Selesai acara resepsi, Hoseok langsung memboyong Ryujin ke kediaman Syarifuddin. Awalnya Hoseok berniat mengajak Ryujin untuk menginap semalam di hotel namun Ryujin menolak.
"Dek, kamu gak kepikiran mau bulan madu kemana kek gitu? Ke Paris, ke Inggris, ke Jerman mungkin?" Tanya Hoseok sembari menggosok surainya yang basah sehabis mandi. Ryujin yang sudah mandi lebih dulu dan memakai celana training panjang di padukan jersey tim sepak bola nampak nyaman berguling-guling di atas kasur milik Hoseok. Dulu disinilah mereka jadian, dimana saat itu Ryujin menengok Hoseok yang sedang sakit sembari membawa mangga muda hasil curiannya.
"Ngapain mo repot sih kak? Kalo mau skidipapap hubla-hubla kan disini juga bisa?"
Hoseok menggaruk tengkuknya kikuk "Iya juga sih, tapi kan vibesnya beda dek."
"Emang kakak mau yang vibesnya kayak gimana? Yang eksotis dan berbau alam? Gampang, tinggal buka aja jendela kamar kakak, pas banget kan menghadap ke pohon jambu ditaman belakang. Ntar kita nganu sambil liatin kelelawar nyuri buah jambu. Atau kalo beruntung kita bisa liat mbak Kun nongkrong"
"Hush dek! Jangan asal ngomong, ntar kalo si mbak denger gimana?" Ryujin malah ngakak melihat suaminya celingukan kesana kemari memastikan kalau sosok yang disebut tidak menampakkan diri.
"Iya-iya maaf, jadi gimana nih? Mau ritual malam pertama gak? Kalo mau aku buka baju sekarang, kalo enggak mending kita mabar FF"
Hoseok melongo sembari mengelus dada dan membaca istighfar dalam hati. Meski tak bisa di bohongi kalau wajahnya sudah memerah padam karena perkataan frontal istri kecilnya.
"Y-ya udah ayok, bentar kakak kunci pintu dulu" Dengan tangan gemetar Hoseok berbalik dan mengunci pintu kamarnya, agar saat ia tengah melakukan ritual, orang rumah tidak ada yang mengganggu.
Setelah pintu terkunci, Hoseok merasa jantungnya berdebar lebih cepat seperti habis lari maraton. Tubuhnya menegang dan gugup, padahal ia lelaki dan usianya terpaut lebih dewasa dari sang istri. Tapi kenapa Hoseok malah gugup dan Ryujin terlihat sangat santai?!
"Kak, aku perlu ganti pake ini gak?" Hoseok berbalik dan menatap Ryujin yang tengah mengangkat sepotong pakaian minim berwarna merah terang.
"Ini baju dinas kado dari mbak Yeji, katanya biar kakak tergoda. Tapi menurutku gak guna sih, bukannya kakak bakal lebih tergoda kalo aku telanjang ya?"
"Astaghfirullahalazim...bini gue" Entah sudah berapa kali semenjak sah beberapa jam lalu Hoseok beristighfar dalam hati dengan kelakuan istrinya itu.
"Kak, kakak itu suka ngegym kan? Berarti otot kakak bagus ya? Kakak punya abs dong berarti?"
Dengan kaku Hoseok mengangguk "I-iya punya dek"
Mata Ryujin langsung berbinar "MAU LIAT! AYOK CEPET KAK BUKA BAJUNYA!"
"Buka! Buka! Buka! Buka!" Ucapnya sembari bertepuk tangan seperti orang-orang yang hadir di pesta ulang tahun dan menyuruh yang berulang tahun membuka kado.
Wajah Hoseok yang sudah merah kini semakin memerah. "S-sabar atuh dek" Entah kenapa Hoseok merasa malu sendiri saat akan membuka baju.
"Ah kak Hoseok lama, sini biar aku yang buka!" Ryujin beranjak dari kasur dan mendekati Hoseok. Sementara pemuda kelahiran februari itu malah panik membuka kunci pintu kemudian keluar dari kamarnya sendiri.
"Loh, kak Hoseok mau kemana?" Hoseok berlari dari kamar menuju lantai bawah dengan Ryujin yang mengejarnya dari belakang.
"Dek, kok adek jadi serem gini sih?" Ucap Hoseok disela lari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga?!
FanfictionGimana jadinya kalo keluarga Abah Sihyuk dan 7 buntutnya yang minus akhlak tetanggaan sama keluarga Babeh Jinyoung yang punya 8 bocah prik? (S1&S2) S1=End S2=......
