CELINE - 57

11 2 0
                                        

.

.

.

.

.



"Sampai kapan kakak hanya mau memandangi layar?" Celetuk Gita yang datang dengan membawa sepiring kue ringan untuk Celine. "Memikirkan apa sampai seserius itu?"

"Hanya pekerjaan." Jawab Celine sembari menekan keyboard untuk menyalakan layar kembali."

"Pasti sulit."

"Apanya?"

"Bekerja jarak jauh seperti ini?"

Celine melirik deretan email yang muncul, "Tidak juga. Aku sudah lumayan terbiasa sekarang."

Gita melirik jahil. "Atu kakak sedang merindukan seseorang?"

"Tidak ada."

"Baiklah. Silakan lanjutkan pekerjaanmu, hasilkan uang yang banyak. Agaaar uang sakuku tetap banyak." Ucap Gita dengan tangan menepuk kantung celananya.

"Tentu. Aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh."

Gita menahan pintu setengah terbuka. "Kakak."

"Ya?"

"Sekedar mengingatkan. Disini kakak tidak sendirian, jangan simpan semuanya sendiri." Gita tersenyum lebar. "Ba bye." Lalu pintu tertutup sempurna.

Kalimat sederhana yang Gita utarakan dengan santai. Nyatanya menghantam relung hati Celine dalam.

Dia tidak sendirian.

Itu benar. Tapi, mengapa rasanya tidak begitu.

Semenjak tinggal di sini, Celine seolah memasuki dunia baru. Tak ada orang yag megenalinya. Tak ada orang yang menganggunya.

Gita dan Maria menyambutnya baik. Ibu dan anak itu tak pernah bertanya secara mendetail tentang hidupnya. Harus Celine syukuri hal itu.

Tapi, Celine masih merasa tak tenang. Apalagi, kepingan ingatannya terus muncul. Akan semakin parah saat ada pemicunya. Hujan misalnya. Atau suara decit ban mobil.

Celine beruntung karena di kota ini ada cukup banyak transportasi umum. Sehingga dia tidak perlu memaksa diri menaiki mobil sendiri.

Kakinya selalu berjalan mengitari jalan yang sama. Mengikuti arus warga lokal yang berpindah jalan dengan cepat. Pergi ke satu tempat ke tempat lain. Namun, selalu berakhir di tempat yang sama.

Makam sang ayah.

Sejauh apa Celine berjalan, ujungnya dia akan menghabiskan waktu di tempat ini. Tidak untuk mengutarakan kesedihan atau melampiaskan kekesalan. Hanya duduk diam.

Selepasnya Celine akan pulang dan menemukan Gita berjalan beririangan dengan Maria dengan bahagia. Seolah hidup mereka sudah baik-baik saja.

Mereka tak lagi sedih berlebihan saat Celine tanya perkara Keanu. Mereka malah akan memberitahu hal-hal lucu atau kebiasan Keanu dengan semangat.

Celine selalu termenung di dalam kamarnya saat terlarut dalam pekerjaan. Lalu, menemukan jika kamar yang digunakannya sekarang adalah bekas ruang baca Keanu. Yang berarti sang ayah sering berada di sini.

Celine mengamati setiap sudut kamar dengan cermat, mencoba menemukan sesuatu untuk di simpannya sendiri. Atau mungkin jadi ingatan bersama, yang bisa dia ceritakan pada Gita.

Tapi, kenyataannya nihil.

Tidak ada satupun ingatan Celine tentang Keanu yang bisa diceritakan. Dia tak tinggal lama dengan ayahnya. Semua ingatannya hanya berputar di saat umurnya 10 tahun. Sisanya hanya keburaman yang menyatu dengan air mata.

broken PRINCESSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang