26. Albert: Berseteru

775 128 14
                                        

Kami terempas hingga terjerembap ke tanah. Di belakang, suara ledakan beruntun, bau asap, dan daging terbakar tercium pekat. Kami semua masih terus menunduk di tanah, menghindari serpihan apapun yang melesat secepat peluru ke arah kami.

Setelah memastikan tidak banyak lagi serpihan yang jatuh, aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.

Novia tidak main-main soal meledakkan seluruh penjara di pulau ini.

Seumur hidup, tidak terhitung banyaknya aku melihat langit yang membara merah oleh api peperangan. Namun sejak empat puluh tahun berlalu dari perjanjian gencatan senjata, hanya sekumpulan api kecillah yang aku lihat.

Sudah empat puluh tahun lebih aku tidak melihat api yang begitu besar sampai langit jadi membara karenanya.

Di kejauhan, titik-titik api lain bertebaran. Dari tempatku berbaring di tanah, tidak banyak yang bisa dilihat. Aku tidak bisa memastikan apakah benar ada sembilan titik api atau lebih. Tapi dari besarnya api dan banyaknya asap, kelihatannya Novia tidak membual.

Nama wanita itu bergema sekali lagi saat aku bangkit dan duduk di tanah. Penjara Karang Batu yang membara ditelan api membawa pikiranku melayang ke beberapa hari lalu.

Tidak ada yang seperti kelihatannya, kelihatannya dalam konflik kali ini pun, kata-kata bijak itu masih berlaku.

Di saat aku pikir tidak ada lagi anggota Komite yang pecah dari Yusriza, Novia muncul dan mematahkannya. Pandanganku beredar ke sekeliling, selain orang-orang yang datang bersamaku ke dalam penjara ini, terdapat belasan manusia lain yang selamat. Seragam mereka Komite tapi mereka membantu kami di dalam sana dan mengkhianati teman-teman mereka sendiri.

"Kalian ini ... sebenarnya siapa?" Aku bertanya lebih kepada diri sendiri. "Kenapa kalian...."

"Kami nggak memihak Yusriza, itu yang perlu lo tau—kamu nggak apa-apa?" Charlie berlutut di dekat Aldiva, memeriksa keadaan perempuan itu dengan seksama.

"Kalian...." Pandanganku menyapu para petugas Komite yang terluka dengan sangsi. "Nggak memihak Yusriza? Kenapa?"

"Nggak dalam seribu tahun ke depan." Charlie lagi yang bicara. Ia berdiri dan memeriksa temannya yang lain. "Dan kayaknya lo nggak perlu tau alasannya kan? Setelah melihat semua kekacauan ini dan kehilangan yang semua orang terima? Gue rasa nggak ada yang setuju sama caranya dia."

Para pendukungnya kelihatannya bersedia menutup mata untuk itu, pikiranku bekrata demikian, tapi mulutku bungkam. "Kalau bukan Yusriza, kalian memihak siapa? Aruna?"

Charlie mengernyit. "Sejujurnya gue muak dengar nama itu. Setelah semua yang mereka perbuat dan rusak dari Perang Merah, setelah banyaknya manusia yang mereka bunuh dan tingkah bejad mereka selama gencatan senjata, nggak ada alasan buat bela mereka," ungkapnya dengan rasa jijik yang tidak ditutup maupun dikurang-kurangi. "Tapi gue nggak bisa membetulkan sesuatu kayak gini dan gue liat salah satu dari kalian mau mengesampingkan persoalan ras dan predasi, jadi gue rasa itu cukup. Buat kami itu cukup."

Rasa percaya? Bisakah aku menganggap ini sebagai awal dari rekanan?

"Rasa percaya yang mengharukan." Darius yang tengah memandangi dermaga berkomentar. "Kita bisa urus soal rekanan nanti setelah kita keluar dari sini. Kapal itu tidak akan menunggu selamanya. Dan aku rasa tidak hanya mereka yang kemungkinan selamat dari sini."

Benci aku akui itu, tapi kelihatannya aku memang sedikit terbawa suasana tadi.

"Ya, sebaiknya kita pergi ke—

Kata-kataku terpotong oleh serangan yang datang tiba-tiba dari samping. Aku membidik, tapi gerakan orang itu terlalu cepat. Dalam sekejap, kedua senjataku ditangkis dan lututnya berhasil menghantam rusukku. Sebelum aku dapat mengerti apa yang terjadi, tubuhku terempas keras dan kakiku terangkat dari tanah.

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang