Justin pov
Yn terpaku ditempat sesaat aku menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Rasanya jerry-ku sudah terbangun sedaritadi dan Yn masih menolak untuk kusentuh malam ini. Tanpa basa-basi, aku mengambil kesempatan saat Yn masih tertidur diatas ranjang dengan piyama bergambarkan kartun itu. Aku tergelak mengomentari piyamanya sesaat bersamaan meraih boobs-nya untuk kuremas. Yn menarik bajuku. Matanya mendelik dan seolah memarahi dengan apa yang kuperbuat, tetapi aku yakin dia juga memiliki nafsu yang sama sepertiku. Terbukti dengan tidak adanya penolakan yang berarti.
Aku melanjutkan dengan mencium bibirnya secepat kilat dan Yn menerima itu, kurasakan remasan tangan mungilnya dikaosku semakin erat membuat tubuhku tertarik untuk lebih mendekat. Aku menopang diri dengan menggunakan kedua tangan diantara tubuhnya agar aku tidak benar-benar ambruk diatasnya dan Yn akan kesulitan bernafas. Jujur saja, Yn bukanlah gadis pertama namun dialah pertama yang selalu membuatku bertindak lebih berhati-hati saat bersamanya. Aku tak ingin ia terluka akibat ulahku.
Masih dalam ciuman mautku, aku berusaha menanggalkan pakaiannya hingga melewati kepala dan menyisakan bra untuk bagian tubuh atasnya. Ciuman kami terputus, mataku terus menatap lekukan tubuhnya yang begitu sempurna. Tangan Yn menutupi kedua boobsnya yang hanya dihalangi bra merah yang ia kenakan.
"Yn.." suaraku nyaris serak.
Yn perlahan menyingkirkan tangannya sendiri dan beralih untuk meremas pakaianku kembali. Aku menciuminya lagi, bertubi pada bibir hingga menghasilkan decakan antar ludah kami. menuruni bibir, aku beralih pada lekuk lehernya dan lebih turun hingga kedua boobsnya. Dengan kasar aku melepaskan kaitannya dibantu dengan punggung Yn yang terangkat. Tangannya menarik rambutku ketika aku bermain pada nipple secara bergantian.
Kudengar suara desahannya yang semakin kuat dan tak tertahan, dimana aku merasakan dia merapatkan pahanyanya ketika gigitan kecilku dinipplenya.
"Justin!"
"Stttt- kita bisa ketahuan Ma'am.." aku menggodanya, Yn dengan nafasnya tak beraturan, sudah dipenuhi dengan nafsu yang begitu membara. Aku terhenti, memandangi dirinya yang sudah tereskpos dibagian atas. Aku berencana untuk menggodanya dengan menahan diri untuk tidak lagi menyentuhnya dan bergegas pergi dengan alasan tak jelas. "Yn.. gue harus balik. Gue lupa harus bantuin nyokap gue-"
Entah kenapa ucapan-ku terpotong sesaat aku melihat Yn menggeleng dengan airmata yang membanjiri wajahnya, rasanya tak tega untuk tetap melakukan rencanaku. "Jangan berbohong! Justin!!!!" Dan selanjutnya aku merasakan ia memukuli dadaku dengan tenaganya yang tak sebanding dengan rasa sakit yang kuterima. Sigap aku mengumpulkan tangannya dalam satu tanganku, meletakkannya diatas kepala dan kembali menciuminya. Yn yang terisak dalam tangisnya seperti memberitahuku bagaimana kecewanya ia saat ini.
"I hate you Justin.." ucapnya seusai aku melepaskan ciuman itu. Kulonggarkan jarak tubuh kami dan membiarkan dirinya lolos dalam dekapanku. Salahku memang. Dan kini aku melihatnya keluar setelah menggunakan piyama meninggalkanku.
Aku bergegas menyusulnya, menemukan Yn yang tengah terduduk santai disofa dengan tatapan mengarah pada tv yang menyala. Aku menyamakan posisi dengan sedikit menghangatkan diri padanya, namun Yn menolak. Mendorong tubuhku menjauh dan memilih dirinya untuk terduduk seorang diri. Aku benar-benar menyesal, dan kami-pun sudah kehilangan nafsu secara bersamaan. Aku tak menyangka gadis sedewasa Yn-pun bisa marah jika nafsu-nya terputuskan oleh kejahilanku sendiri. Sungguh bodoh.
"Yn.. aku minta maaf. Aku cuman bercanda"
Ia masih bungkam.
"Yn.." tak ada sautan. Aku lebih menyandarkan punggung kesofa lebih jatuh hingga seperti tengah terbaring, diantara suara tv yang menyala aku masih mendengar isakan pelan yang sumbernya dari sampingku dimana Yn berada.
"Yn.. jangan nangis gitu, gue salah apa? Gue-"
"Diem! Bisa gak sih sekali aja untuk diem dan gak banyak komentar!" Ia membentakku. Dan bukan kali pertamanya aku mendengar suara itu, aku yang selalu berhadapan dengan guru Bk seperti Yn, rasanya selalu sama. Bukannya merasa takut, aku malah seolah menang malam ini.
Lama berselang, Yn masih terdiam. Tak banyak yang kulakukan selain merayunya berulang untuk berada didekapanku lagi. Tetapi kali ini Yn benar-benar kecewa. Aku telah memutuskan nafsunya yang membara tadi, seandainya tadi aku tidak berbuat tindakan sebodoh itu, mungkin kami sedang berperang diranjang. Damn, ini memang salahku.
"Yn.. ayolah.." aku merengek seperti bocah lima tahun disampingnya, kusengajakan wajahku mengenai boobsnya namun Yn begitu acuh. Tatapannya tak ingin berpaling dari layar tv dihadapannya. "Yn..."
"Pulanglah Just, aku ingin sendiri"
Aku menggeleng, 'sialan, bukan itu yang kumau'
"Yn! Ayolah, l-kamu mau ngusir aku?"
"Ya, kenapa?" Kali ini ia menatapku, matanya mendelik. "Jangan..." aku memainkan jurus andalan dihadapannya, berharap ia luluh kali ini.
Beberapa detik, tatapannya tak menghilang dari sana. Aku masih merengek disampingnya, nafsuku memang sudah hilang namun setidaknya aku tak ingin ia marah padaku karena ini.
Masih. Yn seperti mempertimbangkan semuanya, kurasakan nafasnya yang teratur saat wajahku bertopang didadanya. Begitu hangat, mataku terus mengikuti setiap alur kemana ia melihat. "Yn..."
Yn menghela nafas, dalam hati aku bersorak dimana aku sudah mengangkat sudut bibirku. "Aku akan memaafkan, tapi tidak lagi kau coba untuk menyentuhku bocah tengik. Kau benar-benar keterlaluan"
Aku terkekeh, "baiklah, tapi gu-aku ngantuk sekarang. Bisa tidak kita tidur?"
"Kau tak pulang?"
Menggeleng.
"Kau yakin?"
"Hey, aku ini pria. Apa yang membuatku tak yakin? Aku tak mungkin kehilangan keperawananku ataupun hamil karena tidur diluar. Bukan begitu?"
"Ya sudah, terserah"
..
Yn pov
"Yn!"
Hailey menyentuh pundakku sesaat aku tengah berjalan menuju ruang kantor guru. Aku barusaja menyelesaikan mengajar kelas 12A untuk mata pelajaran bahasa perancis hari ini, dimana kelas Justin dkk serta Hailey berada.
"Ada apa Hails?"
"Hmmm, kau ada acara apa setelah ini?"
"Tidak ada. Ada apa memangnya?" Hailey yang menyamakan langkahnya terlihat berat untuk mengatakannya.
"Hmm- entahlah aku harus bercerita pada siapa masalah ini, yang jelas aku butuh teman curhat. Kau mau?"
"Ak-" ucapanku terputus, kami berdua sama sama mendengar suara keributan yang asal datangnya dari ruang praktik biologi yang tempatnya tak jauh dari kami. Benar, mataku menangkap sekelompok anak yang malah melingkari dan menyoraki yang berada ditengah mereka. Aku tak bisa melihat dengan pasti siapa yang membuat keributan. Batinku terus menjerit dan berkata semoga saja dia bukanlah Justin.
Aku dan Hailey langsung menuruni tangga menuju depan ruang praktik biologi yang letaknya berdekatan dengan lapangan basket. Aku menyingkirkan satu persatu murid yang menyaksikan mereka. Adu hantam terdengar, ada yang merintih dan meminta ampun.
"Stop!!" Aku terus berteriak histeris, guru-guru lain menolongku termasuk Niall Horan, guru matematika disekolah ini. Sesampai dipusatnya, aku menemukan Greyson, murid laki-laki kelas 10 yang kutolong membawakan buku-bukunya saat baru bersekolah disini itu tersungkur dihadapanku. Pipinya lebam, bagian atas matanya sedikit membengkak dan berwarna kebiruan. Pelipisnya terkena hantam sekali lagi dan menyebabkan darah segar mengalir. Aku membidik ngeri saat mengetahui siapa yang memukulinya.
'Justin..'
"Justin! Hentikan! Justin!!" Aku menangkap kepalan tangannya diudara saat ingin mendaratkan pada wajah Greyson. Ia menatapku, tatapannya liar. Bukan seperti Justin yang kukenal semalam, Justin dengan segala tatapan manisnya dan rayuannya.
"Apalagi! Gue belum selesai ngajar nih bocah! Ngapain sih lu urusan sama gue!"
