Mataku menunduk, menutup kenopnya hingga udara dingin dibelakang Cafée mencekamku. Tiba saja, tubuhku tersenggol. Aku mendongak, mendapati seorang pria bertubuh kekar yang berpakaian sama dengan pria pada pintu kedua itu. Ia menghalangi pintu kembalinya pada Cafée.
"A-" ucapanku terpotong karena dirinya memutar tubuhku.
Tepat berhadapan, mataku terbelalak melihat sebuah mobil limo terparkir disini. Dimana seorang pria yang sangat teramat tak asing bagiku tengah menyandarkan diri di body mobilnya dengan satu kaki terangkat. Aku menggeleng. Ini tidak benar..
Di sekitaranku, lebih dari sepuluh body guard mengepung. Pria yang bersandar tadi mendongak, mata karamelnya menatapku tajam. Bukan kemarahan yang ada, melainkan kerindukan yang begitu dalam.
Aku semakin menggeleng, mustahil jika Justin mengetahui dimana keberadaanku saat ini. Terlebih Cafée ini. Aku menampar pipiku sendiri, dan aku mengerang. Brengsek! Ini benar-benar nyata.
Justin masih bungkam didepanku. "Tidak! Tidak mungkin.." aku mengangkat suara. Membiarkan nadanya begitu tinggi hingga siapapun yang disini bisa mendengarnya.
"Yn.. biarkan aku jelaskan semuanya.."
Aku tetap menggeleng, mengalahkan gadis bantinku yang sudah mengedor untuk meminta keluar dan berlari pada pelukannya. oh Justin, aku sangat merindukanmu.. "tidak! Brengsek! Pergi darisini!" Aku membalikkan badan, mencoba menyingkirkan pria yang memiliki tenaga berkali-kali lipat dari milikku. Bahkan menggesernya sedikitpun tak berhasil. Aku memukuli badanya yang begitu keras hingga tanganku sendiri merasakan kengiluan yang begitu terasa.
Justin menghela nafas panjang, "bawa dia masuk"
Aku menggeleng, tetapi tidak mengurutkan beberapa body guard yang berada disisi kanan dan kiriku untuk mengangkat tubuhku begitu mudah dan ia lemparkan pada mobil. Justin yang semula bersandar sudah berada didalamnya. Karena lemparan pria bertubuh kekar itu, membuat diriku terpental dan tak sengaja malah sempurna melingkar pelukan para perut Justin. Kami berpandangan, bersamaan dengan suara pintu yang dibanting. Aku memberontak, melepaskan pelukannya, tetapi pria berseragam hitam itu malah terduduk disampingku, mengunci diriku yang sangat mustahil untuk melarikan diri.
Daripada mendekat pada Justin yang masih sangat kubenci itu, aku memilih untuk terus memukuli badan si pria itu dengan tenaga penuh. Lagi-lagi ia mendorong tubuhku kesamping, dimana Justin membukakan tangannya untuk menerimaku hingga kami berpelukan lagi.
"Jangan kasar-kasar! She's mine!" Bentak Justin yang mengarah pada pria berotot itu.
Justin benar, kali ini dorongannya begitu kuat. Aku sendiri merasakan tulangku remuk dan akhirnya aku meneteskan airmata. Sungguh, aku terjebak dalam situasi seperti ini. Bukan karena perlakuan pria itu, melainkan gadis bantiku yang juga menangis, merasakan bagaimana aroma maskulin Justin yang tercium padaku saat ini,pelukan hangatnya bersamaan dengan kehancuran hatiku ketika melihatnya kembali. Oh god, aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang harus kulakukan..
Justin pov
Kurasakan butiran bening menembus kaos putih yang kukenakan yang asalnya dari Yn. Ia masih terdiam dalam pelukannya padaku. Mataku tertuju pada kakinya yang masih memakai sepatu pemberianku, Adidas Yeezy Boost 380 karangan Kanye West yang saat itu masih diluncurkan beberapa hari.
Aku mengusap punggungnya berulang berusaha menenangkannya. Hingga drivernya menghentikan mobil limo, pria yang berada pada sisi Yn keluar mobil, menyisakan diriku dan Yn. Memberi batasan pada jok belakang dengan jok barisan depan pada driver yang memang secara otomatis terpisah. Membuat si driver takkan bisa melihat perlakuanku pada Yn dibelakang sini.
