Cilacap, beberapa jam sebelumnya
"Baik, kabari saya keadaan di Bekasi lagi nanti."
Aku menekan tombol komunikator, mengakhiri percakapan dengan informanku dari pusat medis yang diledakkan di Bekasi. Tidak ada pasien yang meninggal, tapi para tenaga medis yang tertinggal di sana masih berstatus MIA (Missing in Accident).
Citra adalah salah satunya.
Diam-diam mataku melirik ke balik hutan, ke arah kelompokku yang sedang beristirahat dan berunding menyusun rencana setelah kami mengadakan perjalanan cukup jauh sampai ke Cilacap, hanya lima ratus meter dari dermaga kecil tempat para speedboat bolak-balik dari dan ke pulau Nusa Kambangan dulu. Sekarang kelihatannya masih ada speedboat yang digunakan walaupun tidak sesering sebelum semua konflik ini dimulai. Keamanan di dermaga pun kupantau benar-benar ketat.
Aku sebenarnya tidak suka menyembunyikan kabar dari orang lain, terutama bila itu menyangkut orang yang mereka sayangi, tapi jika sudah berkaitan dengan misi dan kepentingan beberapa nyawa, pilihanku menyempit. Dalam kasus Eka, karena itu kabar baik, aku rasa tidak akan ada apa-apa jika pun aku menyembunyikannya,
Namun kasus Citra ini lain.
Di sisi lain, jika aku nekat memberitahu Ditya, semua rencana ini akan gagal. Itu tidak boleh aku biarkan terjadi. Darius juga tidak kalah penting dibandingkan Citra. Darius adalah pimpinan kami. Yusriza akan dengan senang hati menyiksanya sampai mati dan jika kami mengulur waktu, kemungkinan dia masih utuh akan semakin sedikit. Darius bukan orang yang lemah, tapi Yusriza berada di pasukan yang sama dengan dirinya. Yusriza pasti tahu instrumen paling tepat untuk menyiksa manusia seperti Darius.
Sudah kuduga, ini pilihan yang terbaik. Kami harus benar-benar fokus pada rencana ini.
Maaf, Ditya.
Setelah puas menenangkan diri, aku pun pergi dari persembunyian dan bergabung kembali dengan mereka yang masih berkutat menyusun rencana terbaik menyusup ke Nusa Kambangan.
"Apa yang sudah aku lewatkan?" tanyaku dengan bahasa formal. Setidaknya bersama orang-orang ini, aku tidak perlu sungkan berbahasa dengan cara sendiri. Kebanyakan dari mereka berasal dari era yang lain dari masa ini.
"Ada satu kapal yang kami amati bolak balik setiap jeda waktu yang tidak tentu. Kemungkinan mereka membawa pasokan dan beberapa prajurit. Ada mobil yang menyambut mereka di dermaga," ungkap Zen.
"Dan semakin lama jumlah pasokan yang mereka bawa semakin lama semakin sedikit. Jika mereka lewat lagi, itu akan jadi kesempatan terakhir kita," Evan mengimbuhkan.
Setelah aruna itu berbicara, suasana sedikit membeku. Sepertinya sebagian besar dari kami (mungkin kami semua, bahkan) masih belum terbiasa dengan kehadirannya. Jika saja bukan karena Ratna yang berteman akrab dengannya dan kondisinya yang sejalan dengan kami, sudah pasti aruna itu tidak akan ada di sini.
"Tapi bukankah itu terdengar seperti jebakan?" ujarku mengemukakan pikiran. "Hanya satu kapal yang bolak balik? Itu terlalu mencurigakan kan?"
"Tapi mungkin hanya itu kesempatan kita." Mata Ditya memicing kepadaku. Warna merah matanya tidak bisa ditutupi bayangan jaket.
"Mungkin masih ada cara lain?" tawarku.
"Dan saat itu terjadi, kita mungkin sudah tidak akan bisa ke sana," Ryan menatapku dengan pandangan yang, jika aku tidak salah mengartikan, mencoba meyakinkanku untuk menyetujui rencana ini. "Tidak tanpa kita membuat keributan yang lebih besar dari yang mungkin terjadi sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blood and Destiny
Vampiros[ARUNA SERIES #3] [Young Adult Fiction! Rated for Detailed Violence!] Aruna kini diburu untuk dimusnahkan. Mereka menjadi mangsa bagi predator baru yang lebih ganas dan tidak memiliki akal maupun hati nurani yang diciptakan oleh Yusriza Ganen...
