45. Melebur

778 124 49
                                        


Dulu kak Yuda pernah bertanya padaku, apa aku pernah merasa sangat terfokus pada pertarungan sampai pikiranku kosong, kepalaku hanya diisi berbagai strategi untuk memenangkan pertempuran, dan satu-satunya hal yang penting bagiku adalah mengalahkan musuh di depan mata.

Jawabanku, pernah.

Angin berembus kacau di sekelilingku. Tanganku menghajar, kakiku menendang, dan pedang di tanganku berayun dalam tempo cepat tanpa membabi buta. Tidak ada suara yang terdengar selain embusan napas dan baku hantam senjata serta tangan kosong yang terus menerus terjadi.

Sosok Yusriza menjadi satu-satunya fokus mataku. Senjata, arah mata, gerak tubuh, dan semua tanda-tanda serangan yang akan ditampakkannya menjadi satu-satunya fokusku.

Tangan Yusriza meraih kerah jaketku. Tanganku membalas dengan meraih pergelangan tangannya.

"Kalau tidak serius...." Yusriza menjatuhkan pedangnya. Tana melirik ke mana pun, aku melepas dan melompat menjauh darinya, menghindari terjangan pasir dan tanah yang dimaksudkannya untuk membutakan mataku. "Mati saja di sini."

Pedangnya sekali lagi menebas, menyayat pakaian dan kulitku. Namun cengkaman tanganku berhasil meraih lehernya tepat waktu, mencengkam daging dan kulit itu kuat-kuat sampai terasa menggoresnya sebelum melemparkan sosok itu jauh ke hutan.

"Saya sangka manusia abadi itu jauh lebih mengerikan dari ini."

Sosok Yusriza keluar dari dalam hutan tak lama kemudian. Seperti biasa, seranganku tampak tidak ada dampaknya bagi tubuhnya.

"Mulut bocah kapan pun memang kurang ajar." Pria itu masih bisa tersenyum merendahkan.

Kupercikkan sedikit darahnya ke tanah, dan makhluk-makhluk aneh yang lain pun menggeliat keluar dari sana. Mataku terpaku ke bawah selama beberapa saat, bergidik tanpa sadar melihat rerumputan di bawah kakiku telah berubah hitam dan mati seluruhnya.

"Seseorang pernah bilang, darah Kaum Abadi beracun bagi dunia ini," gumamku pada diri sendiri. "Saya nggak nyangka sejauh ini efeknya."

"Kamu mendapat pengetahuan yang bagus."

Secepat kilat, Yusriza kembali menyerang. Aku melompat ke samping, membiarkan sabetan pedangnya menebas satu pohon malang lagi yang berdiri di tempat dan waktu yang salah.

Serangannya berhenti sejenak.

"Apa Anda mau membuat aruna?" tanyaku, mengungkapkan apa yang selama ini mengganggu pikiran.

Yusriza mendelik tak senang. "Aku tidak sama dengan orang-orang tua itu."

"Ya...." Lucu dia terdengar tersinggung. "Lebih jelek, tepatnya."

"Kamu yang belum hidup di masa itu...." Suara Yusriza berubah dingin. "Jangan bicara seenaknya."

Kembali ia menyerang. Kali ini tanpa jeda. Tanpa membiarkanku istirahat sepersekian detik pun. Pedangnya menyerang,menebas, menikam, dan menyambar berkali-kali, tidak memberiku kesempatan untuk melakukan apa pun selain bertahan.

Tubuhku menunduk, menghindari sabetan pedangnya. Kakiku berputar, hendak menjegal kakinya, tetapi Yusriza melompat dan berputar di udara. Pedangnya melesat seperti pusaran angin, menyambar apa pun yang menghalangi jangkauannya.

Aku melompat ke belakang, memperlebar jarak. Namun pria itu dapat mempersempit jarak dengan mudah dan melanjutkan serangan tanpa hentinya.

Sepanjang hujan serangan tanpa henti itu, mata kelam sang pria terkat di negara ini terkunci kepadaku. Kebencian terpancar jelas dari sana, dalam level yang jauh berbeda. Hanya satu orang yang aku kenal memiliki kebencian sedalam itu ... dan dia, sialnya, memiliki kemampuan untuk menyembunyikan kebencian itu sebaik pria ini.

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang