48 ; Terjatuh

7.8K 801 120
                                        

MESKIPUN MASIH BERADA di dalam kota, jalan menuju gedung penyimpanan bekas terasa cukup mencekam. Jalan raya sudah sepi. Map digital menuntun Nares menuju pinggiran kota, melewati pemukiman kumuh dan area yang jauh dari hiruk-pikuk Kota Jakarta.

Tempat-tempat pembuangan akhir dan lokasi yang rawan dengan tindakan kriminal—Nares baru saja melewatinya.

Jakarta dikenal sebagai kota yang maju, jauh lebih modern dibanding kota-kota besar lain di Indonesia. Akan tetapi, ketimpangan ekonomi dan sosial di sini bukanlah rahasia. Nares sudah mengetahuinya, meskipun dia tidak pernah menginjakkan kaki langsung di tempat-teman seperti ini.

Dewan yang lebih sering turun ke tempat-tempat tersebut.

Fakta bahwa Jonathan menggiringnya ke lokasi semacam ini hanya menjelaskan satu hal, yakni mengenai Jonathan yang merencanakan sesuatu untuk melukainya.

Dia mungkin benar-benar akan membunuhnya.

Nares belum menyadari hal ini akibat kemarahan yang memuncak. Isi kepalanya berkabut oleh emosi. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah cara untuk menyeret pria bajingan itu ke pintu kematian.

Nares tidak mempertimbangkan beberapa kondisi lain. Dia tidak bisa berpikir jernih setelah menghadapi musibah dan malapetaka di depannya.

Sinyal waspada dalam dirinya seolah lenyap. Nares hanya berfokus untuk segera sampai di tempat tujuan. Dia menyetir dengan kecepatan tinggi, membelah kesunyian malam, di tengah lampu jalan yang makin terlihat buram.

Nares hanya dapat memikirkan kejatuhan Jonathan—tubuh tak berdaya pria itu setelah habis di tangannya.

Dia ingin melihat pria bajingan itu berlumuran darah, seperti yang dia lihat dari Wilona.

Hela napasnya masih memburu. Nares tak merasakan dingin ketika embusan angin malam menampar tubuhnya. Jaket yang dia pakai tak begitu tebal. Namun, adrenalin dan tumpukan amarah membuatnya kebas sehingga dia tak dapat merasakan rasa dingin itu.

Keadaan terakhir Wilona menyulitkannya untuk meredam kemarahan.

Nares mengencangkan cengkeraman pada kemudi, lalu menambah laju kendaraan itu. Tak butuh waktu lama hingga dia sampai di sebuah gedung bekas yang ada di pinggir kota.

Sebuah gang kecil yang dilewati jauh lebih sepi dibandingkan jalan raya. Lampu-lampu di sekitar gedung menyala redup, memberi pencahayaan minim yang membuat tempat tersebut makin terlihat mengancam dan mengerikan.

Seperti sebuah gedung penyimpanan dari perusahaan besar lainnya, gedung ini tampak besar. Ada tiga bangunan utama di sana. Namun, bangunan tersebut tampak terbengkalai. Gerbang utamanya berkarat, halaman dan lingkungan di sekitar gedung telah ditumbuhi banyak semak belukar. Tak hanya itu, dinding kaca dari gedung itu juga sudah banyak yang pecah.

Plang bertuliskan nama perusahaan terlihat memudar.

Nares mengatupkan mulut ketika mendapati kondisi mengerikan dari tempat tersebut.

Dia mulai memikirkan tentang Jonathan yang mungkin hanya mempermainkannya.

Walau begitu, dia tetap memarkirkan mobilnya di sana. Dugaan awalnya perlahan sirna ketika dia mendapati adanya pencahayaan di dalam gedung tersebut, menyala terang di tengah kegelapan malam.

Nares menggertakkan rahang dengan keras. Tanpa banyak berpikir, dia meraup pisau lipat yang berada di atas dashboard. Benda tersebut dikantongi ke dalam saku jaket. Baru kemudian, dia keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu masuk gedung.

Pintu utama berbahan besi itu menjulang di hadapannya, terbuka lebar. Hanya dari kejauhan, dia bisa melihat keberadaan beberapa orang yang sedang memunggunginya. Ada yang tengah menyulut rokok, ada pula yang baru meneguk minuman dari sebuah kaleng.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang