17. Nara: Rencana yang Berjalan

1K 176 73
                                        

Suara dari pepohonan itu mengusikku. Ketika aku berdiri, Eka ikut berdiri. Dari sudut mata, dia tampak ikut memandang arah yang sama denganku. Aroma darah agatya sangat kuat sampai-sampai hidungku mati rasa. Dan perak dari pisau ini memperparah perasaan tidak enak itu.

"Tunjukkan dirimu," titahku pada siapapun di sana. Perak yang terkandung dalam pisau di tanganku terasa mengganggu. Hematitnya membuatku gelisah, tapi ini senjata yang ampuh bagi manusia juga, jadi tidak bisa aku buang begitu saja.

Dalam tiga detik, sosok itu tidak juga keluar. Kakiku baru akan melesat ketika sosok perempuan yang familiar keluar dari balik pepohonan.

Keningku berkerut. "Ratna?"

Gadis itu melambaikan tangan. "Hai, Gilang. Lama nggak jumpa."

Pandanganku menyapu penampilannya. Jaket, kaus, celana panjang, dan ranselnya tidak terciprat darah baru. Semuanya darah kering.

"Bukan waktunya menyapa." Seluruh otot tubuhku rileks seketika meski beda halnya dengan pikiranku saat ini. "Kenapa kamu bersembunyi di sana? Apa ini semua ulahmu?" Itu pertanyaan yang konyol, tapi aku tidak bisa menahan diri dari bertanya.

Ratna memandangi sisa-sisa agatya di sekitar kami tanpa emosi berarti. Satu lagi yang membuatku kesal. Gadis ini jarang menunjukkan emosi yang bisa membuatku bisa membaca dirinya.

Ia tersenyum. "Nggak. Aku ke sini karena cium bau darah agatya yang banyak. Ternyata udah ada semua ini."

"Yah, menurutku juga begitu." Aku mendapati Eka membisu di hadapan Ratna. Perlahan, aku menyelipkan tangan dan menggenggam tangannya. Gadis di sampingku terkejut sesaat sebelum berubah lega dan ikut tersenyum. Aku berpaling pada Ratna, mendapati mata gadis itu ternyata mengawasi Eka. "Ini pekerjaan orang lain kalau begitu."

Mata Ratna tersentak kepadaku. "Dan kelihatannya siapapun yang berbuat ini, nggak pikir panjang soal para aruna yang bisa diselamatkan."

Mau tidak mau, pandanganku jatuh ke arah mayat-mayat agatya ini lagi, merasakan kecewa pada diri sendiri karenanya. "Ya, sayang sekali."

"Apa yang hilang tidak akan bisa kembali lagi." Kata-kata itu menyentakku, mempertemukan pandangan kami sekali lagi. Ratna memandangku dengan satu pandangan yang tidak pernah aku bisa salah artikan. "Kita berdua paham betul soal itu kan, Gilang?"

Di sisiku, Eka menatap penuh cemas. Tangannya membalas genggaman tanganku lebih erat. Aku tersenyum menenangkan dan mengelus pelan rambutnya.

"Ya, aku ingat, Ratna." Apa yang hilang, tidak akan bisa kembali. Mereka yang sudah mati, tidak akan bisa hidup kembali. Aku paham betul soal itu. "Jadi, apa urusanmu? Aku yakin kamu tidak kebetulan lewat kan?"

"Aku ke sini untuk melihat keadaan Jakarta sebelum berkumpul lagi bersama yang lain."

"Aku dengan senang hati menerima kunjunganmu." Aku berbalik, siap mengantarnya ketika suara yang muncul mendadak di balik pepohonan membuatku kaget. Perhatianku dan Ratna serta merta berpindah. "Apa itu ada kaitannya denganmu?"

"Bisa dibilang begitu," Ratna mengakui dengan pasrah. "Aku bersama kedua saudaraku kemari. Tapi mungkin kami akan menyusul saja. Kak Ghalih mengalami sedikit masalah."

"Aku mengerti," jawabku, kontras dengan kerutan yang semakin dalam di keningku. "Aku akan beritahu Saka."

Ratna mengangguk.

"Aku akan menunggu." Lalu dengan menarik tangan Eka, kami berdua pergi meninggalkan tempat itu.

***

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang