Di semua hal buruk yang pernah terjadi kepadaku, Yudhistira Caiden menjadi salah satu yang terburuk.
Baru beberapa detik saja, seluruh tulangku seolah remuk redam oleh kenangan pukulan, tendangan, sabetan pedang, sabetan cambuk, kejut listrik, sambaran api, siraman es, dan pahitnya kekalahan yang kudera ribuan kali.
Dan melihat wajahnya sama persis dengan enam belas tahun lalu membuat semua mimpi buruk itu seakan terulang kembali di depan mataku.
Secara fisik, ia tidak jauh berbeda dari seorang pria di pertengahan umur dua puluh tahunan. Potongan rambutnya yang cepak masih dipertahankan. Warna rambutnya pun tak ada sehelai mana yang memutih. Masih sekelam malam, seperti yang aku ingat dulu. Matanya begitu tajam menusuk sehingga dalam sekilas pandang pun akan tahu, tidak ada setetes pun sifat manusiawi pada dirinya.
Dia adalah simbol asli dari julukan Caiden sebagai senjata pembunuh. Dengan tinggi tubuh hampir dua meter, setiap kali berhadapan dengannya, aku merasa sedang berhadapan dengan Goliath sementara aku sendiri bukan manusia sehebat David. Di balik balutan seragam lengkap Komite yang menutupi tubuhnya sampai ujung kaki, tidak ada titik lemah yang dapat diserang. Jika pun ada, siapapun yang berani melakukannya sudah akan digilas habis sebelum dapat mewujudkan rencana itu. Otot tubuhnya terlatih untuk pertarungan berat dalam jangka waktu lama. Keandalan dan kekuatannya tidak tertandingi selain oleh kak Yuda.
Yah, persetan dengan semua itu.
Tanpa kata, tanpa sambutan apa-apa lagi, dua pedang kami berdenting. Serangan pertama seimbang. Kami sama-sama terlempar. Agatya di sekeliling kami menjadi penonton. Tidak bergerak selangkah pun.
"Memanggil Ayah setelah tindakan kurang ajarmu itu. Benar-benar makhluk tidak tahu diri." Kata-kata itu ... meski diucapkan dengan nada senyum dan penghinaan telak, miskin dari emosi, sebuah paradoksal yang hanya bisa dimunculkan oleh Caiden.
Mengherankan sekali, bagaimana dulu aku dengan tololnya mengabaikan fakta dia tidak menua sama sekali selama lima tahun.
Menghadapnya, aku pun menyunggingkan senyum dengan berani.
"Ayah kelihatannya baik-baik aja setelah pertarungan kita di Taraksa," Aku tertawa sejenak. "Ah ya, nggak mungkin juga luka lama-lama. Soalnya semua luka Ayah...." Mataku berkeliling di sekitar tubuhnya, mendapati luka di leher yang aku sebabkan sedetik lalu kini tak bersisa apa pun selain sebercak darah dan sobekan kecil pada pakaiannya. "selalu bisa pulih total dalam hitungan detik."
Ini akan jadi sangat menyusahkan.
Sekali lagi kami beradu secara bersamaan, tapi enam agatya yang datang sekaligus menghalangi membuat tebasanku salah sasaran. Sialnya, ketika aku sibuk membantai makhuk-makhluk itu, Yudhistira melancarkan serangan, memberikan satu luka menganga di tubuhku, melintang dari tulang belikat sampai pinggang.
Aku terlonjak mundur. Enam mayat agatya di kakinya tidak lagi bergerak. Sisa agatya di sekeliling kami tidak bereaksi.
Tentu saja.
"Ayah bawa teman-teman yang menarik," sindirku.
"Dan butuh waktu bertahun-tahun bagimu untuk sadar," ujarnya dengan bosan. "Yuda benar-benar payah memilih pion kali ini."
Yudhistira mengayunkan pedangnya dengan cepat, memercikkan darahku yang langsung diserbu oleh para agatya dengan rakus.
Baiklah, baru kali ini reaksi itu kudapatkan.
Dan kelihatannya Yudhistira juga tidak menyangka hal ini.
Kembali aku tersenyum. "Kejutan selalu kita dapatkan di tengah-tengah konflik kan?" sahutku santai. "Jadi ... kenapa Ayah yang terhormat sudi mampir ke tempat aku yang bukan siapa-siapa ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Blood and Destiny
Vampiros[ARUNA SERIES #3] [Young Adult Fiction! Rated for Detailed Violence!] Aruna kini diburu untuk dimusnahkan. Mereka menjadi mangsa bagi predator baru yang lebih ganas dan tidak memiliki akal maupun hati nurani yang diciptakan oleh Yusriza Ganen...
