Yn pov
From : Nathan
Bagaimana kabarmu? Kau senang disana? Aku merindukanmu, xoxo
Senyuman kecilku muncul, aku bergegas membalasnya seraya mengangkat tas selempangku. Meletakkan selemek yang kukenakan saat bekerja. Sekarang pukul sembilan malam, dimana shift kerjaku sudah habis dan digantikan oleh shift lainnya.
To : Nathan
Aku baik dan aku berharap kau juga baik disana, dan yeah, aku juga merindukan Graha's
Terlebih Justin..
Setelah seminggu berada diAtlanta dengan Bibiku, aku tak ingin menyusahkan Bibi meskipun kutahu Restoran Italynya sudah berkembang pesat lebih baik dari tahun dimana terakhir kali aku menginjakkan kaki kemari.
Aku melambai pada Brandon, teman kerjaku di Cafée yang barusaja sampai menggantikanku. Ia tersenyum membalas lambaian tanganku dan melanjutkan melayani pelanggan lagi. Keluar Cafée, udara dingin langsung menyapu permukaan kulitku hingga rasanya tubuhku seketika mengigil. Aku lebih merapatkan jaket yang kukenakan dengan tetap berjalan menuju halte bus.
Bukan seperti hari-hari biasanya, entah karena sikap parno-ku yang mulai kumat atau dugaanku akan keberadaan seseorang dibelakangku benar-benar ada. Setiap kali aku menoleh, yang kudapatkan hanyalah keadaan sekitar yang memang sudah terlihat sepi. Penerangan dari Cafée tempatku bekerjapun sudah tak lagi menemani perjalananku.
Tenang Yn.. tak ada apapun. Batinku terus menerus, gadis dalam batinku sudah memberontak untuk berulang kali menoleh setiap dua, tiga langkah sekali. Dan lagi, tak ada seorangpun disini.
Angin yang bertiup kencang begitu terdengar. Aku menaikkan tudung jaket hingga menutupi lekuk leherku, melepaskan ikatan ekor kudaku sesuai yang Justin perintahkan. Meskipun aku tak ingin berfikir negative, tetapi nyatanya hatiku berkata lain. Aku juga mengingat pesannya untuk selalu menjadi bagian sensitif wanita yang mungkin menggoda kaum pria, lekuk leher. Menurunkan rok seragam kerjaku hingga tak begitu menampakkan keseksian tubuhku.
Dihalte bus, aku menunggu begitu lama. Untuk mengurangi rasa takut, aku menyalakan sebuah lagu yang menyambung melalui sebuah earphone.
Dont ever think i need more
I've got the one to live for
No one else will do
Im telling you
Just put your heart in my hands
Liriknya menyayat hatiku, lagi. Aku terus menghilangkan bayangan Justin yang semakin jelas, bahkan suaranya yang dulu pernah menyanyikan lagu ini untukku tak pernah pudar dari pendengaranku. Aku menggeleng, dari luar tubuhku aku sangat menentang keberadaannya. Tetapi tidak dengan hatiku, jujur saja, aku merindunya.
Bus yang kutunggu datang. Aku langsung menaikinya dan memilih duduk pada pertengahan, busnya sudah kosong. Hanya ada beberapa penumpang yang berada didepan. Seorang wanita dengan anaknya, juga pasangan kekasih tak jauh berada di sebrang sisi wanita tadi. Menyandarkan kepala pada sisi kaca mobil, membiarkan pemandangan Atlanta disampingku menjadi sebuah garis-garis lurus dalam penglihatanku. Earphone-ku masih terpasang, dimana lagunya sudah terganti menjadi lebih slow hingga aku akhirnya memejamkan mata.
..
Justin pov
Gadis itu tertidur dalam bus. sudah kebiasaannya yang selalu tertidur, bahkan saat semobil denganku. Aku tersenyum mengingatnya. Begitu pecundangnya aku yang hanya mengikuti dirinya dengan cara sembunyi. Aku membuatnya ketakutan dengan gerak-geriknya sebelum menaiki bus. Untungnya, aku bisa menerobos ikut masuk tanpa diketahui olehnya. Aku gila karena meninggalkan mobil yang harganya ratusan juta dalam semak belukar. Terlebih itu adalah mobil pribadi Cody, lagi-lagi aku mendapat mobil sponsor darinya tanpa membayar seperpun.
