"Kau menghancurkan harapannya. Seharusnya kau tahu dia diam-diam mengamatimu"
Justin masih mengerutkan keningnya, alisnya terangkat. "Memangnya dia lulusan sekolah mana? Dia tak bisa membedakan mana manusia dengan objek penelitian? Mengapa harus mengamatiku? Dia pikir aku kodok yang siap dibedah diruang praktik?"
Aku mengelingkan mata, lama-lama berbicara dengan Justin membuat diriku ingin memuntahkan segala isi perutku seketika. menjengkelkan.
Yang dipesan datang. Kali ini si pelayan wanita yang sempat bermain mata dengan Justin tadi, membawa sebuah troli datar-entah nama kerennya apa, dengan berbagai makanan berpiring besar yang membuat mataku kembali membuka secara sempurna. Justin yang hanya menatapku membiarkan pelayan gadis itu cemberut lantaran godaannya tak membuahkan hasil.
"Terimakasih" aku berusaha ramah setelah semua makanan sudah disajikan diatas meja-ku. Si gadis yang kusapa hanya tersenyum masam dan berlalu dengan troli kosong. Makanan yang dihidangkan benar-benar mewah. Bahkan seumur hidup-pun aku tak pernah memakan makanan sebanyak ini, diselingi dengan dessert dan juga berbagai minuman yang jumlahnya melebihi jumlah pemesannya. Tak ketinggalan berbagai macam buah, aku seperti ratu mesir yang tiba saja mengalami gizi buruk dan harus memakan sebanyak ini, Justin memang konsumtif.
"Kenapa? Makanlah, bukannya kau suka makan?" Justin, dia masih berpangku tangan menatapku dengan begitu cabulnya.ew.
"Aku memang suka makan, tetapi bagaimana bisa aku makan sebanyak ini? Bahkan ini seperti cadangan makananku di apartement selama seminggu, aku butuh yang satu ini saja.." aku menarik sepiring besar kepiting berwarna merah cerah dengan saos dan bumbu lainnya tersaji diatasnya. begitu menggoda lidahku.
Justin terkekeh, "kau makan semuanya. Ini aku pesan khusus untukmu. Aku tak ingin jika nanti aku menikahimu, kau masih kurus seperti kekurangan gizi. Setidaknya boobs-mu akan naik berat satu sampai dua kilo" dan kini pikiran kotornya mulai menjelajahi otaknya, aku juga meyakini bahwa Justin tak menyadari beberapa hari kedepan dirinya akan menghadapi ujian semester.
"Jangan menggodaku, aku tahu apa yang kau inginkan bocah! Kau harusnya belajar bukannya menunggu seks dari-ku" ujarku terang-terangan yang membuat tawanya melepas. "Baik Ma'am."
Justin meminta Bill pembayaran setelah kami selesai makan. Si pelayan wanita itu kembali dengan raut wajah kesal, sepertinya jurus maut untuk memikat Justin sudah ia keluarkan. Wajahnya benar-benar membuatku miris, rasa iba menghinggapi. Bagaimana bisa Justin sebegitu menggoda bagi mereka?
"Terimakasih, kembaliannya untukmu saja karena malam ini kau tampak cantik" Justin merayu sang pelayan yang membuat dirinya sontak terkejut dan tersipu malu. Sempat melirikku dengan tatapan mengejek seolah dirinya menang akan mendapat perhatian Justin.
Justin segera bangkit, tak membiarkan pelayan itu mengambilkan jaket yang ia gantungkan dipunggung kursi dan meraih tanganku, merangkul-ku erat seraya meninggalkan restoran.
Belum benar-benar keluar, Justin tiba saja menarikku kedalamnya lagi. Pupil matanya membesar, menatapku dalam. "damn!" Ia mengumpat.
"Ada apa?" Aku yang kebingungan mencoba mencari tahu yang terjadi diluar pintu pembatas ruang privasi tempat kami makan dengan ruang yang lebih terbuka. Semuanya nampak tenang, bahkan tak ada keributan apapun. Wajah Justin panik, seolah ia barusaja menemukan Dory yang menghilang dari edaran Nemo dan ayahnya. "Oh demi langit dan seisinya, beritahu aku apa yang terjadi Justin.."
"Aaron, diujung sana. Kau lihat?" Justin menunjuk dengan jari telunjuknya. Aku mendapati Aaron dengan tiga-atau empat pelayan restoran disini berdiri disampingnya, ia bagaikan raja dengan pelayanan Extra. Aaron menatap bengis kesalah satunya, menggebrak meja yang membuat pelayan pria itu menelan kelenjar saliva-nya dalam-dalam. Ya ampun.. sekejam inikah anak pewaris sepatu ternama itu jika diluar sekolah? Bersikap semena-mena kepada kalangan rendah? Apakah Justin sama seperti dirinya?
Aku mengangguk lemah, sadar bahwa tunjukkan sosok Aaron dari Justin belum mendapat respon dariku. "Sepertinya kita harus lewat pintu belakang. Oh sungguh Yn.. ini benar-benar kacau" Justin tampak Frustasi akhirnya membawaku kembali kedalam, bertemu dengan pelayan gadis itu. Justin melepaskan ikatan tangannya dibahuku, berlari kecil kearah gadis itu. Mereka berbisik, si gadis melirikku sebelum akhirnya membalas bisikan Justin dengan begitu mesra, yang membuat organ dalamku tiba saja memanas tanpa alasan. Aku menghela nafas sejenak. Justin menyelipakan beberapa dollar kedalam gadis itu dan segera menarikku kearah berlawanan dengan pintu keluar. Aku yang masih kebingungan berusaha diam dan menurut pada Justin yang dipimpin oleh wanita yang menggoda Justin tadi.
Kami menemui beberapa juru masak, lurus hingga kebagian pembersihan piring-piring dan akhirnya menuju pintu belakang Restoran. Si pelayan membukakan pintu, mendaratkan ciumannya pada pipi Justin sekilas. Anehnya, Justin yang menurunkan tubuhnya seolah mengijinkan hal itu. Si gadis kembali menatapku, kali ini dengan senyuman miring berisikan dendamannya yang sengit padaku.
Diluar Restoran, Justin berjalan menarik tanganku keras kearea Parkir. Aku sudah memintanya untuk lebih memelankan langkah, tetapi Justin tak menggubrisku. Kesal, aku menyingkirkan tangannya membuat tatapan Justin menajam padaku. "Apalagi.."
"Apalagi? Apalagi kau bilang? Aku sudah bilang berhenti menarikku sekasar itu. Kakiku sakit sampai tersandung dan terluka, tidakkah kau lihat itu? Aku sakit!" Aku berteriak, masalahnya bukan hanya kakiku yang sakit, tetapi entahlah-melihat Justin bermesraan dengan pelayan serta kecupan dipipinya yang membuatku semarah ini. Justin yang tak menyadari hal itu malah semakin geram. Rahangnya mengeras yang membuat batinku berkata sesuatu yang buruk akan terjadi. "Astagaaa Yn! Aku ingin menyelamatkan hubungan ini, aku terburu karena tak ingin Aaron tahu keberadaan kita disini. Tapi apa? Kau malah berteriak dan seolah marah padaku. Kau aneh"
Mendengar ucapan yang terlintas dibibirnya membuat mataku mulai berkaca, tak sadar setetes airmata berkelinang membelah kedua pipiku, "aneh? Aneh kau bilang? Ha,! Kau yang aneh, aku tahu maksudmu ingin menyelamatkan hubungan ini, tapi bisakah kau tidak bermesraan dengan pelayan tadi? Membiarkan pacarmu melihat pelayan itu mengecup pipimu seperti tadi? Kau memang jerk! Mencium Hailey dilapangan basket, kau tahu kan aku disana? Kau juga bermesraan dengan Clara saat di Cafeé sedangkan aku?ak-" Justin tak mendengarkan, ia malah mengangkat tubuhku hingga wajahku berada dipunggungnya, sama seperti pada film kebanyakan dimana sang penjahat hendak menculik seorang gadis kecil. Itulah yang Justin lakukan saat ini padaku, meletakkan diriku diatas jok penumpang mobilnya. Tak menghiraukan aku yang menghentak, memukuli serta menangis dihadapannya. Justin berlari memutari mobil dan terduduk di jok pengemudi.
Hening,
Selama perjalanan, aku hanya mendengar klakson mobilnya berbunyi saat kepadatan jalan utama, isakanku serta lagu dari dashboard mobil yan terkesan begitu lirih. Aku bahkan tak bisa menebak lagu apa yang tengah kudengar malam ini. Justin tak berbicara, tangannya mengepal dikemudi mobil dengan rahang mengeras. Aku mengerti dirinya yang tengah dilanda emosi karena ucapanku barusan, tetapi aku memang menyemburuinya. Sungguh..
Sesampainya didepan gedung apartement, aku menuruni mobil sport-nya. Justin yang masih menyalakan mesin itu masih bungkam. Sesaat setelah aku keluar, ia malah melesatkan kembali mobilnya hingga tak terlihat dari pandangan mataku. Aku mendesah pelan, menyabarkan dalam hati untuk tidak meneriakinya atau menangis untuk memintanya tinggal, meskipun aku sangat menginginkan hal itu.
