11. Menghadapi Kesalahan

1.1K 175 31
                                        

Siapapun, tolong ingatkan aku bagaimana bisa terjebak dalam keadaan seperti ini.

Tadi sepertinya, aku ada di luar rumah, masih melongo tablo melihat Ratna. Lalu Albert menyeretku. Bak lori, aku diseret masuk oleh kedua pemuda yang berjalan bersamaku, langsung ke dalam rumah Ratna.

Baru saja menginjakkan sebelah kaki, aku sudah mendapat pelototan tak ramah dari Zen dan Aruna kembar yang waktu itu sempat kulawan. Rasa penasaran yang berbeda kudapatkan dari seorang wanita yang tampak tidak asing di dalam rumah. Kemudian ada juga pekik terkejut dari Diva yang terkesiap di dapur melihat kedatangan kami.

Sebelum bisa menyapa satu pun penghuni rumah dengan sopan, aku didudukkan di salah satu kursi di ruang makan. Albert berbicara sesuatu dengan Ratna yang tadi ikut masuk bersama kami. Apapun topik itu, yang jelas semenit kemudian Ratna duduk di kursi tepat di seberangku tanpa berkata apapun.

Diva duduk secara sukarela di sebelah Ratna, menyajikan minum bagi kami bertiga.

Sial.

Mereka sengaja ingin membuatku berdamai dengan Ratna.

Tololnya, aku hanya bisa diam di kursi tanpa berniat sedikit pun untuk kabur. Tanpa berniat untuk bertanggung jawab sama sekali, Albert, kak Radit, dan kak Ryan meninggalkan kami bertiga di ruang makan ini, terdiam dalam kesan canggung yang lama-lama menggunung sebesar gletser.

Bagaimana sekarang?

Tidak mungkin kan aku langsung saja kabur dan ambil langkah sejuta dari sini? Kesannya aku lari dari masalah dan pengecut sejati kalau begitu!

Namun kalaupun tidak kabur, apa yang bisa aku lakukan? Memulai pembicaraan? Itu ide yang bagus, tapi harus mulai dari mana? Basa-basi dulu? Ah jangan, itu hanya akan membuat suarana ini semakin canggung.

Mulai dari terima kasih atau minta maaf? Ish, memangnya satu kali minta maaf saja sudah cukup? Apa yang aku lakukan kali terakhir ke rumah ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan semudah itu.

Kalau begitu, terima kasih? Ya, mungkin itu bisa. Kebetulan menurut Albert juga, dari dialah darah yang menyelamatkan nyawaku itu berasal, jadi—

"HEI!"

Jantungku rasanya nyaris melompat ke leher saat mendengar bunyi hantaman kuat itu. Baik aku maupun Ratna sama-sama melotot ke Diva. Gadis itu sudah berdiri di seberangku. Kedua tangannya yang baru saja meninju meja, memerah.

"Kalian itu mau sampai kapan diem-dieman gini?!" Dengan gahar, Diva memelototiku. "Emang diem-dieman bakal tuntasin masalah?! Mau sampai tikus beranak kucing juga nggak bakalan kelar! Eka, lo mau minta maaf sama Ratna?"

Aku diam, masih syok.

Pelototan Diva tambah menjadi-jadi. "Buang gengsi lo jauh-jauh, Bangsat! Lo punya salah di sini, jadi lo harus minta maaf!"

Barusan dia mengataiku bangsat?

"Dan lo, Ratna!" Nah lho, kenapa Ratna ikut-ikutan kena sembur? "Lo juga bukan berarti innocent di sini! Cepet minta maaf! Biar gimana juga, Eka levelnya beda sama lo kalau lagi marah! Nggak pantes lo ngelukain dia sampai bikin om Zen marah-marah dan kedua kakak lo sampai pucet kayak tembok rumah sakit gitu!"

Oke, anak ini sebenarnya ada di pihak mana sih?

Sama sepertiku, Ratna pun terdiam. Mungkin pikirannya sama sepertiku, takut kalau tiba-tiba dari telinga dan lubang hidung Diva keluar asap.

"Kenapa kalian berdua malah melototin gue?!" Diva lantas memelototiku lagi. Kali ini dia mendelik kami berdua bergantian. "Cepetan sana minta maaf dan ...."

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang