54. Maraditya: Setelah Semua Usai

906 137 59
                                        

Dunia selalu bergerak secara diam-diam. Manusia yang berada di atasnya melupakan dengan mudah kejadian buruk yang baru saja mereka lalui, segera setelah kebahagiaan menghampiri.

Hari ini aku melihat sejarah itu terulang kembali.

Tidak lama setelah seluruh tragedi yang menerpa negeri ini mereda, perbaikan besar-besaran terjadi. Seperti keadaan pascakeruntuhan sebuah peradaban, manusia-manusia yang tersisa dari kebudayaan itu mulai membangun diri kembali, memulihkan luka, dan akhirnya melupakan segalanya dalam hitungan tahun.

Dulu mungkin aku bisa menyalahkan tindakan itu dan menghinanya, tapi kini aku tidak bisa melakukan apa-apa selain diam dan ikut terbawa arus.

Beginilah manusia.

"Lagi-lagi kamu ngelamun di sini." Seorang gadis yang tampak dalam pertengahan umur dua puluh menghampiriku, lalu melihat-lihat area tempatku duduk. "Kamu nggak takut rumah ini runtuh sewaktu-waktu?"

Aku tergoda untuk mendongak, memerhatikan puing sisa kanopi yang memayungi kepalaku dari terpaan langit secara langsung. Walaupun tidak ada matahari hari ini dan tidak ada sinar yang jatuh ke tanah, aku tetap bersiaga dengan jaket tudung lengan panjang dan rumah kosong yang siap menaungi, terletak tepat di pinggiran kota.

"Cuma ini rumah bagus yang bisa aku dapat." Tidak lupa aku menengok puing-puing rumah di sekeliling kami. Yep, memang hanya bangunan ini yang bisa dihuni dan masih punya atap.

Kadang aku bersyukur pemulihan kota belum menyentuh sisi yang ini. Bisa-bisa aku kehabisana alasan di hadapan gadis ini jika itu sampai terjadi.

"Kamu ini nggak pernah nyantai sedikit aja ya?" Citra berkacak pinggang. "Masih aja jaga perbatasan walaupun gak ada yang masuk ataupun keluar."

Aku mengedikkan bahu. "Berjaga-jaga nggak pernah ada salahnya," ujarku. "Ah ya, Dok. Ngomong-ngomong, kenapa kamu main ke sini?"

"Karena aku lihat kamu tidak ada di sana." Citra berujar tanpa malu sama sekali. Dilihat dari mana pun, jawaban itu memang tidka membebaninya dengan rasa malu ataupun canggung. Dengan perlahan, dokter perempuan itu menyandarkan tubuhnya ke pilar penyangga. "Aku hampir ngira kamu pergi."

"Kenapa aku harus pergi?"

"Nggak harus. Aku cuma mengira-ngira."

"Yah, maksudku kenapa kamu pikir aku pergi?"

Citra terdiam. Wajahnya berubah murung. Kepalanya tertunduk, terpaku pada kedua kakinya yang bersepatu bot dan bergoyang pelan. Dia tidak kelihatan ingin memberi jawaban lisan.

"Aku tidak akan pergi hanya karena tidak nyaman pada situasi," jawabku. "Aku bukan anak kecil, Citra."

Citra menghela napas, lalu mengambil tempat duduk di sisiku. Dia tidak repot meminta izin. Dia sudah tahu apa jawabanku dan aku sama sekali tidak keberatan ditemani. Dalam diam, Citra membuka botol minumnya dan meneguk isinya dua kali sebelum membuka bungkusan roti yang ia bawa.

"Aku rasa nggak akan ada yang punya cukup waktu buat mengkritik kamu di sana," Citra berusaha membujukku dengan nada lebih persuasif.

Aku membalas senyumnya dengan tulus. "Kaum sepertiku akan selalu jadi masalah, tidak peduli kami buat kekacauan atau tidak," jawabku. "Lagipula, Eka hanya memintaku berjanji untuk terus hidup, bukannya untuk beramah tamah pada orang-orang."

Ah, nama menyakitkan itu ... sudah tiga tahun lamanya, tapi rasanya masih saja menyakitkan walau hanya namanya saja yang terucap.

Menolak untuk berlarut-larut dalam kesedihan, aku menatap Kota Bogor. Kota tempatku berada sekarang, salah satu kota yang diselamatkan oleh pengorbanan Eka dan banyak nyawa lain, sekarang berada pada tahap pemulihan yang jauh lebih baik dari kota-kota lainnya di Indonesia.

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang