Banyak kisah yang tersiar tentang para pahlawan perang negara ini. Dikatakan, Dua Belas Pilar bagaikan jelmaan dewa perang dalam pertarungan. Kisah-kisah heroik menyertai karir mereka. Di salah satu kisah, dikatakan Darius Sihombing pernah menyelamatkan satu batalyon Manusia seorang diri dengan korban jiwa minimum. Di kisah lain, Yudhistira diceritakan pernah membunuh lima ratus aruna kelas Generasi Pertama dan Lima aruna kelas Elder seorang diri sementara Arimbi pernah memusnahkan seratus aruna Elder dalam sekali pertarungan.
Kini, dengan mata sendiri, aku menyaksikan kehebatan tiga orang legendaris dalam kisah-kisah itu.
Setelah mendapat serangan yang memalukan dari pak Darius, Yudhistira tidak tinggal diam di tanah. Tanpa takut, Yudhistira mencengkam pedang dan lengan pak Darius, dan melempar tubuh beliau dengan mudah dari atas tubuhnya. Sayang bagi Yudhistira, Pak Darius tidak tampak banyak terpengaruh oleh serangan itu kendati tetap terlempar ke udara karenanya.
Saat pak Darius masih melayang di udara, Arimbi tiba-tiba muncul di belakang beliau. Meski tubuhnya berdarah-darah karena serangan pertama pak Darus, wanita itu masih bisa menghunuskan pedang dengan kecepatan yang tak berkurang sedikit pun. Seperti sebelumnya, pak Darius mampu menangkal serangan itu dengan sebilah pisau yang ditarik langsung dari bagian dalam lengan bajunya.
Sementara pak Darius sibuk sudah teralih dan sibuk menghadapi Arimbi, diam-diam dan selihai angin, Yudhistira menerjang pak Darius sekali lagi tepat dari belakang.
Suara pedang berdenting berdengung panjang dalam telingaku yang terpaksa mendengar dari jarak dekat.
"Maaf...." ucapku sembari menatap Yudhistira lekat-lekat. "Tapi, Ayah, urusan kita belum selesai."
Yudhistira mendelikku tak senang. Matanya menatap dingin kedua pedang kami yang saing beradu, memberiku firasat kematianku akan lebih sulit dua kali lipat dari sebelumnya jika sampai mengalah lagi. Pedangnya terus menekan pedang milikku, berniat sepenuh hati untuk menyingkirkanku dari pertarungan.
Sayang baginya, butuh tekanan lebih dari ini untuk bisa membuatku melepaskan pedang ini.
Aku menekan lebih kuat, mengundag raut keterkejutan yang menggelikan dari Yudhistira selama sekejap. Kelengahan pria itu memberikukesempatan untuk memutar ayunan berhasil mementalkan pedang Yudhistira dalam sekali percobaan. Tidak sampai di sana, kakiku ikut menendang tubuh Yudhistira sejauh mungkin, memperkecil kemungkinannya melakukan serangan balasan.
Di belakang, ikut terdengar suara denting pedang dan hantaman.
Aku berputar, melihat Arimbi sekali lagi sudah tergeletak di tanah. Cekungan yang tampak di sana menandakan betapa serius serangan yang diterima wanita itu barusan.
Sepertiku tadi, pak Darius menghampiri Arimbi, berniat untuk melakukan serangan yang aku tahu, akan menjadi serangan penghabisan sekali dan untuk selamanya.
Buru-buru aku mendekat dan merentangkan pedang, merintangi jalan pak Darius yang baru saja akan menghampiri Arimbi.
Tidak ada respon berarti dari pak Darius. Beliau bahkan tidak mencoba menyingkirkan pedangku dengan paksa.
"Tolong biarkan saya yang selesaikan ini ... Pak."
Sementara pak Darius terdiam, lima meter di sana, Arimbi mencoba kembali bangkit. Darah yang semakin banyak di wajahnya tidak membuat wanita itu tampak mengenaskan. Sebaliknya, ia tampak lebih mengerikan dan mematikan. Alasan utamanya tentu saja karena aku tahu tidak ada luka sama sekali di balik semua itu.
Jika ada, dia tidak akan sanggup berdiri kembali sambil menyeringai penuh kebencian begitu padaku.
"Jangan berani memalingkan wajah dari lawanmu." Suara Yudhistira yang dingin nan bengis terdengar di belakang. Dekat sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blood and Destiny
Vampire[ARUNA SERIES #3] [Young Adult Fiction! Rated for Detailed Violence!] Aruna kini diburu untuk dimusnahkan. Mereka menjadi mangsa bagi predator baru yang lebih ganas dan tidak memiliki akal maupun hati nurani yang diciptakan oleh Yusriza Ganen...
