"Sejak kapan tuh bocah kemari?" Justin. Menyamakan tubuhnya padaku yang berada diantara kabinet dapur.
"Thomas?"
"Ya, siapa lagi?"
"Baru tadi pagi. Ibunya datang untuk mengantar. Sepertinya moodnya sedang jelek, kau jangan menggodanya"
Justin tertawa sinis, "begitupun aku. Moodbreaker"
"Yn.." Thomas.
"Ya?"
"Aku ingin susu. Bisa kau buatkan untukku?"
"Tentu, tunggu sebentar ok?" Kuraih kotak susu, menyeduhnya dalam segelas air dan mengaduknya secara rata. Justin mengamatiku, matanya datar dan tak bisa ditebak. Kebetulan hari ini adalah hari minggu, sekolah libur. Itu sebabnya Thomas kemari.
Aku memutar tumit untuk mendekati Thomas yang terduduk disalah kursi meja makan tak jauh dari dapur. Justin yang masih terdiam hanya bersilang dada melihat diriku tengah merawat Thomas. Ia terlihat sangat lahap menikmati sarapannya, menyerap susu yang kubuat beberapa kali.
"Hmm.. Yn.. kalau seandainya aku memiliki adik, apa itu baik?" Wajahnya yang polos bertanya padaku. Aku tak sampai hati melihatnya yang terlihat tak rela untuk mengakui bahwa Caitlin tengah hamil untuk adik barunya nanti.
"Buruk. Sangat buruk, kau tahu? Saat kau memiliki adik, semua yang menjadi milikmu akan dirampas. Yang kau inginkan takkan pernah menjadi milikmu dan semua kasih sayang itu musnah. Disaat itulah, kau seharusnya berbalik dan menatapku yang sudah menertawakanmu. Haha" ucap Justin panjang lebar mendahuluiku, tawanya yang begitu garing malah membuat Thomas semakin sedih hingga menangis.
Segera kuraih tubuhnya untuk kubawa menjauhi Justin yang sudah setengah evil karenanya. Rasanya aneh jika harus dihadapkan pada Justin dan Thomas untuk waktu yang sama. Mereka masih tampak bocah bagiku. Kuajak Thomas untuk menonton tv seraya menghabiskan susu yang kubuatkan sedangkan aku melanjutkan pekerjaan untuk membersihkan piring kotor Thomas dan membuatkan Waffle yang baru untuk Justin. Justin yang tengah meminum dua pil aspirin itu begitu menggoda, terlebih saat dirinya membiarkan air membasahi kerongkongannya. Damn..
Seusai itu, aku menemani Thomas hingga siang Hari. Aku melihat Justin menerima telfon seseorang dibalik pintu kamar. Kedengarannya penting membuatku mendekat kearahnya.
"Siapa?" Aku menyuara ketika yakin Justin sudah selesai dengan bisnisnya. Ia tak menatapku, melewati tubuhku tanpa berucap sepatah katapun.
Membuka lemari es dan mengambil sekaleng Coke "Bukan siapa-siapa" ditenggaknya hingga benar-benar kosong, membuangnya dengan melempar secara tepat kearah tempat sampa berada. Kudengar Thomas memanggilku untuk menemaninya lagi, namun aku memutuskan untuk mencari tahu apa yang seperti Justin sembunyikan saat ini.
"Just.."
"Apasih? Aku bilang bukan apa-apa. Udah urusin aja tuh si Thomas. Dia butuh dada loe mungkin"
Aku berdecak. Marah, terkadang aku kesal jika harus menerima takdir bahwa aku mencintai seorang pria brengsek sepertinya. Disaat aku ingin mengetahui kehidupannya, Justin mengelak. Selalu menganggap aku tak ada. Berbicara Kasar dengan logat yang tak seharusnya keluar dari mulutnya.
Aku mendekat kearah Thomas. Persetan dengan Justin. Aku takkan peduli lagi, toh meskipun ia harus pergi kekutub utarapun aku takkan mengikutinya maupun menangisi kepergiannya. Aku sudah benar-benar kecewa.
"Apa kalian bertengkar?" Suara Thomas berbisik ditelingaku. Ia terlihat ketakutan.
"Tidak, sudah abaikan saja. Lihat kartunnya, itu bagus. Tom dan Jerrynya terus berebut seuatu. Lihat itu Thomas.."
Justin yang berjalan maju mundur didapur tampak gelisah. Aku tadinya ingin bersikap acuh, namun sosoknya selalu menghantui. Memainkan kuku-kukunya Justin dihantui rasa gelisah yang teramat sangat.
Disamping Justin, aku mendengar bel pintu berbunyi. Justin-pun mendengarnya, ia menatap kearah pintu. Aku segera mengambil alih, Caitlin disana. Thomas langsung berlari menyoraki nama ibunya yang masih diambang pintu.
"Apa kalian seharian dirumah?"
"Ya, kupikir tak baik jika aku membawa anak orang kalau cuacanya hujan seperti ini bukan?"
"Ya, kupikir-pun begitu" Caitlin membawa Thomas dalam dekapannya. Thomas menciumi pipi Caitlin berulang. Sepertinya hari ini bocah itu lebih merindukan sosok ibunya ketimbang bermain denganku, atau mungkin karena Justin.
Caitlin yang tadinya menatapku berubah seolah menangkap sosok orang dibelakang, aku sekilas menoleh, mendapati Justin sudah berdiri dibelakang. Tatapannya terpaku. Begitupun Caitlin.
"Cait.."
"Just..."
Mereka bersamaan. Aku semakin bingung dan menyimpulkan bahwa keduanya sudah saling kenal.
"Hai apa kabar?" Justin akhirnya mengulurkan tangan. Aku yang berada ditengah mereka menjadi jembatan bagi keduanya.
"Ba-baik. Kau sendiri?"
"Ya, seperti yang terlihat. Beginilah Gue. Loe tahu sendiri kan?"
Caitlin tertawa diantaraku. Aku semakin merasa tak dianggap disini. "Ya, aku tahu kok. Oh btw, Yn?"
Justin menyerngit. "Yn?"
"Ya.. kalian..??"
"Bukan, dia hanya muridku. Kebetulan aku menangani kasusnya disekolah jadi dia datang kemari" dustaku. Justin tampak tak senang karenanya.
"Tapi.."
"Oh Thomas.. sepertinya kau lelah" aku memutuskan ucapan Thomas yang sekiranya tahu siapa Justin yang ia kenal selama ini. Setidaknya tidak dihadapanku langsung. Aku tak menyukai untuk mengakui hubungan kami karena kenyataannya hubungan ini takkan pernah bisa diketahui oleh siapapun.
"Ya kau benar Yn. Ayo sayang kita pulang. " Cait tersenyum. "Terimakasih hari ini Yn"
Aku melambai kearah bocah kecilku hingga punggung keduanya perlahan menghilang dipersimpangan ruang luar apartemenku. Aku kembali masuk kedalam apartemen disusul oleh Justin. Mematikan tv, aku mulai memberesi apa yang terlihat berantakan disini. Mulai dari tas Justin yang ia letakkan disembarang tempat, dasi, sabuk, sampai seragamnya yang tergeletak diatas sofa. Justin yang hanya mengenakan kaos polosnya memperhatikanku. Wajahnya masih gelisah dan aku kecewa karena ia tak pernah menceritakan apapun kepadaku.
Justin pov
Pikiranku kacau. Setelah Clara, aku harus dihadapkan dengan Caitlin. Gadis yang dua tahun tak bisa kuperjuangankan hingga ia menikah dan memiliki Thomas yang sering menjadi musuhku selama ini. Kurang dari sebulan aku akan mengikat janji pada Clara. Aku tak bisa. Berulang kali Yn bertanya dan aku hanya bungkam. Banyak yang harus kuhadapi beberapa hari kedepan. Umurku masih 19 tahun namun masalahku tidak hanya mengenai pembelajaran. Masalahku sudah menyeluruh dan bahkan bertaruh pada nyawa. Sebulan lagi aku harus memiliki rencana membasmikan Clara apapun alasannya agar aku membatalkan rencana untuk menikahinya. Terlebih aku harus memikirkan nasib Dad Aaron yang mendekam dipenjara dan tetap menyembunyikannya dari anak semata wayangnya itu. Aku bahkan tak tahu harus mulai darimana membicarakan ini bersama Aaron. Menyembunyikan barang yang tak seharusnya kusembunyikan. damn! Kepalaku hampir pecah.
Aku melihat Yn menatapku sinis. Aku mengerti bagaimana kecewanya ia karena tak tahu dengan apa yang tengah kupikirkan. Aku hanya tak ingin ia mengerti kondisi ini. Toh akan sangat berbahaya jika ia sampai berinisiatif untuk membantuku.
"Yn.."
Ia tak menyautiku. Aku mengenakan kembali seragamku dan bergegas pulang. Cukup untuk berduaan dengannya dan aku harus menghadapi ini. Aku memiliki acara dengan Clara memesan gaun pengantin untuk bulan depan. Aku harus kekantor untuk mengurus berkas ayah Aaron. Juga aku harus menyiapkan meeting bersama Liam malam ini.
"Yn, aku pulang. Kau jaga diri baik-baik. Oke sayang?" Aku setengah berteriak karena Yn berada didalam kamar. Tak ada sautan, aku memutuskan untuk pergi sekarang.
Menyalakan mesin mobilku, aku kembali menatap kamar apartemen Yn yang terlihat dari area parkir. Ia melihatku dari tirai jendela. Rasanya tak tega membiarkan gadis yang kucintai seorang diri dengan hati yang hancur. Aku berjanji akan kembali padanya setelah meetingku selesai dan aku akan menidurinya.
