Episode 117(127)

25 3 0
                                        

Mall Bulan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mall Bulan

Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah begitu pula pada Fira.

Ia menjadi tontonan setiap pengunjung Mall Bulan, gadis itu berdiri di depan eskalator sambil memeluk lengan Maulana erat.

Fira tidak pernah naik eskalator, takut dan selalu berfikir negatif jika melihat tangga berjalan tersebut.

Maulana terkekeh melihat Sang Istri ketakutan hanya untuk menaruh kaki di atas eskalator, ia tidak peduli pandangan orang yang menatap mereka dengan berbagai macam pandangan.

Maulana sedikit merendahkan tubuh lalu mengangkat tubuh mungil sang Istri ke dalam gendongannya lalu membawanya naik tangga berjalan.

"Malu-maluin sekali deh Mas." Fira menutupi wajah dengan kerudungnya setelah sampai di lantai 3.

Maulana menurunkan sang Istri di lantai dengan lembut dan penuh hati-hati."Mas tidak merasa ini memalukan, Sayang."

"Tapi mereka jadi tahu kalau Mas punya Istri kampungan." Fira merapikan bajunya.

"Terkadang orang kampung itu justru lebih baik dari orang kota, di kampung kita akan melihat persaudaraan dan saling bertetangga antara satu dengan yang lain." Maulana memperhatikan sang Istri, menurutnya gadis itu sangat imut.

"Tapi di kampung itu sering dighibahin tetangga." Fira meraih tangan sang Suami lalu menggenggamnya lembut.

Maulana tersenyum kecil, mereka berdua berjalan menuju baju-baju perempuan.

"Sayang, kamu lihat semua deretan baju ini? Kamu pilih sesuka hatimu, yang penting muat di tubuhmu. Kamu juga boleh memilih baju seksi atau rok mini, Mas akan tunggu di sini." Maulana mengangkat tangan mengarah pada deretan baju wanita.

"Tapi kan, kata Mas, seorang wanita muslimah tidak boleh memakai baju seksi?" Fira memandang sang Suami heran.

"Jika untuk di luar rumah memang tidak boleh, tapi jika hanya di dalam kamar. Jangankan hanya baju terbuka, tidak pakai baju juga Mas akan senang." Maulana tersenyum genit.

Fira mengangkat tangan mencubit lengan sang Suami."Ih, Mas mesum."

Maulana terkekeh."Baiklah, kamu pilihlah."

Fira mengangguk, ia pun berjalan mendekati deretan busana muslimah, dalam hati sangat ingin membeli semuanya namun saat meraih salah satu busana warna kuning keemasan, matanya membulat saat melihat harganya.

"2 juta? Mahal sekali." Fira melepaskan kembali busana itu, lalu bergeser ke deretan berikutnya.

Maulana menoleh pada baju dinas seorang Istri, ia pun berjalan mendekati tempat itu lalu memilih beberapa.

Maulana tersenyum membayangkan saat sang Istri memakai baju dinas di depannya.

"Tampan tapi mesum."

Dahi Maulana berkerut mendengar bisikan dua orang wanita membicarakan dirinya, ia pun menghela nafas tapi tetap melanjutkan mengambil beberapa baju dinas tersebut.

Maulana menoleh pada sang Istri, gadis itu tidak terlihat memilih satupun. Ia berjalan menghampiri sang Istri."Sayang, kenapa belum ada yang kamu pilih?"

Fira mengalihkan perhatian pada Sang Suami, pandangannya beralih pada baju dinas wanita di tangan pria itu."Itu Mas baju dinas wanita?"

Maulana menunjukkan baju pilihannya."Mas belikan untuk mu."

Fira mengambil satu lalu melihat harganya."Mas, ini mahal sekali."

Maulana sedikit terkejut."Sayang, kamu tidak perlu melihat harganya. Yang penting nyaman saat kamu pakai, apa jangan-jangan kamu belum memilih karena melihat harganya?"

Fira mengangguk."Iya, Mas. Tadi ada busana bagus sekali, warnanya kuning keemasan, ada seperti mutiara atau apa deh itu. Aku sangat suka, tapi harganya dua juta." Bahu gadis itu melorot, ingin beli tapi takut dengan harganya.

