Ekspresi wajah Fira berubah merah, ia terbiasa bermesraan dengan sang Suami dan bermanja di dalam rumah hingga lupa kalau masih ada Antonio dan yang lain.
Maulana bangkit dari tempat duduknya."Ayo, kita makan malam."
Fira mengangguk, ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan sang Suami dan teman-temannya.
Fira duduk di kursi meja makan sebelah kanan, Maulana paling ujung sedangkan Catherine sisi kiri.
Naira, Antonio, Zayda dan Andrian serta Angga mengambil tempat duduk yang kosong.
Meja makan dipenuhi dengan hidangan mewah dan langka yang membuat Naira dan Angga tercengang. Di atas meja, terdapat piring-piring berisi makanan yang sangat eksklusif, seperti kaviar Almas yang berwarna hitam mengkilap, foie gras yang lembut dan kaya rasa, serta lobster yang disajikan dengan cara yang sangat istimewa.
Naira dan Angga tidak bisa tidak memandang dengan takjub pada hidangan-hidangan tersebut. Mereka tidak pernah melihat makanan yang begitu mewah dan langka sebelumnya.
"Makanlah." Maulana mempersilahkan mereka untuk makan.
Diantara hidangan mewah itu ada satu hidangan sederhana namun tampilannya indah, yaitu kecambah, itu adalah makanan kesukaan Fira.
Maulana meraih piring berisi ikan tuna yang sudah dimasak oleh koki profesional lalu diberikan pada Fira."Makan ini, Sayang. "
Fira mengangguk, ia pun menuruti perintah Maulana, dalam hati sangat bersyukur bisa makan dengan hidangan mewah dan lezat.
"Mas, minggu besok aku boleh nengok Ibu dan Ayah tidak?" Fira menoleh pada sang Suami.
"Tentu, Sayang." Maulana memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Aku ingin meminta koki membuatkan makanan yang enak, bolehkan, Mas?" Gadis itu kembali bertanya.
"Boleh, kenapa harus bertanya, Nak? Ivan adalah Suamimu, rumah ini rumah mu, semua pelayan dan koki di sini artinya boleh kamu perintah." Catherine menyahut.
Fira mengalihkan perhatian pada Catherine, ia tersenyum penuh rasa syukur."Terimakasih, Ibu."
"Kamu juga boleh membawa keluargamu tinggal di rumah ini, aku yakin Ivan tidak akan keberatan." Catherine kembali bicara.
Fira diam sejenak, meski sang Suami mengizinkan tapi dengan karakter Ibunya, ia yakin tidak akan betah.
"Ibuku sangat cerewet, nanti aku akan dimarahi terus, Bu. Aku akan disuruh nyuci baju, membersihkan rumah."
Naira mengalihkan perhatian pada Fira."Itu wajar, Fir. Kita wanita, setelah menikah akan hidup bersama seorang Suami dan berbakti. Masak, membersihkan rumah dan semua pekerjaan rumah."
"Tapi aku tidak pernah Melakukan itu." Suara Fira mendadak lirih.
"Tidak perlu, Sayang. Mas sudah gaji banyak orang untuk melakukan semua itu, kamu hanya perlu temani Mas saja." Maulana menoleh pada sang Istri, tatapan pria itu mengisyaratkan hal intim.
Catherine mengambil daging tuna lalu disuapkan pada Maulana."Biarkan Istri mu makan dengan tenang, otakmu selalu memikirkan urusan ranjang."
Fira menahan senyum melihat ekspresi Maulana, pria itu terlihat kesal karena tiba-tiba disuapi oleh Catherine.
"Enak sekali jadi Istrinya Pak Ivan, hanya disuruh menemani." Naira menyeletuk.
" Jarang bisa berdiri setelah bercinta itu?" Fira berkata dalam hati menanggapi ucapan Naira.
"Mas Ivan itu sangat mesum, setiap bersama ku pasti hanya menginginkan itu." Fira terus memaki sang Suami dalam hati.
"Pak Ivan itu mesum, Naira." Antonio menyahut.
Maulana memicing tajam."Bukankah kamu hanya iri, Antonio?"
"Tidak kok, Pak. Artinya kalau menjadi Istri Pak Ivan itu harus kuat dengan kemesuman Bapak." Antonio mengusap bibirnya dengan tisu setelah selesai makan.
