day-three

1.1K 75 0
                                        

'Justin?'

"Hey, masuklah. Udah mau ujan. Loe mau keujanan apa?"

"Ju-ju-justin?"

"Iya ini gue. Loe kek gak pernah ketemu gue aja. Cepetan masuk!"

Aku melirik kearah samping secara bergantian. Aku takut karirku hancur jika kepala sekolah memergokiku masuk kedalam mobil siswa. Tidak, meskipun Justin adalah pacarku.

Kudapati Justin memutar matanya kesal. "Ayolah... loe tuh pulang paling akhir disekolah ini. Kagak ada yang bakal liat, buruan masuk!"

"Baiklah"

Dengan ragu aku meraih pintu mobilnya dengan tetap mengantisipasi sekitar sebelum akhirnya bentakan Justin membuat diriku tersampai didalamnya. Mesinnya masih menyala. seusai aku memasang sabuk pengaman, Justin langsung menancap gas meninggalkan halte dimana aku sempat mendengar klakson kendaraan lain dibelakang kami.

"Tuh, gara-gara loe lama naik, gue diprotes sama supir bus-nya"

Aku melirik arah spion dan benar ucapan Justin, bus yang kutunggu sedari tadilah yang membunyikan klaksonnya hingga memerkakan telingaku.

Diperjalanan Justin hanya berkumandang menyanyikan lagu yang ia putar melalui dashboard mobilnya. Kebanyakan tak kukenal dan aku mengacuhkan itu. Pikiranku masih tertuju pada ocehan Zeya mengenai hubungan Justin dan Hails. Seperti aku merasakan jantungku yang berdetak kencang, tanganku yang mulai mengepal dan rasanya aku ingin berteriak. Aku tak mengerti mengapa, namun aku masih mengingat bagaimana bebasnya Hails mendekati Justin seperti saat makan siang berlangsung. Dalam hati kecil ini terus mengharapkan suatu saat nanti keadaan akan menjawab semua ini. Hubungan terlarangku dan Justin. Aku ingin bersamanya- tetapi, aku sudah sejauh ini dalam karirku. Aku tak bisa melepaskan Justin seperti aku melepaskan karirku.

"Yn..."

Aku menoleh, Justin tampak kesal, dan itu membuatku penasaran. "Heh?"

"Tuh kan gak didengerin." Untuk kesekian kali ia memutar matanya yang sepertinya aku melewatkan ucapannya beberapa saat yang lalu.

"Maafin aku. Aku lagi kurang fokus, kamu ngomong apa?"

"Kagak. Itu gak penting juga sih. Udahlah gue bakal nganterin loe ke apartemen."

"Justin.. kamu marah? Aku minta maaf, aku bener-benar lagi gak fokus hari ini. Maafin aku.."

Tidak seperti sebelumnya, emosi Justin mulai menurun, terbukti dengan helaian nafasnya yang serentak dan tatapannya yang berulang kali menatapku dengan penuh artian.

"Gu-aku cuman ka-rindu- maksudnya, aku merindukanmu. Itu aja, gu-aku boleh kan mampir keapartemen malam ini? Tapi sebelum itu kita dinner, gimana?"

Tanpa pikir panjang aku mengangguk, mengumbarkan senyuman kebahagian yang selalu kurasakan saat aku bersama Justin. Entah mengapa aku selalu berhasil membuat dirinya yang egois dan keras kepala serta temperamental itu kembali menormal. Aku menyukainya, terlebih bagaimana Justin berusaha mengubah bahasanya yang sedikit berantakan menjadi sedikit formal.

"Kebetulan aku lapar, Ak-..hmm.." rasanya ragu ketika aku berfikir untuk mengatakan pada dirinya untuk mencari restoran yang jauh dari sekolah karena takut reputasi serta karir-ku akan tamat. Aku menghalangi niatanku untuk itu dan memilih untuk terdiam.

"Udah tenang aja. G-aku bakal cari restoran yang aman"

Justin yang sibuk mengatur kemudinya memahami maksudku.

Seusai makan, Justin langsung mengantarku hingga keapartemen. Bukan Justin kalau tidak masuk kedalam apartemenku untuk memastikan bahwa aku memang seorang diri disini. Dari ruang tamu , dapur hingga kedalam kamar. Setelah semua ia pikir aman, Justin menyusulku yang tengah membuatkan secangkir teh untuknya. Tangannya yang kekar melingkari perutku, kepalanya bersandar dipundakku. Sendok yang kugenggam sedikit bergetar saat mengaduk kedalam cangkir yang terisi teh dan gula sebagai pemanis. Sentuhan itu yang membuat aku kehilangan arah.

"Umurmu 23tahun namun kau masih saja seperti gadis 14tahun yang belum pernah tersentuh lelaki"

Aku terkekeh, membalikkan badan serta membawa cangkir pada genggamanku. Wajah kami begitu dekat hingga aku bisa melihat pahatan diwajahnya yang begitu sempurna. Itulah mengapa para gadis jatuh cinta padanya. 'Justin memang tampan'

"Tentu. Aku tak pernah disentuh oleh seorang pria brengsek seperti-mu. Ini tehnya" aku menyodorkan cangkir dihadapannya dan segera berlalu dari dekapannya yang mematikan. Kudengar suaranya yang mengikutiku hingga masuk kedalam kamar dan terhenti diambang pintu. Justin masih menggenggam cangkir berisi teh yang kubuatkan dengan memandangi tubuhku dari kepala hingga ujung kaki secara berulang. Aku yang rencananya ingin mengganti pakaian kerja dengan piyama-ku mengurungkan niat atau sesuatu yang buruk bisa terjadi.

"Justin.. aku tahu, aku ini pacarmu. Tapi bisakah kau berhenti memandangiku seolah kau ingin memakanku dari sana? Kau bahkan terlihat lebih dari seorang predator yang barusaja menemukan mangsanya"

"Memang, aku barusaja" tak disangka Justin malah mendekat. Langkah kakinya seiring dengan kakiku yang berusaha menghindar hingga tumit belakang menabrak tepian ranjang dan aku jatuh terduduk diatasnya. Justin menyeringai, kakinya mendorong pintu kamar hingga tertutup dan meletakkan cangkir diatas meja belajar-ku.

Aku menelan ludah berat "Ju-justin.."

"Sstttt- nanti kita ketahuan Ma'am" seringaiannya semakin terlihat jahat, membuat desiran ditubuhku mengalir keseluruhan dengan cepat. Pikiranku kacau, berbagai jurus sudah kurencanakan untuk mendorongnya menjauh dan menggagalkan rencananya padaku-apapun itu. Namun faktanya aku malah terdiam saat Justin mulai menabrak tubuhku, mendorongnya hingga aku berada diatas ranjang. Justin mengambangiku, memiringkan kepalanya untuk lebih mendekat, mendekat.. dan..

"Yn.. aku ingin.. apa kau mau mengabulkannya?"

"Tidak- menjauhlah" aku mendorongnya, Justin yang kesal menjatuhkan diri disampingku dan aku segera bangkit. Aku sempat meliriknya sebelum akhirnya membawa handuk menuju kamar mandi.

"Gue bakal tunggu loe disini, mandi yang bersih sayang.." suaranya diluar kamar mandi.

Seperti menjadi ketegangan sendiri bagiku, aku tahu Justin akan mau melepasku jika aku menolak keinginannya, tetapi aku malah membersihkan diriku lebih lama daripada biasanya. Mengikat gigiku dalam jangka waktu yang lama dan sesekali memandangi diri dibalik kaca kamar mandi dimana pikiranku sudah melayang jauh tak bisa untuk kukembalikan. Aku ingin.. tetapi..

Aku menggeleng. Berulang kali, aku menggeleng tanpa alasan. Melanjutkan acara mandiku, aku menyalakan Showernya untuk membasahi rambutku, membersihkannya dengan Shampoo kesukaanku dan menyabuni seluruh tubuhku merata. Setelah semuanya selesai, aku melilitkan handuk untuk keluar kamar mandi. Untungnya, Justin sudah tak ada didalam kamar. Aku bergegas mengambil piyamaku dan memakainya, aku mendengar suara tv yang menyala yang kuyakini bahwa Justin ada disana. Menyisir rambutku cepat, tak lupa aku juga meletakkan handuk ketempat semula. Aku juga membersihkan ranjangku agar terlihat rapi, dan-

'Tunggu, kenapa aku membersihkan ranjang?'

Lagi-lagi aku menggelengkan kepala keras hingga aku merasakan sedikit pening karenanya, detik selanjutnya aku mendengar pintu kamar tergeser. Aku segera menoleh untuk memastikan Justin lah pelakunya. Dan aku menemukan senyuman jahilnya sesaat menemukanku yang malah terduduk ditepian ranajng tanpa kusadari.

"Jadi lo-kau sudah siap?"

"A-apa?"

THE FEELING (YN-YOUR NAME)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang