3. Bertemu Kembali

1.1K 170 54
                                        

"Manusia diselamatkan?" Seperti orang bodoh, sekali lagi aku mengulangi kalimat Albert setelah kami memulai perjalanan kembali. "Sama siapa?"

"Oleh dia yang aku cari selama ini."

Kerutan terbentuk semakin dalam di keningku. "Klaus?"

Albert mengangguk.

"Gue masih belum paham." Kusimpan penjelasan Klaus untuk lain kali. "Lo bilang Edric benci segalanya. Lo bilang dia nggak sempat musnahin manusia juga, artinya dia emang pengen ikut musnahin manusia. Tapi dia nggak musnahin Aruna. Dia malah jadiin mereka alat membunuh. Dia itu maunya ngebunuh atau apa?"

Pemuda di depanku tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

"Antara langsung membunuh dan mempermainkan sampai mati...." Lima detik kemudian, Albert angkat bicara kembali. "Menurutmu yang mana yang lebih menyenangkan? Kamu pun tahu jawabannya."

Cara membunuh yang menyenangkan, aku tidak suka kata-kata itu.

"Sampai hari ini pun, aku masih menganggap Edric monster." Albert berujar. "Pria itu ... membenci semuanya, manusia maupun Aruna. Dia ingin menghancurkan semuanya dengan cara yang dipilihnya sendiri. Dan mempermainkan Aruna untuk membunuh manusia, lalu saling melenyapkan sesamanya, sebelum dia sendiri melenyapkan semua Aruna, adalah cara yang dipilihnya."

Kedengarannya kami seperti sedang membicarakan seorang psikopat yang sangat kuat. "Gila."

"Aku tahu." Albert setuju.

"Tapi," Aku mendapati satu lubang pada cerita itu. "Itu nggak menjawab kenapa para Aruna dibiarkan dorman. Lo bilang Klaus penyelamat manusia. Tapi kenapa Klaus nggak sekalian bunuh seluruh Aruna yang udah jadi agatya? Bunuh agatya lebih gampang daripada bunuh Aruna dorman. Dan lagi kalau semua Aruna itu dibunuh, Aruna nggak akan muncul lagi empat puluh empat tahun lalu."

"Klaus mungkin masih punya empati pada kaumnya."

Kenyataan itu menghantam belakang kepalaku. "Maksud lo Klaus juga ... Aruna?"

"Tentu saja." Suara Albert sarat ejekan, seakan aku baru saja menanyakan hal yang sudah pasti. "Menurutmu siapa yang bisa menyelamatkan manusia, melawan puluhan ribu agatya, dan menghentikan Edric? Jelas karena Klaus itu aruna."

Kepalaku mulai berdenyut. "Klaus ... membantai kaumnya sendiri?" Albert mengerutkan kening. "Oke, dia emang nggak benar-benar membunuh semua agatya itu. Tapi dia juga menghentikan Edric? Dia itu ... waras nggak sih?"

Albert memutar bola mata dengan jengah. "Aku pun sering menanyakan hal yang sama. Bagaimana mungkin dia bisa sangat mencintai manusia sampai rela melakukan itu. Dia kelas Pelintas Zaman, sama seperti majikanmu. Dia yang tertua. Dia yang mengetahui sejarah Aruna. Tidak akan ada yang habis pikir bagaimana dia mau membunuh kaum yang ia saksikan sendiri perkembangannya dari abad ke abad."

Katakan aku salah dengar. Apa tadi Albert menyebut majikanku? Gilang majikanku ... Pelintas Zaman? Survivor dari tragedi dorman massal itu?

Albert mendesah. "Tapi kalau kamu mengenalnya, kamu akan berhenti bertanya."

"Lo ... kedengaran kenal banget sama Klaus. Lo juga bilang ... sampai sekarang pun, buat lo Edric adalah monster. Apa itu artinya lo pernah ketemu sama Edric?" Sekarang Albert terdiam. "Ya, kalau begitu."

Albert tetap diam.

"Kalau lo pernah ketemu Edric ... lo ini ... sebenarnya udah hidup dari kapan?"

"Kisah itu aku simpan untuk nanti," pungkas Albert buru-buru.

Kami berhenti. Aku menatap ke depan, ke arah jajaran pagar hitam yang dibangun mengelilingi hutan dan tadinya kurasa menjulang sekitar tiga meter lebih, tapi kini telah reyot tak berbentuk. Diapit oleh pagar yang menjulang itu, ada satu bangunan mirip rumah yang sangat besar dan tinggi. Dari sini aku bisa melihat ada lorong yang menembus rumah ini langsung ke sisi lain di seberang sana.

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang