94 (tidak!)

887 59 27
                                        

Seluruh anak buah Darrell akhirnya berhasil dikalahkan. Lantai markas utama penuh dengan tubuh yang terkapar beberapa tak sadarkan diri, sebagian terikat, dan sebagian lainnya menyerah tanpa perlawanan. Ketiga anak yang dianggap remeh itu ternyata adalah badai nyata yang tak bisa dihentikan.

Argo menjatuhkan dirinya di lantai, membiarkan punggungnya bersandar pada dinding dingin yang penuh retakan. Napasnya terengah-engah. Pedangnya telah ia tancapkan di lantai sebagai penopang. Kedua adiknya, Rimba dan Fano, juga ikut duduk. Rimba bersandar dengan santai sambil menyeka keringat dari dahinya, sementara Fano langsung duduk di pangkuan kakaknya, menyender santai sambil memainkan alat komunikasi kecil yang ia bawa.

“Lelah juga, ya… menghabisi banyak musuh kayak begini,” keluh Rimba, meski matanya masih berbinar puas.

“Tapi seru juga sih,” ujar Fano sambil terkekeh kecil. “Kaya main game, tapi beneran.”

Argo menoleh ke arah mereka berdua dengan napas yang masih belum stabil. “Yah, saking serunya kalian berdua sampai-sampai bertingkah seperti lagi di arena game virtual,” komentarnya dengan nada lelah namun tersenyum kecil.

Rimba mengangkat kedua alisnya dan menyandarkan kepalanya ke dinding. “Yah gimana dong, bang. Nyawa kita dipertaruhkan, tapi rasanya malah nagih.” Ia lalu memeluk Fano yang masih duduk di pangkuannya dan menepuk-nepuk punggung adiknya pelan.

Suasana menjadi hening sesaat. Hanya suara angin malam yang berhembus melalui jendela-jendela pecah dan denting peluru kosong yang tergeser angin.

Namun setelah beberapa menit, Rimba mulai gelisah. Matanya menatap langit-langit. “Papa lama banget sih… menghadapi si Darrell itu,” gumamnya. Kekhawatiran tersirat di suaranya, meski ia berusaha terdengar santai.

Argo menghela napas. “Dia licik. Punya banyak trik. Wajar kalau papa agak kesulitan menyudahi semuanya.”

Fano mengangguk, meski ia juga tampak mulai tak sabar. “Aku pikir papa sudah menjatuhkannya. Tapi mungkin Darrell punya senjata cadangan atau bodyguard rahasia.”

“Jam berapa sih sekarang?” tanya Rimba tiba-tiba.

Argo melirik jam kecil di pergelangan tangannya. “Kita udah di sini sekitar satu jam empat puluh menit.”

“Aku nanyanya jam, bang! Bukan durasi kita di sini!” kesal Rimba sambil melotot sebal.

Argo membalas santai, “Kau tuh yang ngomongnya nggak jelas. Aku jawab berdasarkan logika.”

Rimba langsung duduk tegak dan cemberut. “Ih, nyebelin banget sih! Udah capek, malah dimarahin!”

Argo tak mau kalah. “Kau yang lebih nyebelin. Suka nyalahin orang seenaknya!”

Fano yang sedari tadi duduk nyaman di pangkuan Rimba akhirnya mengangkat tangan seolah jadi penengah. “Ayolah kalian… kayak anak kecil aja. Bisa nggak berhenti bertengkar lima menit aja?”

Mereka bertiga saling berpandangan. Lalu seperti kesepakatan tak tertulis, tawa kecil pecah dari ketiganya hampir bersamaan. Letih, tapi ada rasa hangat yang tak bisa disembunyikan. Mereka adalah keluarga dan dalam keluarga, perdebatan kecil seperti itu hanyalah tanda bahwa mereka masih saling peduli.

Di tengah kekacauan malam itu, di antara reruntuhan dan bayang-bayang perang antar mafia… tiga anak lelaki itu tetap menjadi anak-anak, dengan tawa, keluh kesah, dan kekuatan hati yang luar biasa.

Di ruangan atas yang sunyi, hanya suara benturan dan derak furniture hancur yang terdengar. Stevan dan Darrell masih bertarung sengit. Keringat bercampur darah mengalir di pelipis mereka. Darrell menggunakan pisau panjang di tangan kanannya, sementara Stevan tetap memilih bertarung tanpa senjata, meski tubuhnya telah penuh luka.

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang