Markas Darurat Pusat Komando Komite Keamanan Khusus
Tanganku mengetuk-ngetuk peta di atas meja. Benakku berpacu, berpikir melawan waktu yang terus berdetik tak terhentikan.
Tidak pernah ada jalan yang mulus di dunia ini. Tidak ada yang akan berjalan seratus persen sesuai rencana di dunia ini, bahkan tidak ada yang namanya seratus persen. Tidak ada kemustahilan atau kepastian yang absolut. Semuanya hanya kemungkinan. Karena itulah hanya orang bodoh yang percaya segalanya akan berjalan mulus atau mustahil dengan kemungkinan absolut.
Semua manusia harus mengetahui konsep sederhana seperti itu sejak kecil. Sebagai perencana atas masa depan diri sendiri, semua orang harus bersiap sedia untuk segala kemungkinan, termasuk untuk kejutan-kejutan yang paling tidak terduga.
Sayangnya, sebagaimana seluruh penghuni dunia ini, ada batas bagi apapun, termasuk batas penanganan kejutan-kejutan paling tidak terduga.
Tatapanku jatuh ke bidak kuda hitam di Taraksa.
Kejutan pertama. Kemunculan pion yang seharusnya sudah tersingkir.
Kayu dari pion catur terasa dingin di tanganku, tidak terpengaruh suhu hangat ruangan ini.
Tidak kusangka dia akan kembali. Dengan cara yang begitu bodoh pula. "Kali ini aku yang akan terbunuh ... ya?"
Alih-alih menyembunyikan keberadaan, dia justru memerintahakn satu prajurit untuk menyampaikan bukti bahwa dirinya masih hidup sekaligus pernyataan perangnya. Bodoh dan berani memang berbeda tipis. Tindakan ini bisa jadi hanya wujud kenekatannya tanpa ada rencana matang.
Namun jika dia memang punya rencana matang, aku harus membuka puluhan pintu untuk berbagai kemungkinan. Pergerakannya berbeda dari perempuan, tapi juga tidak sama seperti laki-laki. Perasaan dan instingnya selalu mnegintervensi di saat yang tidak aku duga. Ditambah potensi diri dan dukungan yang ia miliki, bidak satu ini bisa jadi jarum ... atau setangkai jerami.
Mataku berpindah, memicing pada bidak kuda putih Arman di luar peta. Sudah ada kemungkinan Arman akan tersingkir dari papan, tapi aku tidak pernah menyangka akan terwujud secepat ini.
Kemudian perhatianku berpindah ke bidak prajurit hitam yang kini berdiri menggantikan posisi Arman. Ryan Aryasatya. Dia juga salah satu yang patut diwaspadai. Dari segi kecepatan, kekuatan, dan ketahanan, dia setara dengan Ariyuda.
Ariyuda. Mengingat-ingat nama itu hanya membuatku ingin muntah.
Sejak penangkapan Iblis Merah berakhir tidak sesuai rencana, Ariyuda sudah menjadi duri dalam daging yang sulit disingkirkan. Iblis Merah terlalu soliter untuk memiliki jaringan informasi yang luas, tapi dia justru menangkapnya hidup-hidup dan membiarkannya menjadi tahanan di Taraksa: sesuatu yang dipertanyakan banyak orang. Kecelakaan di Rumah uji coba beberapa tahun kemudian membuat gerak-gerik Ariyuda diawasi lebih ketat, tapi tingkah lakunya yang wajar selama lima tahun membuat pengawasan itu kendur dengan sendirinya.
Puncak dari rencana Yuda bergulir tanpa kami pernah sadari di Malam Ujian. Dalam sekali sapuan, dia menyingkirkan seluruh kandidat potensial dengan satu kuda hitam yang tidak pernah kami sangka pernah ada. Dalam satu kali percobaan, dia menyingkirkan dua perpertiga kandidat Dua Belas Pilar generasi kedua, nyaris menggagalkan rencana pemusnahan ini yang baru berumur jagung saat itu.
Itu kekalahan telakku yang pertama dan paling memalukan.
Sungguh menjengkelkan saat tahu bidak yang dipoles Yuda sampai sedemikian besarnya ternyata mewarisi pemikirannya. Kukira dengan otak kosongnya, Subjek-668 bisa dibelokkan. Mengherankan sekali bagaimana pemikiran itu bisa melenceng. Apa yang mendorong Subjek-668 tetap pada ideologi Ariyuda berada di luar imajinasiku. Pandangan mataku kemudian jatuh ke bidak lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blood and Destiny
Vampire[ARUNA SERIES #3] [Young Adult Fiction! Rated for Detailed Violence!] Aruna kini diburu untuk dimusnahkan. Mereka menjadi mangsa bagi predator baru yang lebih ganas dan tidak memiliki akal maupun hati nurani yang diciptakan oleh Yusriza Ganen...