Maulana menyeringai tipis, ingin sekali rasanya melempar Antonio ke benua Antartika, bisa-bisanya menyebut dirinya mesum.
"Ya tidak apa-apa, jadi setiap malam bisa main kuda-kudaan dengan pria tampan." Zayda menyahut dengan senyum mengembang, matanya memejam membayangkan dirinya main kuda-kudaan bersama Wali Kelasnya.
"Kalian masih kecil, jangan berfikir aneh-aneh." Maulana menyudahi pembicaraan, menurutnya itu sangat tidak bermanfaat untuk anak usia SMA kecuali pada Istrinya.
Fira tersenyum sendiri, ia menikmati makanan di depannya dengan santai.
Semua orang sudah selesai makan, namun Fira masih belum, gadis itu selalu memakan semua hidangan yang ada di atas meja dengan porsi sedikit-sedikit namun semua dicicipi..
Maulana duduk dengan santai di meja makan menunggu sang Istri selesai makan, sedangkan Antonio dan yang lain menatap bosan pada Fira, menurut mereka cara makan gadis itu sangat lama.
"Fir, kamu makan lama sekali." Naira menunjuk makanan di atas piring Fira.
"Hmm." Antonio mengangguk."Lihatlah, semua orang sudah bubar. Apakah kamu selalu menjadi orang terakhir yang ada di meja makan?"
Fira mengangkat pandangan melihat pada Antonio dan Naira."Tidak, aku di sini dengan Mas Ivan."
"Tapi Pak Ivan sudah selesai makan, artinya Pak Ivan hanya menunggu kamu selesai saja, Fira." Naira kesal sekali dengan sahabatnya itu.
Fira mengalihkan perhatian pada sang Suami, pria itu duduk tenang sambil memainkan ponsel, entah apa yang sedang dilihat dalam ponselnya tersebut.
Fira tersenyum lalu kembali memakan makanannya dengan tenang."Kata Mas Ivan aku tidak apa-apa makan dengan tenang dan sampai puas, jadi ya aku ikut saja."
"Beruntung sekali kamu punya Suami dan Mertua yang sabar, coba aku jadi Ibu mertua mu, sudah ku omeli kamu, Fir." Naira bicara dengan kesal.
Fira menyelesaikan makanannya setelah puas dan kenyang, ia hendak meraih tisu tapi tidak sampai.
Maulana mengambilkan tisu itu lalu mengelap mulut sang Istri dengan lembut."Apakah sudah?" Ia bertanya dengan sabar.
Fira mengangguk."Iya."
"Pak Ivan tidak adil." Naira mengalihkan perhatian pada Maulana, menatap pria itu cemburu.
Maulana menoleh pada Naira."Kenapa?"
"Bapak sangat perhatian pada Fira, tapi pada kita ... Bapak sangat galak." Naira menunjuk dirinya dan teman-temannya dengan menggunakan telapak tangan.
"Jelas beda, Naira. Kamu dan yang lain murid Bapak, Bapak memperlakukan kalian sama tidak ada yang beda. Tapi Fira adalah Istri Bapak, Bapak tentu harus memperlakukan seorang Istri dengan lembut serta penuh kasih sayang." Maulana menjelaskan dengan sabar.
"Bagaimana kalau saya daftar jadi Istri ke dua." Ekspresi wajah Naira berubah ceria, tatapan mata itu menunjukkan sebuah harapan.
"Tidak." Maulana menolak tanpa basa-basi. Seketika Ekspresi Naira berubah suram.
"Satu Istri bagi Bapak sudah cukup." Maulana kembali melanjutkan ucapannya.
"Bapak punya harta sangat banyak, kalau hanya satu Istri, tentu tidak akan cukup, Pak. Jadi biarkan saja saya jadi Istri kedua Bapak." Naira masih tidak menyerah, ia tetap berusaha merayu Gurunya tersebut.
Maulana menghela nafas."Kamu ini, sekarang kalian mau menginap di sini atau pulang kerumah masing-masing?"
"Saya mau menginap di sini, Pak." Antonio menatap Maulana, terlihat sekali pancaran mata Antonio seperti ada beban yang tidak bisa diungkapkan.
Maulana mengangguk, ia tahu kalau muridnya itu sedang dalam masalah dan butuh tempat cerita, sedangkan dirinya tidak merasa keberatan bila mampu membantu sesama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
