36 ; Mengenal

8.1K 915 148
                                        

OBROLAN TERAKHIRNYA DENGAN Wilona masih memberatkan Nares hingga dua hari berikutnya.

Penolakan sang wanita untuk kedua kali seharusnya menjadi pertanda baginya untuk berhenti merepotkan diri dengan memikirkan sosok itu. Nyatanya, Nares tetap tak bisa melamun tanpa teringat nama Wilona. Hubungan asing yang tumbuh di antara mereka membuatnya sulit untuk kembali bersikap acuh tak acuh.

Wilona masih sering membuatnya kesal. Perempuan itu terlalu sok pintar. Dia kelewat sering membuatnya merasa payah karena tak bisa menimpali argumen sok cerdasnya.

Ketika awal bertemu, Nares amat tak menyukainya. Sekarang pun kalau bisa memilih, lebih baik dia tak menaruh ketertarikan khusus padanya. Jadi, kenapa sulit sekali untuk kembali mengabaikan kehadiran Wilona?

Alunan suara musik yang menyumpal telinganya bahkan tidak cukup membuatnya berhenti melamunkan hal ini. Begitu juga laju treadmill yang sedang dia imbangi.

Hela napasnya mulai stabil ketika pendinginan ringannya selesai. Dia melirik jam pintar yang melingkar di tangannya. Setelah memastikan durasi pendinginan yang memang sudah cukup, Nares beranjak dari alat lari otomatis itu. Dia menghampiri bangku dan mengusap kasar jejak keringat di dahinya dengan handuk kecil.

Bising suara musik di telinganya kini dimatikan. Nares beranjak dari gimnasium setelah meneguk minuman.

Minggu keduanya mengunjungi Sparta sudah mulai membiasakannya dengan rasa lelah pasca berolahraga. Sendi dan otot tubuhnya kini tak lagi meraung-raung ketika beraktivitas di gimnasium. Dia juga tak sepucat minggu lalu ketika baru kembali mencoba memaksakan tubuhnya untuk bergerak.

Kemajuan kecil ini takkan dia beritahukan pada orang-orang yang telah menyarankannya untuk memperbaiki gaya hidup. Nares masih enggan mengakui kebenaran ucapan mereka.

Nares menghampiri sebuah ruangan lain di lantai dua ketika melihat waktu yang masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Pulang ke rumah sepertinya masih terlalu awal untuk sekarang. Beberapa hari terakhir, dia mulai mengeksplor beberapa fasilitas lain yang juga disediakan studio martial arts ini. Salah satu dari fasilitas itu adalah ruang latihan yang sering dipakai untuk sparring bagi mereka yang menekuni bela diri, entah itu untuk keperluan kompetisi ataupun sekadar hobi.

Nares bahkan sudah mengenal beberapa orang yang sering berada di sana. Selain Cakra, ada pelatih senior lain yang bernama Rudi.

Lelaki dengan potongan rambut cepak itu sedang mengawasi dua orang anggota studio yang sedang berlatih tanding.

Dia memanggil Nares begitu melihatnya. Kebetulan, Nares juga hendak menghampirinya.

"Mau coba lawan dia?" kata pria berpotongan cepak itu. Perawakannya jauh lebih besar dari Nares, walaupun dia lebih pendek darinya. "Tiga bulan kemarin dia masuk semifinal kejurnas karate. Anaknya belum boleh latihan lagi karena udah mau ujian sekolah. Jadi, dia larinya ke sini."

Nares melihat latihan tanding itu, menyaksikan seorang pemuda yang sedang melawan anak lain yang tampak seumuran dengannya.

"Lo mau gue tanding sama anak SMA?" balas Nares dengan nada malas. "Harusnya lo minta gue ngelawan lo sekalian, Bang."

Pria di samping Nares tertawa. Dia memukul keras pundak Nares, membuatnya hampir terhuyung, padahal pukulan itu hanya tepukan biasa.

"Kena tonjok sekali palingan lo langsung KO," ujarnya gamblang. Dia lalu menunjuk dua anak yang sedang diawasinya. "Cara berantem lo tuh nggak punya teknik, Res. Noh, lihat. Dia yang anak SMA malah lebih jago dari lo. Dua tahunan lagi paling dia ikut PON buat ngewakilin Jakarta."

"Gue bukan atlet, mana tau teknik yang bener gimana," balas Nares, tetap memiliki banyak alasan untuk menjawab. Dia mengedarkan pandangan, kemudian menatap pembatas ruangan yang celah-celahnya memperlihatkan keberadaan cukup banyak orang. Ada keramaian yang riuh di sana. "Kelas-kelas reguler kalau sparring juga di sini?"

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang