day-nineteen

764 45 0
                                        

Justin pov

Fuck it.

Suara yang dihasilkan bantingan dari pintu kamarku begitu keras, bahkan sampai memerkakan telinganku sendiri. Aku bukannya marah karena Yn tidak menghargai usahaku yang kabur karena Aaron, namun rasanya perih mengingat perkataannya yang begitu menggambarkan aku sebagai bajingan dan selalu seperti itu. Hailey,Selena,Jaquline bahkan Yn mengatakan aku sebagai bajingan, bocah tengik yang tak beretika atau apapun gambaran buruk mengenaiku. Aku begitu menyesal karena tak pernah memikirkan perasaannya yang mungkin terluka karena ulah bodohku, aku mulai berpikir bahwa aku memang bukan pria yang baik. Mungkin itu juga yang menyebabkan hubunganku dengan Selena takkan sejalan, sama seperti Yn yang selalu kusakiti. Sedalam-dalamnya dari hatiku, aku tak ingin siapapun melukai Hatinya, memainkan perasaan Yn seperti yang Niall lakukan belakangan ini. Ia Berusaha mengincar Yn meskipun kutahu pria berkaca mata tebal itu sudah memiliki calon tunangan sendiri, atau saingan baruku Nathan Sykes dengan tatapan cabul. Aku berusaha menyingkirkan mereka. Tetapi apa? Nyatanya, aku sendirilah penyebab hatinya terluka. Aku yang telah memainkan perasaannya. Aku memang tak pantas untuknya.

Menghela nafas.

Tak lama kudengar knop pintu berputar dan terbuka, Jaquline hadir diambang, bersilang dada disana. Tatapannya mengawasiku yang tertidur diatas bangkar dengan posisi setengah terduduk. "Jerk, are you ok?"

Aku menahan emosi untuk tidak mengusirnya, sungguh, aku tak ingin mereka menyebutku dengan kata itu lagi. "I'm fine, leave me alone"

"are you broke up with you gf?"

"Nah,"

"Then?"

"Just Leave me alone Slut"aku menekankan kalimat didalamnya. Jaq geram, "dammit, you are a jerk as always" seraya mengulurkan lidah "Asal kau tahu Bieber, bukan seperti ini membuat gadismu bahagia. Aku yakin apapun masalahnya, dia tetap membutuhkan penjelasan darimu. Temui dia, jelaskan apa yang perlu dijelaskan. Bukanya merenung tak jelas, aku mengatakan ini karena aku kasihan melihatmu. Aku tahu bagaimana sikapmu dan aku takkan mau sepupuku kembali mengalami masa-masa buruk seperti saat kau berpisah dengan gadis latin itu" Jaq menambahkan panjang lebar, alright, dia membicarakan selena dibagian terakhir kalimatnya. Dan kini ia menghilang seiring dengan tertutupnya pintu kamar.

Aku terdiam,

Tujuh puluh lima persen ucapan Jaquline benar. Aku salah meninggalkan Yn seperti itu, aku seharusnya disana. Menciumnya, menyentuhnya, memeluknya atau apapun yang mampu membuat perasaannya membaik. Meskipun aku bajingan seperti yang mereka katakan, tetapi aku juga harus bertanggung jawab dengan semua sikap ke-bajinganku selama ini. Termasuk menyakiti perasaan Yn yang terluka selama ini.

Bergegas meraih jaket kulitku, meraih kunci mobil diatas bupet, aku menuruni tangga untuk menemuinya lagi. Thanks Jaq, bagaimanapun kau sepupu terbaikku.

Tak perlu mengetuk, aku langsung menekan sandi apartementnya dan pintu itu langsung terbuka. Suasananya sepi, sekarang sudah lewat tengah malam. Aku yakin Yn sudah terlelap didalam kamar. Perlahan, aku menyusup kedalam kamarnya. Benar saja, yang kucari ada disana. Tertidur dibawah selimut, tubuhnya meringkuk seorang diri, memunggungiku dan nafasnya teratur. Dengan gerakan selembut mungkin, tubuhku berusaha untuk berada disampingnya. Bernaung dibawah selimut yang sama, membiarkan tanganku melingkar pada perutnya. Dan ia tergeliat, membalikkan badan dengan mata membuka lebar. "Hey, aku mengejutkanmu?" Suaraku serak dimakan sunyi.

Yn yang terdiam hanya menatapku, kini kami berhadapan. Matanya sebab, dan aku tahu apa penyebabnya. Benar-benar bajingan! Umpatku dalam hati.

Tanganku bergerak membelai rambutnya, Yn terpaku ditempatnya. Tangannya terhimpit diantara tubuh kami yang hanya berjarak beberap senti. "Aku minta maaf karena meninggalkanmu. Aku tahu kau kesal sekarang, aku mengerti itu sayang. Maafkan aku" bukannya mengangguk atau merespon, Yn malah mengigit bibirnya diiringi butiran bening yang mengaliri pipi dari ujung matanya. Damn Justin!

"Sayang.."

Yn menyingkirkan tanganku, ia menangis tanpa bersuara. Meronta tak jelas, menginginkan aku pergi dari sini sekarang juga. Tetapi bukan akhir jika aku menurutinya, aku bergegas mengunci kakinya untuk terdiam, serta tangannya. Yn kini terisak, meneriakiku dan aku tahu seseorang akan mengusirku dari sini jika ia masih bersikap seperti itu, jadi, kubekap dengan lumatan bibirku. Dalam ciuman kami, aku merasakan kesedihan, kekecewaan, serta kemarahan didalamnya. Airmata yang menemani kami berdua begitu deras terjatuh. Aku terus mencari cara untuk menangkannya hingga nafas kami berdua sampai terengah, tak sampai disitu, Bibirku masih menciumnya kejam. Mendekap tubuhnya lebih mendekat kearahku, tangannya yang kini mulai merenggang dan memeluk punggungku serta isakannya yang tenga mereda membuat diriku memperdalam ciumannya dengan menekan tekuk leher bagian belakang Yn condong kedepan, Yn menurut, semakin melemah hingga akhirnya balasan dari bibirnya menghilang, aku sadar bahwa ia sudah tertidur.

..

Setelah kejadian ciuman dilapangan basket kemarin, Hailey menjauhiku. ketika aku ingin menyapanya, Hailey malah berpaling dan seolah aku tak ada. Aku mengerti, mungkin ini efek dari sikap bajingan yang selama ini hidup dalam diriku, sekarang aku sadar betapa kejamnya aku kepada para gadis disini.

"Justin.." aku menoleh seiring dengan suara yang bersumber dari belakangku. Selena disana, berlari kecil dengan rambut dibiarkan menggerai dan terguntai seiring langkahnya. "Ada apa?"

Ia tersenyum, manis—seperti biasa, "hey, aku ingin mengajakmu makan siang di cafeé sekolah. Bagaimana?"

Aku menyipitkan mata, jarang sekali Selena seberani ini sampai mengajakku. "Kau mangajakku?" Aku berdecak tak percaya. "Ayolah jangan basa-basi. Apa yang sedang ingin kau bicarakan? Aku tak ingin kejadian seperti Hails dan Clara terulang padamu. Kau tahukan aku Tampan—"

"Ya, aku tahu. Maksudku, hmm.. aku hanya ingin membicarakan soal.. hmm..." ia melirik kesembarang tempat, seolah memastikan takkan ada yang mendengar terkecuali dirinya dan aku. Mendekat, berbisik ditelingaku "video itu"

Selena menjauh, tatapannya was-was, sama sepertiku. Aku bahkan melupakan video itu. Rekaman saat aku mengambil keperawanannya dan terlanjur jatuh pada tangan Aaron. Untungnya aku belum mengatakan mengenai Ayahnya dipenjara, atau mungkin Aaron bisa mengancamku dengan Video itu. oh ya tuhan.. aku sungguh tak ingin menyakiti Yn, aku juga tak mengerti bagaimana rekaman konyol itu bisa sampai pada tangan Aaron. Yang pasti, aku dan Selena melakukan itu dirumahku, didalam kamarku. Aku pastikan seseorang pasti menyelundup kedalam dan melihat semuanya. tetapi, siapa?

"Ada apa dengan Video itu?"

"Hmm.. Aaron mengancamku, katanya ia akan menyebarkan Video itu jika kau tak membebaskan Ayahnya. Oh, persetan dengan itu, Justin, apa yang sudah kau lakukan padanya?!"

"Apa yang—" aku membekam mulutnya, Selena kelewat khawatir. well,meskipun aku juga memiliki perasaan yang sama. Selain menyakiti Yn, Videonya akan menyebabkan pernikahan Clara dan diriku batal. Dad marah, Yn menjauh, Selena-pun akan sama menderitanya denganku. Aku sudah berjanji untuk tidak menyakiti hai seorang gadis lagi.

Dan Aaron? Bagaimana dia bisa tahu mengenai Dadny? Aku bahkan belum mengatakan apapun. Dammit.

"Ya ampun Selena.. kau jangan khawatir, aku akan urus semuanya. Katakan pada Aaron untuk menemuiku nanti malam di Club, 7.00pm ok?"

Ia mengangguk, aku melepaskan tangan dari bibirnya dan membiarkan Selena pergi dari hadapanku. Kepalaku pening seketika, shit! Apa yang harus kulakukan!

Peraturan kedua : siswa yang melakukan perbuatan tidak senonoh akan menerima konsekuensinya sesuai dengan aturan, tidak memandang status dan tanpa terkecuali.

Apa aku seharusnya keluar dari Graha's?

THE FEELING (YN-YOUR NAME)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang