Aroma telur dadar memenuhi hidungku.
Suara penggorengan yang dipanaskan, suara gesekan sodet yang menari di atas wajan, dan bau sedap yang lain masuk ke dalam indera penciumanku. Kesadaranku merangkak naik.
Membuka mata dengan malas, aku melirik jam weker di nakas.
Jam enam pagi.
Dengan malas, aku merangkak naik dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar.
"Hampir aja aku dobrak kamarmu." Aku menoleh, mengerjap beberapa kali dan mendapati wajah kesal kak Yuda sudah ada di hadapanku.
Mataku bergerak turun. Kak Yuda sudah memakai baju kaus lengan panjang dan jaket. Kedua kakinya ditutup celana berwarna abu-abu panjang yang menutupi sampai mata kaki. Telapak kakinya ditutup sepatu hitam yang selalu dikenakannya setiap lima hari dalam seminggu.
"Kakak kuliah pagi?" Aku bertanya dengan suara parau.
"Keliatannya?" Kak Yuda menyentil dahiku. "Udah cepet sana cuci muka terus mandi! Ilermu kemana-mana tuh!"
"Kayak situ nggak kusut aja tiap bangun pagi!" Tanpa tedeng aling-aling, langsung kututup pintu di depan wajah kak Yuda.
Setelah rapi dan memastikan tidak ada iler yang tersisa di wajah, aku keluar kamar, siap dengen seragam putih abu-abu dan tas berisi seperangkat buku yang tebalnya, jika dilempar, cukup untuk membuat kepala anak orang bocor.
Di meja makan, ayah, ibu, dan kelima kakakku yang lain sudah menunggu. Posisi duduk meja sarapan di rumah ini tidak pernah membuatku kehabisan komentar. Pasalnya, cara kami makan benar-benar persis seperti yang biasa kulihat di televisi, maksudku mirip jamuan makan kerajaan atau semacamnya.
Bayangkan saja, tiga anak putri di sebelah kanan dan tiga anak putra di sebelah kiri dengan ayah dan ibu berada di bagian utara dan selatan meja. Bukankah itu terdengar seperti jamuan resmi ala-ala bangsawan? Yeah, atau memang hanya keluarga kami yang anggotanya kebanyakan.
"Akhirnya bangun juga tuh!" Kak Ina, kakak ketigaku, menggerutu.
"Lama banget bangunnya, nnasi gorengnya keburu dingin nih," keluh kak Jati, kakak keempatku.
"Kayak lo sendiri nggak bangun paling telat!" Kak Ferdi, kakak keduaku, membalas dari sebelah kak Jati, menusuk-nusuk pelan kepala kakak keempatku itu dengan garpu.
"Di, ati-ati kutunya Jati loncat ke garpu elo." Kak Ina mengejek.
"Sembarangan! Gue mana ada kutunya, Na?" sembur kak Jati, menyingkirkan garpu kak Ferdi dari kepalanya. "Adanya juga elo tuh yang ternak ketombe!"
"Terus kalau bukan kutuan, kenapa lo punya peditox di kamar lo?" Kak Saras ikut nimbrung, memanaskan suasana.
"Itu buat temen gue! Nggak usah pada salah paham deh! Lagian ngapain juga kita bahas kutu pas sarapan? Lo pada biasa makan sambil bayangin kutu ya?" sahut kak Jati tambah senewen.
"Kalian ini biasa hidup di hutan ya?" Kak Yuda kelihatan sedang berusaha keras menahan kekesalannya. "Suara kalian bener-bener nggak bisa dipelanin di meja makan?"
"Udahlah, Yuda, nggak usah nasehatin mereka." Ayahku yang tengah membaca koran berkata dengan mudahnya. "Mereka nggak bakal pernah dengerin kamu juga kok. Kamu tau sendiri, kepala adik-adik kamu kerasnya ngalahin beton!"
"Ayah sadis amat nyamain mereka sama beton." Ibuku datang dari dapur dengan satu piring lebar berisi banyak sekali telur dadar yang masih mengepulkan uap panas. Aku bertatapan dengan mata lembut ibuku yang menatap penuh sayang sembari tersenyum. "Kamu ngapain bengong di sana, Eka? Ayo cepet makan! Kamu kan yang masuknya paling pagi!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Blood and Destiny
Vampire[ARUNA SERIES #3] [Young Adult Fiction! Rated for Detailed Violence!] Aruna kini diburu untuk dimusnahkan. Mereka menjadi mangsa bagi predator baru yang lebih ganas dan tidak memiliki akal maupun hati nurani yang diciptakan oleh Yusriza Ganen...
