aja, soalnya Papa sibuk sih,” balas Rimba santai, namun tetap menyisipkan sindiran manja yang membuat Stevan nyengir kecut.
“Ingat pakai jaket. Kondisimu belum pulih sepenuhnya,” pesan Stevan tegas.
“Papa lebay. Aku bukan mau mati besok pagi kali,” balas Rimba enteng sambil mencibir.
“Rimba!” tegur Stevan dengan nada sedikit meninggi.
“Hehehe,” Rimba hanya tertawa ringan, tidak menunjukkan rasa bersalah.
“Tadi Papa lihat kamu kayak setrika, kesana kemari nggak bisa diam,” ucap Stevan mengingatkan, karena saat masuk ke kamar tadi ia mendapati sang putra mondar-mandir penuh gelisah.
Rimba lalu melirik ayahnya dan berkata, “Rimba izin menginap di rumah Om Marcus ya.”
“Tidak boleh!” jawab Stevan cepat, nada suaranya jelas penuh penolakan.
"Padahal aku cuma mau main sama adik sepupuku yang lain lho," protes Rimba, berusaha merayu.
“Main biasa saja, nggak perlu sampai nginep!” tegas Stevan, tak mau ambil risiko sedikit pun.
Rimba cemberut, tapi dalam kepalanya rencana nekatnya belum sepenuhnya batal.
“Cuma seminggu saja kok nginap di rumah Om Marcus,” bujuk Rimba lagi dengan nada manja.
“Sekali tidak ya tidak, Rimba!” tegas Stevan, kali ini tanpa memberi celah untuk kompromi.
“Padahal Rimba tuh mau ngerjain Om Marcus tahu,” lanjut Rimba, masih mencoba cari celah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Fiksi UmumRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
