30. Sebuah Alasan

1.4K 182 79
                                        

Mei 2004

Aku sudah banyak melihat hal aneh. Hidupku banyak dipenuhi hal aneh yang tidak bisa dijelaskan, baik oleh logika maupun dengan nalar manusia. Rumah, keluarga pertamaku, kak Yuda, Caiden, Jalanan yang disebut rumah bagi banyak makhluk, Maraditya, lalu Aruna satu ini.

Lima tahun merajam diri dalam kungkungan belasan Aruna yang berebut kepemilikan atas kebebasanku membuatku paham bahwa dunia ini jauh lebih aneh dari yang aku kenal selama berada di sangkar yang disebut Rumah. Keanehan dalam definisiku berarti 'kejam' bagi kamus umum. Namun mungkin definisi itu harus berubah. Aruna ini dan segala tingkah lakunya jelas tidak memenuhi definisi awalku tentang 'aneh'.

"Aku tidak suka melihat ada nyawa yang bisa aku tolong, justru terbuang sia-sia."

Aku tidak bisa menahan diri dari tidak mengernyit seheran-herannya.

Baru sebentar aku tersadar di dalam kamar asing, dikelilingi lingkungan yang tidak kukenal, dengan kenyataan aku sudah menjadi Budak seorang Aruna, aku malah ditemui satu Aruna asing yang menyela Maraditya saat baru saja akan bicara dan malah mendengarnya mengatakan kata-kata yang membuatku justru lebih pusing?

Dia mau mengajakku ribut karena tahu emosiku sedang tinggi sekarang?

"Nggak suka?" Aku mengulangi ucapan anehnya tadi dengan wajah heran. Alisku terangkat sebelah. "Maksud lo nggak suka itu apa?"

Diam-diam aku melirik Maraditya, makhluk yang membawaku ke dalam masalah satu ini, tapi dia justru memalingkan muka, dengan wajah yang menyiratkan dia ingin pergi secepatnya dari tempat ini.

"Maksudnya, aku tidak suka—

Aku menggeram kesal, memotong ucapan Aruna asing ini sebelum jadi terlalu jauh. "Bukan itu yang gue tanya." Tanganku mengibas udara remeh. "Yang gue mau tau, kenapa Aruna seperti lo peduli?"

Sekarang Aruna itu tidak menjawab. Hanya memasang mimik tanpa emosi yang biasa dipakai para Aruna—tidak terkecuali dirinya—ketika berhadapan dengan topik yang tak mereka sukai, di hadapan pihak yang tak boleh mengetahui emosi mereka sebenarnya.

"Nyawa manusia seharusnya nggak berharga buat lo." Aku melirik Maraditya yang menunduk tak bicara sekilas sebelum kembali menatap sang Aruna. Tanpa hormat, aku menuding Maraditya dengan ibu jari. "Dan lo ngikutin permintaan dari kelas rendah seperti dia?"

Ibu jariku gantian menudingnya. "Lo tau betapa kata-kata lo tadi sampah banget? Maksud gue, itu ketauan banget bohongnya."

Aruna itu memejamkan mata sejenak. "Aku lihat kamu ingat kejadian tiga malam lalu."

Tiga malam, informasi itu berdengung di dalam kepalaku. Aku tidak punya kenangan apapun antara pertemuan kami malam itu sampai ketika aku ersadar di rumah ini, jadi kemungkinan besar aku memang sudah tidak sadarkan diri sejak dia menandaiku.

Tiga malam tidak sadarkan diri. Tiga malam tidak makan atau minum apapun. Tanpa bantuan infus. Jika saja aku bukan Budak, sudah pasti aku akan sadar dalam keadaan dehidrasi berat atau bahkan lebih buruk, tidak sadar selamanya.

"Gue ingat seadanya aja." Aku berterus terang. "Lo jangan coba-coba mengalihkan topik."

"Tidak, aku tidak sedang mencoba mengalihkan topik apapun." Selagi Aruna itu menjawab, aku memandang seluruh tubuhnya sekilas. "Tapi biasanya topik seperti ini dibicarakan di meja makan setelah situasi tenang, bukannya setelah kamu langsung sadar."

Sikap tubuh seluruh aruna tegap dan sempurna. Seluruh anggota tubuhnya menunjukkan sikap tenang tanpa mengintimidasi maupun menantang. Kedua tangannya terlihat di tempat mataku bisa melihat, bagi manusia itu pertanda tidak ada maksud apapun, tapi bagi makhluk dengan kecepatan seperti Aruna, tangan tersembunyi ataupun tangan terlihat tidak punya arti berbeda. Sekelumit kekecewaan merekah dalam diriku karena tidak bisa menangkap gelagat apapun darinya.

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang