18. Menyusup ke dalam Permainan

1.1K 179 53
                                        


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hutan perbatasan Jakarta, satu jam sebelumnya

Aku bukan orang bermuka baja seperti Albert ataupun berhati batu seperti Ratna, jadi sudah pasti aku bisa kehilangan kendali dan jadi budak emosi. Aku pun sering marah dan meradang untuk banyak alasan: untuk sikap asli keluargaku, untuk sikap kak Radit, dan untuk Yusriza.

Namun kali ini api yang membakar emosiku benar-benar terasa berbeda.

Jika kemarahanku terasa seperti api di tungku naga untuk membuat batu bata, kemarahan kali ini setara seperti tungku pelebur logam.

Mataku mendelik gahar aruna yang tiba-tiba saja muncul dan hendak menikamku dari belakang kira-kira sepuluh detik yang lalu.

Detik pertama, aku masih syok oleh rasa kaget karena serangan yang tiba-tiba. Namun detik berikutnya aku berhasil menguasai diri dan kemarahan meletup tidak lama kemudian. Senjata kami berdua beradu tadi dan terus beradu sampai detik ini. Dentingan keras perkelahian kami membuatku khawatir Nara sudah mendengarnya.

"Tunjukkan dirimu."

Ah, sial. Nara benar-benar mendengar suara kami. Jam darurat berdetik cepat dalam kepalaku. Tinggal tunggu waktu sampai Nara datang sendiri kemari.

Sementara pikiranku lengah, senjataku sudah didorong jauh. Tubuhku didesak sampai mengimpit pohon. Aruna itu semakin menekan, tidak terlihat lengah. Jelas dia tipe musuh yang tidak akan mundur sebelum tahu aku tidak bisa bergerak lagi.

Tepat sebelum pilihanku jatuh pada sesuatu yang gegabah, sekelebat bayangan melesat dari balik pepohonan dan berhenti di dekat area terbuka tempatku tadi membunuh sekelompok agatya.

Aku tercenung dan aruna itu pun tercenung melihat Ratna berdiri dan menunjukkan diri.

"Ratna?" Suara Nara terdengar di luar sana.

"Hai, Gilang. Lama nggak jumpa," sapa balik Ratna dengan ketenangan yang tidak mencurigakan.

Sementara mereka berdua di sana terus bicara, aku dan aruna ini terus beradu senjata dalam diam, terus saling mendesak, hingga suara langkah kaki Nara, Ratna, serta aku yang palsu pergi.

Aku mengayunkan kaki secepat mungkin, bermaksud untuk menendang pahanya namun aruna itu berhasil berkelit mundur dengan mudah. Tak dielakkan lagi, aku pun mengerang frustrasi sekeras-kerasnya.

"Lo siapa sih?!" raungku kesal. "Lo tau nggak kalau udah bikin gue kehilangan buruan paling gue incar sejak satu jam lalu?!"

"Untuk seorang gadis," Aruna itu membetulkan syal merah di lehernya. "Mulutmu sekotor sampah."

Satu urat kesal berkedut di kepalaku. "Dan saya nggak mau dengar ucapan itu dari orang yang ngomongnya kayak om-om tua!"

Aku mengayunkan pedang. Aruna itu terperanjat. Khayalanku sudah melambung tinggi untuk bisa menghajarnya satu-dua kali ketika harus pupus. Aruna itu berhasil berkelit menghindar untuk kedua kalinya.

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang