Bekasi, satu hari sebelumnya
"Apa kalian sedang ingin menguji kesabaranku?" Dua orang itu menunduk lebih dalam selagi aku mengayunkan bilah pedang ke area yang kosong, mencipratkan darah hitam legan ke puing-puing bebatuan. "Seorang gadis ditemukan tidak sadarkan diri di kota Bandung, dan apa? Apa kalian tidak tahu betapa konyolnya berita itu dibawa jauh-jauh kemari? Kalian lupa ada berapa gadis tidak sadarkan diri di kota Bandung sepuluh hari terakhir?"
Dua orang itu saling bertukar pandang dalam kepala menunduk, samar, tapi aku menangkapnya. Kemudian laki-laki yang berdiri di kiri terlebih dahulu menyilangkan tangan di depan dada.
"Tuan Fei menyuruh kami untuk tidak berbicara lebih jauh dari ini." Aku mengernyit, menahan diri untuk tidak mendecih. "Beliau bilang, Yang Mulia tidak akan percaya."
"Jadi kami berpikir...." Pria di sebelah kanan gantian berbicara. "Untuk membimbing Yang Mulia langsung ke sana. Tuan Fei sudah mengamankan tempatnya."
Kali ini aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mendecak kesal. Apa istimewanya gadis ini sampai mereka membuatku harus pergi ke lokasi untuk memeriksanya? Kenapa Fei tidak memberikan rinciannya secara langsung saja seperti biasa?
Rasanya seperti ada yang disembunyikan.
"Astaga, saya kira Anda terluka!" Suara itu membuatku berbalik. Seorang gadis dalam balutan jaket tebal abu-abu, dengan wajah dan pakaian penuh noda arah dan tanah, berlari menghampiri kami. "Anda seharusnya kembali ke dalam sana. Di sini berbahay untuk—
Langkahnya berhenti, mulutnya bungkam, dan matanya mengerjap beberapa kali saat sadar aku tidak sendiri di sana. "Ah, maaf, apa saya mengganggu sesuatu?"
"Tidak juga," Aku melirik mereka berdua sekilas sebelum tersenyum ke arah gadis itu. "Mereka ada di sini untuk membawaku ke Bandung. Ada yang harus aku selidiki di sana. Bagaimana kondisi di sana, Citra? Ada yang terluka?"
Ia tersenyum lega. "Berkat Anda, korbannya nggak bertambah." Ia lantas berjongkok, mengambil satu botol kaca dari dalam tasnya dan satu sendok teh usang.
"Apa ada perkembangan baru?" Citra menoleh dan aku menunjuk botol sampel darah agatya miliknya.
"Ah, serum untuk menghentikan perubahan itu." Citra mengamati botol kacanya sendiri. Tidak ada cacing yang masuk ke dalam sana. "Ada beberapa kemajuan yang saya dapat. Tapi ini pun saya dapatkan berkat usulan Ghalih di kali terakhir kami bertemu beberapa hari lalu. Dia meminta saya untuk mengekstrak protein tertentu dari sel-sel darah merah sampel darah spesies langka yang ia bawa."
"Aku kira hasilnya sukses."
"Untuk tahap infeksi kurang dari lima puluh persen." Citra memandangku serius. "Baru sampai ke tahap itu. Memang tidak banyak, tapi kita bisa mengurangi korban sepuluh sampai dua belas persen dengan itu. Selama jangka waktu infeksinya belum 1x12 jam, serum ini efektif."
"Akan aku ambil serum itu segera."
Citra mengangguk. "Akan saya antarkan semuanya, tapi izinkan saya menyimpan tiga sampel sebagai bahan dasar untuk perbanyakan dan penyelidikan lebih lanjut." Aku mengangguk, mengizinkan. Kemudian Citra kembali mengais-ngais darah agatya. "Dengan sampel sebanyak ini mungkin saya bisa membuat lebih banyak serum. Agak ironis memang, tapi saya bersyukur banyak agatya yang datang kemari."
"Mungkin seharusnya aku main lebih sering kemari."
"Boleh saja, jika Anda memang tidak sibuk." Citra mengisi penuh botol itu. "Lagipula, saya yang diuntungkan kalau Anda di sini. Korban jadi lebih sedikit, meski risiko untuk evakuasi nggak berkurang, ada atau nggaknya Anda."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blood and Destiny
Vampiros[ARUNA SERIES #3] [Young Adult Fiction! Rated for Detailed Violence!] Aruna kini diburu untuk dimusnahkan. Mereka menjadi mangsa bagi predator baru yang lebih ganas dan tidak memiliki akal maupun hati nurani yang diciptakan oleh Yusriza Ganen...