Rasanya Maulana ingin memakan Istrinya sekarang juga, disuruh pilih mana yang disuka tapi malah sibuk dengan harga.

"Kamu ambil saja, Sayang. Kamu tidak perlu memikirkan harganya, Mas yang bayar nanti."

"Tapi, Mas..." Fira masih tidak yakin.

"Tidak apa-apa, kamu ambil saja." Maulana bicara dengan sungguh-sungguh.

Fira diam sejenak, kemudian mengangguk. Ia pun kembali ke deretan baju kuning keemasan itu, rupanya di deretan itu masih banyak busana dengan harga seperti itu bahkan lebih tinggi.

Maulana berjalan mendekati Istrinya, melihat sang Istri hanya diam dengan tatapan penuh minat pada busana itu, dirinya merasa aneh.

Maulana mengulurkan tangan mengambil beberapa busana muslim dengan harga dua juta lebih itu, baginya harga segitu sangat wajar karena merek terkenal meski merek lokal.

Fira menoleh pada Maulana."Mas."

"Sayang, kamu jangan terlalu banyak mikir. Sekarang kita bayar ini, lalu pergi ke tempat sepatu atau sandal buat kamu." Maulana berkata dengan lembut.

Fira masih tidak mengerti saat Maulana membawanya di kasir, sebelum menikah, dirinya bahkan tidak pernah membeli busana dengan harga 400 ribu, apalagi dengan jumlah banyak.

Setelah membayar belanjaan, Fira dibuat syok dengan total pembayaran yang dikeluarkan oleh Maulana, namun sekarang pria itu membawanya ke bagian sandal wanita.

Fira diam tertegun melihat setiap harga sandal khusus wanita itu, hanya sandal harganya berkisar antara 300 ribu sampai 3 juta keatas.

Tatapan mata Fira tertuju pada sebuah sandal di etalase, sandal mewah dengan aksen kristal di bagian tepi dan sol terbuat dari karet serta PVC.

Matanya membuat saat melihat harga 18 juta pada sandal itu, hanya sebuah sandal saja harganya selangit.

"Kamu suka itu?" Maulana berdiri di belakang Fira.

Fira menggeleng."Tidak, aku tidak suka. Aku suka yang bagian rak sana saja." Ia menunjuk pada rak sandal harga 200 ribuan.

Maulana tersenyum kecil lalu meminta pelayan toko itu untuk mengambil sandal dengan aksen kristal tadi."Jika kamu suka, jangan berbohong. Mas tidak suka Istri kecil Mas berbohong." Pria itu bicara dengan nada rendah.

"Tapi itu sangat mahal, Mas." Fira bicara dengan lirih.

Maulana tersenyum, ia meraih sandal dari tangan pelayan toko lalu memberikan pada sang Istri."Terimalah dengan senang hati, Mas senang jika bisa membuat Istri Mas bahagia."

Fira hampir tidak percaya bahwa sekarang di tangannya terdapat sandal dengan harga mahal, seperti para wanita kaya.

"Sekarang kamu mau beli apa lagi?" Maulana kembali bertanya.

"Tidak ada, aku tidak mau Mas mengeluarkan banyak uang lagi. Ini saja Mas mengeluarkan uang untuk ku lebih dari 20 juta." Fira menarik tangan Maulana pergi, ia tidak terbiasa dengan barang-barang mewah, rasanya sangat aneh sekarang.

"Sayang, kamu itu Istri Mas. Apa yang salah dengan memanjakan mu?" Maulana bicara sambil ditarik-tarik oleh Fira.

"Ada apa?" tanya Maulana saat tiba-tiba Fira berhenti menariknya.

Maulana mengikuti arah pandang sang Istri, ternyata sampai pada tangga berjalan."Kamu takut?"

"Pakai tanya lagi." Fira mengerucutkan bibirnya.

Maulana sedikit merendahkan tubuh lalu mengangkat tubuh mungil itu dan menaruh ke dalam gendongannya, terlihat tatapan iri, kagum dan cemburu melihat kemesraan antara Maulana dan Fira.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang