day-fiveteen

774 50 1
                                        

Wajahnya semakin dekat, jarak diantara kami menghilang. Aku ingin menjauhkan diri, tetapi Hailey malah mencengkram seragamku untuk tetap berada disana. Sedetik kemudian bibir kami sudah menempel, matanya terpejam seolah ingin merasakan balasan dari lumatan bibirnya padaku. Aku yang masih membuka mata menyadari betapa bodohnya diriku hingga terpaku sendiri layaknya pria idiot yang baru merasakan ciuman seorang gadis.

Tak hanya itu, Hailey juga semakin merapatkan tubuh kami. Bibirnya terus mencari jalan masuk untuk lidahnya agar bersatu denganku. Aku benar-benar terkejut. Tak pernah ada yang seberani ini denganku-maksudnya, dia adalah sahabat bagiku. Mengapa dia malah menciumku?. Terus bermain didalam ciumannya, aku merasakan gerakan aneh tepat dibagian sensitif seorang wanita. Aku semakin bingung, kuputuskan untuk mendorongnya hingga ciuman itu terlepas dan Hailey terjatuh diatas lapangan. Matanya berkaca-kaca, aku sangat mengerti perasaannya saat ini. Terlebih sekarang, kami menjadi pusat perhatian sekolah.

"Maafkan aku Hails. Aku tak bermaksud membuatmu terluka atau malu, aku benar-benar minta maaf" Hailey yang masih memusatkan pandangan itu mengarah pada kedua iris mataku. tatapan penuh harapan itu terlihat jelas. Airmatanya turun seketika, bukannya membantunya bangkit, aku malah meninggalkannya bagai pria brengsek seperti biasanya. Entahlah, aku merasa kecewa. Selama ini aku menganggap dia adalah gadis unik karena tak merasakan jatuh cinta padaku seperti yang lain, tetapi nyatanya aku salah. Hailey mencintaiku, aku salah menilainya.

"You still a Jerk! You dont understand my feeling. You dont." Dibelakangku, ia meneriaki. Aku sudah terbiasa dengan ini. Sekarang, aku sudah kehilangan seorang teman lagi. Dan jika waktunya tiba, mereka semua akan menghilang. Aku akan sendiri, benar-benar sendiri.

..

Dikoridor, dekat dengan Rooftop yang sering kugunakan untuk bertemu dengan Yn, Selena berjalan dengan buku tebal ditangannya. Gadis itu tetap sama seperti dulu, senang belajar. Bahkan aku sering marah apabila aku berkunjung ke dalam kamarnya, Selena bukannya memanjakanku ia malah asik dengan buku pelajaran. Model rambutnya yang membuat Hailey dan Clara sampai berlomba untuk menyamainya pun tampak bergontai seiring dengan langkahnya.

Aku mematikan rokok yang tersulut dan menginjaknya dengan sepatuku sebelum akhirnya menghadang dirinya, "Hai, mau kemana?"

Ia agak terkejut, memang-semenjak aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, Selena dan aku tak pernah berbicara lagi. Hubungan kami benar-benar renggang, itu semua karena Jeremy yang memaksa, hanya karena Selena pewaris perusahaan ponsel keluaran korea yang sudah mendunia dan tidak ada hubungannya dengan perusahaanku serta keuntungannya, Dad memaksa untuk aku beralih menjalin hubungan dengan Clara yang merupakan pewaris tunggal dari kepala perusahaan dari seluruh cabang perusahaan dibidang tekstil merambah hingga ke kaos,kacamata,tas, sampai sepatu. Ia juga pewaris tunggal dari perusahaan G-Shock.

Tatapannya menghangat kearahku, tersenyum ramah. "Aku ingin keperpus. Kebetulan minggu depan kita akan menghadapi ujian, jadi harus dipersiapkan matang-matang. Bukan begitu?"

"Oh ya, tentu" bahkan aku sendiri tak tahu bahwa minggu depan ujian sudah menanti, Yn sendiri tak menceritakan apapun soal itu.damn.

"Oh really? You know about that? i guess you dont. "

"Yes , youre right, i dont know about the exam. Dammit, still jerk, ha?"

Ia terkekeh, "no, you dumb ass"

"oh c'mon. Gadis baik takkan mengatakan itu"

"Alright Jerk, aku harus pergi sebelum Clara memergoki-ku dan aku dituntut karena mengambil tunangannya"

Kali ini tawaku yang pecah, mood ku kembali membaik setelah sebelumnya dihancurkan oleh Hails. "oke, hati-hati. Banyak yang lebih bajingan disana ketimbang diriku" Selena tetap berjalan, tangannya mengangkat dengan telunjuk dan jempol yang bersatu membentuk lingkaran, dan kusimpulkan itu sebagai responnya.

Tak lama, gantian gadis-ku yang melewati diriku tanpa sedikitpun rasa peduli. Ya, aku sadar dia ada disana saat aku mencium Hailey,argh-tidak, maksudku Hailey menciumku. Mungkin Yn kesal dan aku harus berburu meminta maaf dengannya.

"Hai, hai... mau kemana? Kau pikir aku ini Valak yang tak bisa kau lihat?"

Tatapan bengisnya langsung menancap dan memenuhi ruang jantungku. Detakan itu hilang, kakiku terpaku dan ketakutan mendalam akan arti responnya atas ucapanku membuat lambung ini mengontraksi asam berlebih dan perutku seketika sebah. Ditambah lagi dengan cairan yang seolah berputar didalamnya begitu kuat, lebih kejam dari Tornado Alex.

"Kau lebih dari Valak. Mengerti?!"

Aku menahannya lagi ketika kaki Yn berusaha melangkah didepanku, "ok, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Bukan maksudku menciumnya, sungguh."

Yn menyipitkan matanya, "tidak bermaksud kau bilang? Aku melihatnya dengan mata-kepalaku sendiri Justin, kau menciumnya dengan begitu bernapsu yang membara. Dan kau bilang itu tidak bermaksud? Apa selama ini kau juga tak bermaksud memacariku, Menyentuhku saat diranjang, Dan ciuman-ciuman yang kau berikan untukku Apa itu sama artinya dengan ucapanmu barusan mengenai ciuman-mu pada Hailey dilapangan tadi?" Ucapnya panjang lebar-bak Dongeng.

"Sayang.. bukan begitu..Gu-aku, aku..."

"Kau gila! Hailey benar, kau memang Jerk!" Ia kembali mencoba meninggalkanku, aku berburu mencegah tangannya. Menyamakan langkahku dengannya. "Hey, dengarkan aku dulu..." ucapanku terhenti ketika menyadari Mr.Styles-Harry, mantan pacar si Taylor-tante tua itu berjalan berlawanan dengan diriku dan Yn. Matanya penuh kewaspadaan denganku seolah aku adalah penjahat berdarah dingin.

"Justin! Aku sudah mengatakan padamu, aku akan menuntaskan kasusmu apapun alasannya!" Ucap Yn lantang, aku mengerti betul dengan akting-nya tak kala kini kami berpapasan dengan si pria berambut sebahu itu. Harry menyapa Yn ramah dan berjalan begitu saja, "ayolah Yn... maafkan aku.." tambahku agar terdengar dramatis.

Seusai yang dilewati sudah terlewat, Yn kembali menyingkirkan tanganku dengan kasar. "You are Jerk! jangan ganggu aku." Ucapnya penuh ancaman sebelum akhirnya berlalu menuruni tangga, menyisakan aku seorang diri. Aku bisa saja menariknya, tetapi aku sedang tak ingin berdebat dan membiarkan dirinya untuk menenangkan diri sejenak. Mungkin lebih baik aku takkan pulang bersamanya dulu hari ini, ataupun menghubunginya.

..

Sepulang sekolah, aku mendengar keributan yang asalnya dari kelas Clara. Aku memang menjadi murid terakhir yang keluar kelas karena memang kebiasaan ku seperti itu. Suaranya semakin lantang, seperti dua orang perempuan yang saling beradu mulut, dan suara mereka tak asing ditelingaku.

Lingkaran setan yang malah mengelilingi kedua bocah gadis itu menjadi mala petaka seperti yang biasa kubuat. Aku menyingkirkan punggung-punggung yang menghalangi biang ribut keduanya, menemukan Hailey dan Clara saling menjambak rambut mereka. Poni mereka yang sama-sama mendatar menyerupai Selena itu berantakan tak berbentuk, si Clara berada dibawah Hailey, dimana gadis itu menjadi pemimpin dari perkelahian ini. Aku yang menyaksikannya begitu menikmati dan tidak berencana memisahkan, aku takkan peduli meskipun mereka saling membunuh sekalipun.

THE FEELING (YN-YOUR NAME)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang