day-twenty three

777 45 1
                                        

Didalam Club, yang kudengar hanyalah suara musik dengan Beat cepat dan membuat semua orang bergoyang di lantai dansa. Tak terkecuali Nathan. Pria yang selama ini kunilai baik, nyatanya lihai menggerakan badannya seirama dengan musik yang tengah dimainkan. Dimana aku terduduk disofa panjang bersama Hailey dan Zeya. Niall sibuk memainkan ponselnya, aku sempat berfikir untuk mengirimi pesan pada Justin, namun entah mengapa tanganku tak ingin bergerak dari bibir gelas wine putih yang masih sepenuhnya belum tersentuh kedalam tubuhku.

"Ahh! Aku jadi ingat saat di club, bukannya saat Niall memelukmu, dan tiba-tiba Justin datang? Kau ingat itu Hails?" Zeya tiba saja berucap yang membuat kerongkonganku seketika tercekat. Oh ya ampun.. aku pikir mereka sudah melupakan soal itu.

"Ya, itu jelas-jelas Justin. well, memang tampak samar.." Kali ini Hailey, memang mereka berdua tengah mabuk saat itu, jadi kupastikan mereka takkan mengingat jelas. Tapi bagaimana bisa mereka kembali menanyakan hal itu. "Benarkan itu Justin, Mr.Horan?" Hailey kembali memastikan. Matanya memerah menatap Niall yang duduk disampingku. Ia mengangguk lemah.

"Nah.. jelaskan, kemana Bieber membawamu.. kau tak ada hubungan apa-apa dengannya kan?" Zeya mengintimidasiku. Aku yang menelan ludah dalam-dalam mengamati Hailey yang sudah menenggak wine gelas ke sembilannya hingga kosong.

"Tidak, hmm... aku tak tahu pasti, saat aku terbangun, aku sudah berada di rumah Caitlin. Perempuan yang anaknya kujaga saat ia bekerja. Ternyata, Caitlin mantan pacar Justin. Ia tahu soal itu karena Cait yang menceritakannya" aku mengasal. Sungguh,aku berharap Zeya akan mempercayaiku.

"Bagaimana bisa mereka sampai membicarakanmu? Apa mungkin Bieber memiliki ketertarikan denganmu?"

Aku tertawa lebar, terdengar menyeramkan, tersendat oleh air liurku yang memutus tawa terpaksaku. "Well,yang benar saja. Mungkin mereka tengah hangout bersama, lalu melihatku dan alhasil mereka membicarakan tentangku. Lagipula, aku guru Bk nya. Jadi, Jusin sangat mengenalku"

"Oh ya, kau benar. Tapi syukurlah kau tak diperlakukan tidak senonoh dengannya. Jujur saja aku sempat ngeri melihatmu saat Justin mulai menggedongmu, menatapmu seolah ia ingin memakanmu hidup-hidup. Lama sekali.. sebelum akhirnya ia pergi."

benarkah seperti itu?

"Justin memang seperti itu pada perempuan. Aku saja sampai khilaf menciumnya dilapangan. Sampai sekarang bibirnya masih terasa bila aku mengingat kejadian itu" Hailey seraya memegangi Bibir merah muda tebalnya, hatiku terluka. Kekasih mana yang bisa bertahan saat ada gadis lain membicarakan adegan ciuman dirinya dengan pria yang jelas-jelas sudah resmi menjadi miliknya, Semiris itukah hidupku?

"Tapi ini beda. Aku melihatnya jelas, Justin menatap Yn sangat berbeda, seperti ada hasrat terpendam. Tatapannya dalam malam itu, begitu kuat, seolah ada kemarahan dengan rahangnya yang mengeras serta kekecewaan disana"

Aku kembali tertawa, persetan dengan ucapan Zeya yang membuatku semakin kalah telak. "Kau ini terlalu berlebihan. Hailey benar, Justin memang seperti itu. Tetapi mana mungkin dia bisa melakukannya denganku? Dia bisa dikeluarkan dari Graha's. Sesuai peraturan."

"Tetapi Zeya benar. Aku sendiri yang melihat jelas bagaimana Justin terlihat menyemburui-ku saat aku mencoba memelukmu. Dan ya, aku minta maaf soal itu. Entah setan apa yang merasukiku malam itu, tetapi sungguh Yn kau harus berhati-hati, Justin tak baik. Dia bajingan. Toh, jika kau sampai menjalin sesuatu dengannya, kau tahu sendiri akan berakhir seperti Zayn dan Gigi"

Aku mengangguk kecil, dan memilih diam untuk mengalihkan perhatian mereka selanjutnya. Setelah itu, baik Zeya,Hailey, maupun Niall tak lagi membicarakan mengenai Justin yang membawaku dari Club. Mereka sibuk membicarakan Nial dan tunangan barunya dengan sejuta candaan yang membuatku harus tertawa terpaksa. Aku juga tak berani membuka ponselku, takut Justin yang menghubungiku dan mereka mengetahui akan hal itu. Nathan datang, terduduk disampingku setelah Niall bergeseser duduk diantara Zeya dan Hailey. Dari percakapan mereka bertiga, bisa kucium bau alkohol yang menyengat. Baik dari Hailey maupun Zeya, sedangkan Niall tak meminum segelaspun.

THE FEELING (YN-YOUR NAME)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang