Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

62. Their Truth•

188 28 17
                                        

"Jadi, saya sudah pernah membahas hal ini dengan Sophia. Tentang kehadiran kami." Sadewa memulai.

"Tujuan kami adalah untuk misi. Memang tidak masuk akal kelihatannya saat seorang pewaris seperti Sultan malah memilih menjadi Direktur sekolah, bukan?"

"Masuk akal kalo gabut." Zoey tiba-tiba saja berceletuk, membuat Yara yang berada di sebelah segera menyenggolnya.

"Habisan serius amat daritadi, Yar." Bisik Zoey.

"Misi itu dibuat oleh para petinggi negara ini, khusunya keluarga kamu, Freya." Sadewa menatap lurus pada Frey.

"Kami mendapat info mengenai misi ini awalnya dari Bara, karena Papa Bara ada hubungan keluarga dengan Frey. Beliau menjelaskan kalau di negara ini banyak masalah, dan keluarga kalian yang cerdas menerapkan prinsip, 'lebih baik mencegah daripada mengobati'. Sehingga para petinggi itu mulai menempatkan beberapa orang untuk pengawasan. Pengawasan inilah yang disebut dengan misi, dan misi ini awalnya hanya dijalankan oleh lingkup keluarga mereka saja."

Mereka semua masih fokus menyimak.

"Namun, lama kelamaan, karena keluarga kalian juga ada kesibukan yang tak kalah penting, kakek dari papa kandung Freya memutuskan untuk mulai me-rekrut orang-orang di luar lingkup keluarga untuk menjalankan misi, namun orang yang ingin mengikuti misi tersebut akan melalui seleksi yang sangat ketat, dan tentunyaa.. dibayar dengan sangat tinggi kalau sudah diterima, dengan masing-masing waktu 6 bulan."

"Dan sudah menjadi rahasia umum kalau CIS merupakan tempat lawyer family itu menempuh pendidikan. Jadi ada beberapa orang khusus yang ditempatkan disana untuk mengawasi sistem pendidikan serta kurikulum, dan salah satunya adalah saya. Orang yang menjalankan misi dengan menyamar sebagai guru seleksinya tidak main-main. Kami harus memiliki IQ minimal 138."

"Wait, berapa IQ anda?" Tanya Jo.

Sadewa menipiskan bibirnya. "141."

Mereka semua menahan napas, antara terkejut dan terpukau.

"Jujur saja, alasan saya mengikuti misi itu adalah untuk bisa mengawasi adik saya, yaitu Marhen. Yahh sekalian nambah uang jajan di waktu luang juga sih."

Yara terkejut saat Marhen disebut.

"Kenapa? Kamu tidak tahu kalau saya kakak kandung Marhen?" Tanya Sadewa melihat keterkejutan Yara.

"T-tau kok." Sahut Yara pelan.

Sadewa kemudian menghela nafasnya. "Saya merasa bersalah dengan Marhen, karena saya lari dari tanggung jawab sebagai penerus perusahaan Papa. Saat itu saya berpikir kalau mereka tidak berhak melarang saya, karena saya punya mimpi. Tapi saat itu saya melupakan satu hal.. bahwa adik saya juga punya mimpi."

"Karena itu.. karena takut dia tertekan, saya dengan rasa bersalah mulai memperhatikan bagaimana perilakunya di sekolah. Apakah dia berandalan, apa dia sering bolos, atau semacamnya."

"Marhen selalu baik kok, Pak! Dia gak pernah macem-macem. Selalu rajin buat tugas, terus makannya juga sehat ." Yara menyahut dengan cepat.

Sadewa tersenyum menatap Yara yang terlihat sendu. "Iya, maka dari itu saya sangat bersyukur karena dia melakukan semua hal dengan baik. Walau saya tidak tau apakah dia suka atau tidak dengan hal tersebut, tapi dia tidak pernah mengeluh."

"However, itu alasan saya mengikuti misi di sekolah kalian. Dan kedekatan saya dengan Sophia, itu secara murni terbentuk karena interaksi kami sehari-hari."

Sadewa kemudian menoleh ke arah Sultan. "Mungkin untuk alasan yang lain, bisa dijelasin masing-masing sama mereka."

Merasa saat ini gilirannya, Sultan langsung menghela nafas pelan, dan menatap Athena. "Singkat saja, saya ikut misi ini karena mau mencari Athena."

CircleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang