[Epilog] Nara: Pulang

1.1K 162 87
                                        


Pagi terus datang tanpa kenal ampun.

Selayaknya bagian dari arus besar waktu yang lain, pagi hari datang tak peduli apa yang terjadi. Tidak peduli apakah aku tengah ketakutan, berduka, ataupun dalam kesulitan, pagi selalu datang tanpa pernah sekalipun meleset, mengiringi sang waktu yang menebas segalanya tanpa ampun, mengikis semua kenangan konflik yang membalut negeri ini sampai musnah separuhnya.

Aku sungguh-sungguh takut esok hari akan membawa pergi semua luka dan konflik tiga tahun lalu sampai dilupakan oleh segenap manusia di negara ini.

Menyisakan hanya aku yang mengingat segalanya seorang diri.

Dalam setiap langkah, dinginnya logam cincin yang menggantung di leherku terasa semakin menyakitkan. Beberapa kali aku berpikir untuk melepaskannya, tapi beberapa kali pula aku memikirkannya ulang.

Aku tidak ingin lupa.

Aku tidak ingin hanya bersama kenangan akan dirinya saja.

Aku butuh berpegangan pada sesuatu sebelum sisi terakhirku yang rasional benar-benar runtuh.

Cincin ini adalah satu-satunya. Benda terakhir yang mengingatkanku bahwa gadis itu benar pernah ada. Gadis itu pernah nyata. Dia pernah hidup. Dan dia pernah dan akan senantiasa mengisi ruang dalam jiwa ini.

Eka adalah pahlawan di dalam semua konflik ini. Tidak peduli siapa nama yang diagungkan di luar sana, dia teaplah pahlawannya di mataku. Tapi tidak seperti pahlawan pada umumnya, jangankan diberi penghargaan, tidak pernah sekalipun nama Eka Safitri terucap dari lidah para manusia dan Aruna yang kini jadi makhluk yang benar-benar tidak tahu diri. Mereka semua sibuk sendiri, dengan napas megap-megap meraup sebanyak mungkin kebahagiaan yang menyeruak dari setiap sudut negeri yang sebelumnya mati.

Orang-orang seperti melupakan Eka. Dunia seakan-akan membuangnya. Masyarakat seolah berpaling dari kematiannya.

Dan sudah jadi tugas dan kehormatan bagiku untuk memastikan jasa perempuan itu tidak hilang begitu saja dari ingatan manusia. Tidak sampai setidaknya lima puluh tahun ke depan.

Jendela-jendela rumah yang menyala temaram mulai terlihat di ujung jalan. Cahaya bulan yang bersinar penuh malam ini membuat semua sinar temaram itu tampak setingkat lebih jelas dibanding malam-malam lain. Jalanan yang tidak diberi penerangan sedikit pun tampak berkilau di bawah cahaya bulan.

Suara air yang menetes, daun yang jatuh, dan aroma segar dari angin gunung dan rerumputan yang lembab membawa ratusan kenangan, membasuhku ke dalam lautan fatamorgana yang penuh nostalgia. Ladang yang digarap di halaman belakang, orang-orang dengan keramahan yang tidak biasa, suasana yang tenang, cahaya hangat yang terus menyala di rumahku setiap malam, dan ... kehangatan yang dibawa oleh sebuah kebersamaan ... semua perasaan itu menimpa kepalaku sekaligus, membuatnya berat dan sekali lagi menanggung rasa sakit tanpa luka.

Aku benar-benar merindukannya.

Kembali aku memandang pedesaan yang kini jumlahnya berkurang jauh lalu kembali melangkah pelan menuju tempat terakhir yang bisa aku panggil rumah. Jumlah cahaya di desa ini raib dua pertiganya. Rumah-rumah kebanyakan telah hancur atau tidak lagi berpenghuni.

Sama seperti seluruh bagian di negara ini, desa di tengah gunung ini pun tidak luput dari api konflik. Banyak warga yang mati, rumah yang hancur, dan orang yang terluka. Hanya sedikit yang bertahan. Lebih sedikit lagi yang memutuskan tetap tinggal.

Setidaknya aku bisa bersyukur karena tidak sepenuhnya desa ini mati. Masih ada denyut yang bisa dihidupkan kembali di sini, masih ada yang tersisa, dan masih ada harapan.

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang