52. Ratna: Left Behind

870 131 98
                                        

Aku tidak bisa bernapas. Tidak bisa berpikir. Tidak bisa melakukan apa pun yang membutuhkan aktivitas otak. Seluruh tubuhku lumpuh. Seluruh tulangku menguap. Dan seluruh akal sehatku terbang entah ke mana.

Adegan ketika bunga api itu menelan Evan terus menerus diputar di otakku yang tidak pernah didesain untuk lupa.

Paru-paruku ditekan dari dalam. Sesak dan sakit melarut, menjadi sesuatu yang tidak bisa dipahami. Segalanya carut-marut di tengah pikiran yang tidak mau menurut.

"Itu namanya rasa sakit."

Tanganku yang terasa ringkih mengepal kuat. Air busuk beracun dan berbau darah dan mayat-mayat yang bergelimpangan tidak pernah muncul dalam pandanganku. Kegagalan itu sekali lagi berputar, lalu sekali lagi, dan sekali lagi. Benakku telah lelah menghitung. Dadaku terlampau sesak untuk mengambil napas. Namun seluruh potongan adegan itu masih menyiksaku tanpa ampun.

Aku telah gagal. Tidak peduli dilihat dari sisi mana pun, aku telah gagal menjaga satu-satunya yang tersisa bagiku dari hari itu. Kini sepenuhnya semua menjadi salahku. Tidak ada alasan lagi untuk berlindung. Hanya ada penghakiman tanpa akhir dan keadilan yang tidak pernah datang.

Semua karena kesalahan pilihanku sedari awal. Tanganku memberi ampun kepada orang yang seharusnya mati, sebagai bayarannya, orang-orang yang seharusnya hidup justru mati. Mereka yang seharusnya dapat hidup bahagia, malah hidup menderita. Mereka yang seharusnya hidung tenang, justru berkabung dalam nelangsa.

Meski demikian, tidak ada penghakiman yang aku terima.

"Terima kasih."

Satu-satunya orang yang seharusnya menyalahkanku malah mengucapkan terima kasih. Dengan senyum itu. Dengan wajah tenang itu. Walaupun tubuhnya dilalap api, walaupun ia tahu nyawanya hanya tinggal sekejap mata, walau ia tahu kematiannya tidaklah baik dan tanpa rasa sakit, Evan masih saja mengusahakan diri untuk tersenyum sampai detik terakhir.

Bukankah itu tolol?

Untuk apa ia berterima kasih padaku? Pada sesuatu sepertiku, yang telah dengan keji merenggut semua keluarga, teman, dan sisa harta apa pun yang ia miliki di dunia ini? Kenapa dari semua orang, ia cinta padaku? Kenapa dari semua kemungkinan, ia memilih untuk tidak menyerah padaku? Bukankah jika ia ikut membenci, ikut menutup mata dan telinga, dan ikut lari ketika semua konflik ini muncul, dia akan tetap hidup?

Kalau begitu ... apakah ... jika sejak awal aku tidak memilih pilihan itu ... semua ini tidak akan terjadi?

Satu tangan menyentuh bahuku. Aku menoleh, mengernyit heran ketika yang bisa dilihat mataku hanyalah siluet kabur dari wajah Albert yang kerap timbul-tenggelam dalam kanvas warna merah dan hitam yang tampak memilukan. Aku mengerjap lalu menatap kedua tangan sendiri. mencoba membetulkan pandangan yang buram.

Air mata.

Ini bukan air mata karena debu. Iritasi tidak pernah dibarengi sesuatu yang menyesakkan dada.

Ini air mata yang keluar karena ... aku menangis.

Baru dua puluh tahun dari kali terakhir aku menangis dan konyolnya, penyebab kedua tangisan itu sama.

Sebuah kehilangan ... kehilangan yang sangat besar.

Segera tanganku menghapus semua sisa air mata itu. Lucu sekali orang yang merasa tidak memiliki apa-apa sepertiku menangis karena merasa kehilangan.

"Kita tidak punya waktu, Ratna."

Saat aku mendongak, Albert telah berdiri. Dengan menakjubkan, pemuda itu masih bertekad menjadi penuntunku. Tanpa ragu kini mengulurkan tangan kepadaku.

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang