day-two

1.6K 90 0
                                        

Jam istirahat. Aku mengambil bekal-ku dari rumah tadi. Aku memang bekerja dengan penghasilan yang lumayan, namun aku memang tipe orang yang suka mengirit. Aku suka makan dengan buatan tanganku sendiri, dimana aku tak tinggal bersama Mom dan Dad yang sekarang tengah tertempat tinggal di Texas sedangkan aku di Newyork, kota yang tak pernah mati.

Aku memperhatikan murid-murid berlalu lalang. Tak ada yang menyapa kami- sebagai gurunya. Maklum saja, sekolah swasta. Hanya beberapa yang kenal dengan kami dan sedikit ramah, mungkin. Jika sudah diluar kelas, kami-para guru seperti orang lain bagi mereka.

"Itu bikinan sendiri?" Suara Zeya mengangetkanku.

"Ya, ini aku yang buat. Kau mau?"

Ia mengangguk, "boleh"

"Hai!!" Detik selanjutnya kami sama terloncat ketika seseorang yang tiba datang menggebrak meja kami secara keras, Hails. Siswi yang lumayan ramah diantara yang lain. Ia begitu dekat denganku dimana dirinya juga merupakan sahabat Justin. Namun tidak, Hails tidak tahu akan hubungan ku dan Justin, tidak ada.

"Hails, untung aku gak jantungan" Zeya.

"Oh c'mon.. yang benar saja Ze."

Aku tersenyum melihat keduanya. Sudah sering Hailey seperti ini. Bergabung denganku dan guru yang lain. Hailey memang anak yang periang dan agak genit untuk menarik pria. Namun ia akan berubah drastis jika bersama Justin, terkadang rasa cemburu melandaku ketika aku harus melihat Justin bersama wanita lain. Seperti Hailey juga Clara. Aku tahu, dia milikku ketika kami berdua. Dipublik, Justin hanyalah siswa yang tak pernah diperbolehkan untuk berdekatan dengan kami-para guru nya.

"Aku dengar Justin berulah lagi" Zeya mengumpat pelan. Hails yang mendengar hanya mengangguk pelan serta memakan senampan makanan yang ia bawa sesaat sampai dihadapan kami.

"Ya, aku dengar. Benar begitukah Yn?"

Aku tersendak. Sialnya, aku selalu salah tingkah ketika orang mulai menyebut namanya. Ada perasaan takut yang menyelimutiku, aku tahu. Justin selalu menjadi topik pembicaraan disekolah ini. Dan itu selalu menjadi tanggung jawabku sebagai guru pengajar dan Bk disini. Kadang aku merasa hidup tak adil ketika aku harus menghukum seseorang yang kucintai. Aku merasa bersalah dengan semua hubungan tersembunyi ini, namun aku mencintainya.

"Ya ampun.. kebiasaan deh. Diajak ngomong malah bengong!" Hails yang mengumpat kali ini. Aku tersenyum padanya dan berusaha melanjutkan makanku tanpa penjelasan.

"Eh benar tidak Justin berulah?" Zeya bertanya lagi.

Untuk sekian lama, aku mengangguk. Keduanya menghela nafas bersamaan. "Dasar pria tengik"

"Bocah ingusan." Kedunya berceloteh masing-masing.

"Berulah bagaimana lagi sih dia?" Hails.

"Ya begitulah, aku sudah bilang jangan mencampuri orientasi siswa tetapi bukan Justin namanya yang malah menggoda semua siswa baru disini" aku memutar bola mataku, rasanya menyebalkan mengingat bagaimana sikap nakal Justin tadi pagi. Barusaja beberapa jam yang lalu kami berciuman, aku harus dihadapkan dengan kegenitannya pada siswi-siswi baru. Mereka sampai salah tingkah dibuatnya. Sial..

Tak lama yang dibicarakan lewat. Justin dan teman sekelompokannya. Aku terkadang heran bagaimana pria egois seperti Aaron dan Justin bisa bersahabat meskipun aku juga yang harus memisahkan kedua saat beradu mulut. Begitupun dengan Austin dan Cody yang setia bersama Justin. 'Oh ya ampun..'

Hanya melewatiku, matanya tak sedikitpun melirik padaku. Jelas saja, Justin tak ingin mereka tahu bahwa aku adalah gadisnya. Zeya mengumpat diam-diam dalam celotehannya yang lirih.

"Dia memang tampan, tapi.."

"Ahhhh kau bilang Justin tampan? Ya , sahabatku memang tampan. Itu sebabnya aku juga sedikit menyukai dia"

'Menyukai dia?'

Aku masih mendengar bagaimana tanggapan Hails mengenai Justin seraya memakan makananku, aku lebih suka berdiam diri daripada mencampuri urusan mereka. Justin memang menjadi topik pembicaraan keduanya-selalu. Diam-diam aku berfikir bahwa Hails memiliki rasa diluar dari sebuah persahabatan. Dari sorot matanya begitu terlihat bagaimana Hails yang menginginkan Justin lebih dari sekedar teman.

"Hails beruntung ya bisa dekat dengan Justin" zeya cemberut seketika melihat Hails yang mencubit pipi Justin gemas dimeja seberang. Teman-teman Justin tertawa, namun pria itu hanya acuh dengan mencoba menyingkirkan tangan Hails darinya. Akupun tak tahu sejak kapan Hails berada disana.

"Mereka kan sahabat tentu saja dekat"

"Hmmm. Menurutku pria dan wanita tak bisa bersahabat tanpa adanya cinta. Aku yakin itu, baik Justin maupun Hails pasti mempunyai perasaan lebih. Dan aku melihat disinilah Hails yang sepertinya begitu"

Kali ini aku akui ucapan Zeya masuk diakal. Aku sendiri tahu bahwa lawan Jenis tak mungkin bersahabat. Apalagi aku mengingat bagaimana Justin menceritakan mengenai sosok Hails yang sudah ia kenal sedari kecil. aku juga mengerti bagaimana gadis SMA tengah jatuh cinta. Dan semua itu tersirat pada Hails yang ia tunjukan pada Justin.

Aku menggeleng. Tidak benar! Aku tak seharusnya berfikir sedalam itu. Mereka hanya bersahabat. Justin mengatakan bahwa ia tak menganggap Hails lebih dari seorang teman, dan aku percaya itu.

"Kau baik-baik saja kan?" Zeya lagi-lagi membuyarkan lamunanku. "Hari ini kau banyak melamun. Apa kau memiliki masalah?"

Aku tersenyum terpaksa, menggeleng untuk mengelaknya. "Tidak-, tidak apa. Aku hanya tak fokus. Aku memikirkan sesuatu yang lain disaat kau bercerita soal mereka. Aku- ah! Lupakan"

Zeya mengangguk kecil. "Ok"

..

Cuaca petang ini tampak mendung dimana langitnya sedikit suram. aku merapatkan jaket karena udara disini cukup dingin jika sudah senja hari. Aku tak seharusnya pulang sesore ini. Aku terlalu asik mendekorasi ruangan kelas yang nantinya dipakai untuk acara penyambutan murid baru. Sekolahpun sepi dari murid-murid yang sudah pulang mungkin tiga jam lalu. Para guru-pun menyusul. Tinggal aku seorang diri. Aku tak merasakan takut sedikitpun saat melewati koridor yang sedikit gelap, aku juga menyapukan halaman pada area parkir untuk memastikan semuanya aman terkendali. Lapangannya luas dan terbuka itu sudah tak meninggalkan satu kendaraanpun. Aku memastikan bahwa Justin-pun sudah pulang. Terlebih aku mendengar percakapan Zeya dimana Hails akan mengajak Justin jalan-jalan sore nanti.

Aku keluar gerbang. Berdiri menunggu bus dihalte tak jauh dari sekolah 'Graha' aku bekerja. Entah mengapa jalanan sore ini begitu sepi, mobil dan motor yang berlalu lalang lebih sedikit dari hari biasanya. Angin yang mulai berhembus semakin kencang begitu menusuk kulitku, bahkan Jaket yang kukenakan-pun tak sanggup melindungi tubuh mungil ini.

Aku masih berdiri, pikiranku melayang pada Dad dan Mom. Aku tak pernah kesepian seperti ini. Aku juga tak pernah menceritakan kisah cintaku dan Justin pada mereka. Mom selalu memaksaku untuk bisa keluar dari jeratan cinta lama Bryan. Mom selalu berfikir bahwa aku belum bisa melupakan Bryan, nyatanya tidak. Aku memiliki Justin sekarang.

Kudengar deruan mesin mobil terpaku tak jauh dari keberadaanku. Aku mendongak, tersadar bahwa sebuah mobil terhenti dihadapanku. Kacanya perlahan terbuka, memperlihatkan siapa yang berkendara didalamnya.

THE FEELING (YN-YOUR NAME)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang