"Ramadhan 2"

19 7 4
                                        

Puasa bukan halangan bagi para pencari nafkah. Apalagi untuk seorang suami dan calon ayah yang sedang mempersiapkan kelahiran Sang buah hati, ia akan melakukan segala cara agar keluarga kecilnya tidak kekurangan. Begitu pula dengan yang dilakukan Jimin. Pemuda kelahiran Oktober itu nampak rapi dengan setelan kemeja putih dipadukan celana bahan hitam. Tak lupa ia juga membawa berkas dan surat lamaran pekerjaan.

Jimin duduk tegang menghadap sang wakil pimpinan agensi yang tengah membaca surat lamarannya.

"Sebenernya lo gak perlu ribet bikin beginian juga pasti gue terima kok bang"

Jimin menghela nafas "Gue pengen kerja disini karena kemampuan gue Chan, bukan karena modal orang dalem meskipun kenyataannya begitu"

Chan mengangguk dan kembali menatap kertas di tangannya. "Kenapa lo milih ngelamar kerjaan disini bang? Kenapa gak di perusahaan om Sihyuk aja?"

"Bukannya gak mau Chan. Tapi perusahaan abah gue kan bidang properti sedangkan gue lulusan seni tari, gak nyambung. Mana pengalaman kerja gue cuma sebatas ngajar dance doang. Gue gak berbakat kayak bang Joon."

"Iya juga sih, yaudah lo bisa mulai kerja besok bang. Kebetulan agensi lagi butuh dance coach tambahan. Tadinya tuh kerjaan mau gue kasih ke Minho, tapi Minho nolak. Katanya ogah kerja sama babeh sendiri"

Senyum Jimin mengembang "Thanks ya Chan"

"Iya sama-sama, terus kerjaan lo di tempat lama gimana?"

"Kayaknya gue bakal ngundurin diri, gue mau fokus kerja ngajar trainee aja" Chan kembali mengangguk dan mengulurkan tangan sebagai tanda kalau Jimin di terima dalam keluarga besar JYP Entertainment.

Sementara itu, Seokjin sedang sibuk membuat kolak ditemani para menantu keluarga Syarifuddin yaitu Jihyo, Ryujin dan Rose. Sebenarnya hanya Jihyo yang benar-benar bekerja karena Ryujin malah diam-diam mencicipi kolak atau menyiapkan pisang yang hendak di olah. Kebetulan istri dari Hoseok itu sedang tidak puasa karena halangan. Sedangkan Rose sendiri lebih ke nonton, karena Seokjin dan Jihyo melarang bumil itu untuk ikut bekerja.

Satu minggu sudah berlalu semenjak masalah menimpa pasangan Jirose. Itu berarti sudah satu minggu pula Ramadhan berlangsung. Rose berada di kediaman Syarifuddin karena Jimin sedang sibuk mencari pekerjaan baru. Dan Jimin takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada istrinya sehingga memutuskan untuk membawa Rose ke rumahnya.

"Udah mbak Roje mending duduk aja, kasian debaynya kalo capek-capek" Celetuk Ryujin sembari bangkit dari acara jongkoknya. Barusan Ryujin jongkok di kolong meja makan sembari mencicip buah pisang yang hendak di olah.

"Bener tuh kata si bocil roblox" Timpal Seokjin yang mendapat delikan dari Ryujin. Sementara Jihyo sendiri hanya tertawa saja melihat interaksi mereka.

Rose mengangguk dan tersenyum kecil. Ia merasa bersyukur karena keluarga Jimin mau menerima dan memperlakukannya dengan baik. Tak ada satupun dari mereka yang mengucilkan atau membandingkan Rose dengan menantu yang lain seperti Jihyo ataupun Ryujin.

"Mbak Roje, gimana sih rasanya hamil?"

"Ngapain lo nanya-nanya begitu Ryu, pengen juga?" Sela Jihyo.

Ryujin merengut "Apaan sih mbak Hyo, maen nyamber-nyamber aja kayak bensin! Gue cuma penasaran kalo kita minum itu si bayi dalam perut ikut ke guyur atau enggak?"

"Ryu, lo pas pelajaran biologi bolos ya?"

"Enggak! Cuma ketiduran eheheh"

Seokjin mendengus "Jelasin Hyo, lakik lo kan pinter tuh IQnya tinggi"

"Kan yang IQnya tinggi Aa bukan gue kak. Oke jadi gini ya Ryu, meskipun sama-sama di dalem perut bukan berarti tempat bayi sama tempat nyerna makanan itu sama. Bayi itu tempatnya di rahim sedangkan makanan pusatnya di lambung."

Tetangga?! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang