63 (rusuh lagi)

871 72 10
                                        

Besok paginya, matahari baru saja mengintip malu-malu di balik tirai langit. Udara masih segar dan dingin ketika Rimba terbangun, mengucek mata sambil menguap lebar. Ia melihat sekeliling, menyadari bahwa dirinya masih berada di rumah om Edward. Di sampingnya ada selimut yang dilipat rapi dan aroma roti panggang menyeruak dari dapur.

Langkah kakinya menuju ruang makan terhenti ketika mendapati sosok yang tak asing duduk di sana sang papa, Stevan. Pria itu terlihat lelah, namun senyumnya muncul begitu melihat Rimba.

“Pagi,” ucap Stevan pelan.

Rimba diam sejenak, lalu berjalan pelan mendekat. “Papa nginep di sini?”

“Di mobil,” jawab Stevan jujur. “Papa nggak mau pulang sebelum kamu ikut pulang juga.”

Rimba menarik kursi dan duduk, menunduk tanpa berkata apa-apa. Edward hanya menaruh roti dan susu di meja, lalu pamit mengajak Erin dan Elizabeth keluar sebentar untuk memberi ruang.

Setelah keheningan yang cukup panjang, Stevan membuka suara, “Papa nggak maksud nyakitin kamu, Rimba.”

“Aku cuma... nggak mau ibu baru,” balas Rimba lirih. “Aku masih inget Mama.”

Stevan mengangguk pelan. “Papa juga masih inget Mama. Setiap hari. Tapi papa juga takut kamu, Argo, dan Fano... tumbuh tanpa sosok yang bisa nemenin kalian kalau papa lelah atau... papa nggak ada nanti.”

“Jangan ngomong gitu!” potong Rimba cepat, matanya memerah. “Papa nggak boleh pergi!”

Stevan mendekat, mengelus rambut Rimba dengan lembut. “Maaf ya, Papa terlalu buru-buru. Papa cuma... pengen kita semua baik-baik aja. Tapi sekarang Papa ngerti... kamu belum siap.”

Rimba akhirnya menangis pelan. “Aku cuma pengen Papa sama aku. Papa doang yang aku punya sebagai sosok orangtua.”

Stevan memeluk Rimba erat, membiarkan anak keduanya menangis di dadanya. “Papa janji... nggak akan ambil keputusan besar tanpa kamu lagi. Kita jalanin bareng, pelan-pelan.”

Pelukan itu hangat, dan pagi itu, di tengah rumah orang lain, dua hati yang sempat renggang kembali menyatu.

Edward, dari balik jendela, melihat pemandangan itu dengan senyum tipis. Erin menggamit tangannya pelan. “Sudah baikan?”

Edward mengangguk. “Sudah. Rimba anak keras kepala, tapi hatinya tulus.”

Dan pagi itu, dimulai dengan janji baru bahwa keluarga ini, seaneh dan seberisik apapun, tetap memilih untuk bertahan bersama.

Selesai sarapan dan berterima kasih pada Edward dan keluarganya, Stevan dan Rimba pun berpamitan pulang. Rimba sempat memeluk Elizabeth dan berjanji akan main lagi nanti, lalu mencium tangan Erin sebelum akhirnya melangkah ke mobil bersama sang ayah.

Di perjalanan pulang, suasana awalnya tenang. Rimba bersenandung kecil sambil memainkan jendela mobil, lalu tiba-tiba nyeletuk dengan polosnya, “Pa, nanti di rumah Rimba mau coba nyolek cabe terus diolesin cokelat. Pasti rasanya unik!”

Stevan langsung menoleh dengan ekspresi kaget. “Apa? Nggak boleh, Rimba! Itu bisa bikin perut kamu sakit!”

Rimba malah tertawa kecil, “Lho, kan katanya eksperimen itu bagus buat kreativitas.”

“Kalau eksperimennya merusak perut, itu namanya cari masalah,” balas Stevan sambil geleng-geleng kepala. “Papa larang, titik. Jangan aneh-aneh lagi, ya.”

“Tapi-”

“Enggak pake tapi. Udah cukup drama kamu minggu ini,” potong Stevan dengan tegas tapi tetap lembut.

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang