Akhirnya hari gajian tiba. Rimba merasa senang bisa mendapatkan gaji dari kerja kerasnya. Setelah restoran tutup, dia mengantri di belakang, karena namanya terakhir dalam absen.
Saat giliran dia tiba, Rimba tersenyum melihat amplop cokelat yang diterimanya. Namun, dia merasa aneh melihat satu lembar uang yang jarang dia pakai.
Rekan kerjanya yang melihat kebingungannya bertanya, “Kenapa bengong, Rimba?”
“Aku jarang tahu kalau uang seribu ada bentuk logam dan kertasnya,” jawab Rimba polos.
Pemuda itu hampir mencubit pipi Rimba, tapi Rimba menepisnya. Dia tidak suka pipinya dicubit karena sakit.
“Sekarang aku percaya, kamu anak orang kaya,” ujarnya.
“Mengapa begitu?” tanya Rimba bingung.
“Soalnya kamu nggak tahu uang pecahan seribu,” jawabnya.
“Aku diajarin papa, kalau jajan di pinggir jalan nggak perlu kembalian,” jawab Rimba.
“Pantas saja,” ujar temannya.
Rimba lalu menghubungi Stevan. Tak lama, Stevan mengangkat telepon dan bilang akan datang dalam 10 menit. Benar saja, Stevan datang dan langsung mencium kening Rimba.
Rimba menyerahkan amplop cokelat kepada Stevan dengan polos. Stevan terkejut tapi menerima amplop tersebut tanpa membantah.
“Uang buat memperbaiki ulahku soal kaca mobil guru,” kata Rimba.
“Kita hitung di rumah aja, nak,” jawab Stevan.
Rimba pamit dan pulang. Sepanjang perjalanan, dia aktif bercerita tentang para pelanggan yang dia layani.
“Kakak pas jam dua siang, dapat pelanggan yang buat kaget tahu,” kata Rimba.
“Memangnya kenapa?” tanya Stevan, fokus menyetir.
Tangan kiri Stevan tidak diam. Ia mengelus rambut Rimba yang masih lepek karena keringat.
“Kukira dia Yanti, ternyata dia Yanto!” seru Rimba.
“Banci?” tanya Stevan memastikan.
“Iya, pas aku panggil kakak dia marah, bilang panggil 'mba' aja. Dia malah godain kakak, merinding deh!” gerutu Rimba.
“Kakak jangan seperti dia, nak. Itu melanggar norma dan agama. Walau kita pendosa, jangan menyalahkan kodrat lahir kita,” nasihat Stevan.
“Kakak aja benci warna pink, lebih pilih pergi kalau ada banci di sekolah,” kata Rimba.
“Dunia ini makin gila,” ujar Stevan.
“Kakak udah lama nggak bunuh orang?” tanya Rimba.
“Agus target sempurna tuh,” saran Stevan.
“Dia nggak menghina fisik kok, cuma judes dan sok berkuasa,” jawab Rimba.
“Kebetulan minggu ini ada koruptor dari negara lain yang akan kesini,” kata Stevan.
“Koruptor dari negara mana?” tanya Rimba.
“Pokoknya ada. Kamu bantu papa menangkapnya, abang kamu ada misi lain,” jawab Stevan.
“Adek nggak ikut?” tanya Rimba.
“Enggak perlu,” jawab Stevan.
Rimba kembali bercerita, dan mereka akhirnya tiba di rumah. Stevan yang ingin bicara menahan diri karena Rimba sudah tertidur lelap.
Dengan hati-hati, Stevan membuka pintu mobil dan berjalan memutar ke kursi sebelah. Setelah beberapa usaha, dia berhasil menggendong Rimba.
Stevan menatap wajah putranya yang tertidur lelap di pelukannya. Meski Rimba sudah bukan anak kecil lagi, tetap saja ada momen-momen seperti ini yang mengingatkannya pada masa lalu saat Rimba masih bocah yang selalu merengek ingin digendong setiap kali kelelahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
