Demi hidup dan mati, apa yang tadi baru saja kukatakan? 'Pahlawan selalu datang di saat yang tepat'? Kata-kata kelas teri dari dimensi mana itu?
Bagaimana kata-kata itu bisa keluar dari mulutku?
Oke, aku biasanya tidak mudah malu hanya karena salah bicara. Kata-kata yang biasa keluar dari mulutku memang biasanya sampah sehingga aku sudah biasa pasang muka badak kalau salah bicara.
Tapi untuk alasan yang aku sendiri tak bisa mengerti, saat ini aku malu setengah mati!
Rencana awal bersama om Saka untuk mencari dan mengambil seluruh bom yang ditanam Elis di lorong berjalan cukup lancar hingga kami berbelok di salah satu lorong dan mendapati adegan tidak menyenangkan terjadi di dalam sana, di tengah-tengah publik.
Baiklah, aku tidak akan menyangkal sudah marah melihat Nara dengan entengnya memeluk, mendesak, bahkan menciumi leher perempuan lain yang hanya punya rupa mirip denganku. Aku memang marah.
Ralat, aku murka.
Ralat lagi, aku sangat murka, sampai ke taraf ingin menerjang ke sana dan menembaki mereka berdua sampai mati lalu memutilasi hidup-hidup perempuan itu sampai tidak ada daging tersisa menempel di tulang belulangnya.
Namun om Saka menahanku, mencegahku dari mengamuk habis-habisan eperti orang gila dan meyakinkanku kalau Nara tidak sedang mengkhianatiku terang-terangan.
Terbukti, kata-kata itu benar. Saat Nara menggigit leher peniru itu seakan ingin memenggal kepalanya langsung dalam sekali terkaman, satu-satunya penyesalan yang terisa hanyalah karena tidak bisa bergabung bersamanya membantai perempuan itu.
Tidak lama setelahnya, ledakan terjadi. Aku menyusul Nara yang lari tepat ke dalam jebakan gadis itu. Om Saka sempat mencegahku, meminjamkan syalnya dan memasangkan tudung jaketku kuat-kuat.
"Jangan membuat Gilang terkejut sampai memancung kepalamu di tempat," begitu katanya, diikuti pesan: "Jangan lupa cuci sebelum kembalikan."
Sekarang aku menyesal kenapa katana itu kutinggalkan untuk menahan batu di lorong. Tidak hanya pertarunganku jadi payah, tapi juga di kondisi sekarang ini—kondisi ketika semua kemungkinan buruk jadi mungkin—aku sama berbahayanya seperti seekor bayi marmut yang masih merah. Sementara Nara di sana sama sekali tidak bereaksi sedari tadi.
Sial, kenapa baru sekarang aku terpikir untuk memberi salam yang normal? Kenapa tidak tadi? Kenapa tadi aku benar-benar gugup dan tolol sampai-sampai mengatakan hal pertama yang terlintas di kepala? Dan kenapa juga aku harus tambahkan 'hehehe' yang payah itu?
Sekarang apa yang harus aku katakan untuk mengoreksinya? Haruskah aku menyapanya dengan lebih baik dulu atau menjelaskan?
Memangnya apa yang bisa aku jelaskan?
Kalau kejadiannya tidak melibatkan kematian mungkin aku bisa menjelaskannya tanpa panik dan terstruktur rapi! Kalau sudah melibatkan kematian, apa yang bisa aku katakan? Bahwa sebelum jantungku masih berdetak, Albert menyuntikkan darah Ratna dan membuatku hidup lagi?
Yang ada Aruna satu ini malah akan langsung memotong lidahku!
Nara percaya aku sudah mati. Dia merasakannya. Dia berubah karenanya. Itu sudah satu rintangan sulit, ditambah lagi insiden tiruan tadi. Sekarang, aku memperparahnya dengan ucapan super jelek tadi.
Astaga, bicara sesuatu, cowok bego!
Sumpah, keadaan seperti ini membuatku parno berat. Kalau dia marah seperti bapak-bapak kebakaran celananya, aku tidak akan khawatir. Paling buruk, aku akan mati kutu kalah bacot. Tapi kalau dia sudah pasang tampang super lempeng begitu, apa pun bisa terjadi, termasuk terbunuh di tempat sebelum aku bisa berkedip.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blood and Destiny
Vampire[ARUNA SERIES #3] [Young Adult Fiction! Rated for Detailed Violence!] Aruna kini diburu untuk dimusnahkan. Mereka menjadi mangsa bagi predator baru yang lebih ganas dan tidak memiliki akal maupun hati nurani yang diciptakan oleh Yusriza Ganen...
