Pagi yang seharusnya damai berubah menjadi kekacauan total ketika suara teriakan menggema dari kamar pribadi Stevan. “RIMBAAA!!!”
Suara itu begitu kencang hingga menggema ke seluruh penjuru rumah, membuat para pengawal refleks menoleh, dan para pelayan yang sedang bekerja nyaris menjatuhkan barang-barang mereka.
Stevan, sang duda tiga anak, berdiri di tengah kamarnya dengan wajah merah padam. Di tangannya, ia memegang selembar dokumen penting atau lebih tepatnya, bekas dokumen penting, yang kini penuh dengan coretan-coretan asal dan gambar-gambar aneh khas karya tangan jahil putranya.
Sementara itu, sang pelaku, Rimba, bukannya merasa bersalah atau takut, malah tengah bergelantungan di salah satu tiang rumah, memeluknya erat seperti monyet di hutan.
“AKU TIDAK TURUN! AKU TAKUT DIPUKUL!” teriak Rimba sambil makin mengeratkan pelukannya ke tiang.
Stevan menghela napas panjang, berusaha mengendalikan amarahnya. “Rimba Dan Jovetic! Turun sekarang juga sebelum Papa yang naik ke sana dan—”
“PAPA GAK BISA NAIK, KAN? PAPA PUNYA ENCOK! PASTI MUDAH CAPEK!” potong Rimba cepat, suaranya penuh kepercayaan diri.
Stevan semakin kesal. Dia benar-benar ingin memarahi anaknya, tetapi sayangnya, Rimba benar. Dengan usia yang tak lagi muda dan kerjaan yang menumpuk, Stevan memang enggan melakukan hal-hal yang terlalu melelahkan, apalagi memanjat tiang rumah demi menangkap satu bocah bandel.
Beberapa pengawal yang menyaksikan adegan ini saling bertukar pandang, mencoba menahan tawa. Namun, ekspresi Stevan yang semakin gelap membuat mereka buru-buru memasang wajah serius kembali.
“Rimba, turun sekarang atau—”
“ATAU APA? PAPA MAU MENGHUKUM AKU? PAPA GAK TEGA KAN?!” Rimba menyeringai, masih bertahan di tiangnya.
Stevan menghela napas panjang sekali lagi, mencoba meredam amarahnya. “Baiklah, kalau begitu…”
Stevan menoleh ke salah satu pengawalnya. “Panggilkan Argo.”
Mata Rimba langsung membelalak. “JANGAN!!!”
Terlambat. Stevan sudah memberi perintah, dan beberapa menit kemudian, langkah kaki seseorang terdengar mendekat. Argo, sang anak tertua, muncul dengan ekspresi tenang namun mengintimidasi.
Rimba langsung menegang. Dia tahu betul, kalau Argo yang turun tangan, maka hidupnya tamat.
Dengan suara santai namun menusuk, Argo berkata, “Rimba. Turun.”
Rimba menelan ludah, berkeringat dingin. “E-Eh, Abang… Gak bisa negosiasi dulu?”
Argo hanya menatapnya dingin.
Seketika, tanpa protes lebih lanjut, Rimba langsung melonggarkan pelukannya pada tiang, lalu meluncur turun dengan sangat patuh.
Stevan tersenyum penuh kemenangan. “Bagus. Sekarang, kita bicara soal dokumen itu.”
Rimba menunduk, mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Kenapa dia tidak memikirkan konsekuensi ini sebelum coret-coret dokumen ayahnya?
Stevan berdiri dengan tangan bertolak pinggang, napasnya masih belum stabil sejak insiden pagi itu. Dokumen penuh coretan di tangan kanannya sudah cukup menjelaskan betapa hancurnya pagi yang seharusnya tenang. Ia menatap Rimba yang kini duduk bersila di lantai, tampak tak merasa bersalah sama sekali.
“Rimba,” ucap Stevan, suaranya masih ditahan agar tidak meledak. “Papa tanya baik-baik… kenapa kamu coret-coret dokumen penting Papa?”
Rimba mengangkat wajahnya dengan ekspresi polos dan santai. “Soalnya di situ ada gambar, Pa. Aku pikir itu buku gambar.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Narrativa generaleRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
